8 Februari 2009

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 8 Februari 2009

TAFSIR AL BAQARAH : 102

(Bagian 4: Prinsip-Prinsip Ruqyah)

Ustadz : Sambo

 

Kajian tentang sihir dimaksudkan, pertama adalah agar kita tidak mengerjakannya, tidak melibatkan diri pada hal-hal yang berkaitan dengan sihi, dan kedua agar kita tidak terkena sihir, mencegah agar tidak kena sihir, membentengi diri; karena pencegahan itu lebih baik daripada mengobati, dan ketiga adalah syukur-syukur kita bisa mengobati seorang yang terkena sihir.

Ada hal-hal prinsip yang harus diketahui, terutama bagi orang yang akan mengobati atau orang yang akan melakukan ruqyah (pengobatan Islam) yang dicontohkan oleh rasulullah, yaitu bagaimana caranya mengobati orang yang terkena sihir atau orang yang kemasukan jin, baik kemasukan dalam arti kesurupan (terlihat kemasukannya seperti yang ditandai oleh perbuatan-perbuatan yang aneh-aneh) atau kemasukan yang sifatnya tidak kelihatan. Dalam hadits dinyatakan bahwa syaitan itu masuk ke dalam tubuh manusia mengalir mengikuti aliran darah manusia. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

1. Ruqyah bagian dari doa

Ruqyah itu arti sederhananya adalah mantra, yaitu mantra-mantra yang diperbolehkan. Prinsip yang pertama bahwa ruqyah itu adalah bagian dari doa. Kalau doa itu bersifat umum: minta rejeki, minta jodoh, dll; sedangkan ruqyah adalah doa yang bersifat khusus berkaitan dengan masalah-masalah sihir. Karena ruqyah itu doa, maka semuanya harus dikembalikan kepada Allah SWT. Dengan demikian adab-adabnya pun tidak jauh berbeda dengan berdoa: disunnahkan berwudhu dulu (baik orang yang meruqyah maupun orang yang diruqyah), sebab syaitan itu terbuat dari api dan ia akan kalah dengan air.

2. Manjur kalau dilakukan dengan yakin

Karena ruqyah itu adalah bagian dari doa, maka ia akan manjur kalau dilakukan dengan yakin, mantab, baik orang yang mengobati maupun yang diobati. Jangan sampai yang mengobati yakin, tetapi yang diobati tidak yakin, maka tidak akan menyambung; demikian pula sebaliknya. Jangan sampai mempunyai pikiran, “Ah, coba-coba dulu; syukur-syukur nanti manjur”. Harus yakin, karena dalam hadits kita diperintahkan agar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin. Nabi bersabda: Ud’uullaaha wa antum yuqiinuuna bil’ijaabah innalallaha laa yaqbalu do’a biqolbin ghaafiliin wa laain, berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa kalian akan dikabulkan; karena Allah tidak akan mengabulkan doa orang-orang yang lalai. Yang diruqyah pun harus yakin pula. Dalam hadits (qudsi) yang lain dinyatakan: Ana ‘inda dzonni ‘abdihi, Aku (Allah) ini bagaimana keyakinan hambaKu kepadaKu.Artinya, kalau kita yakin kepada Allah, maka akan diberi; tetapi kalau tidak yakin, tidak akan diberi. Jadi meruqyah atau diruqyah itu harus yakin, Bismillah, nabi mencontohkan demikian dan Allah mengajarkan demikian; lakukan dengan yakin.

3. Tawakal

Harus bergantung kepada Allah 100%, tawakal, baik yang mengobati maupun ynag diobati. Kalau yang mengobati, gampang, yang bisa jadi tidak sepenuhnya bergantung harapannya kepada Allah adalah yang diobati, “Ini sembuh karena didoakan oleh ustadz”. Ustadz sebatas seperti dokter saja, tetap hakikat yang menyembuhkan adalah Allah SWT. Mengapa? Agar nanti kalau manjur tidak menjadikannya sombong, “Siapa dulu dong yang mengobati?”. Yang seperti ini adalah sangat berbahaya, kita bisa dikerjain oleh syaitan, baik yang mengobati maupun yang diobati. Yang mengobati bisa pula terkena tipudaya syaitan. Kalau yang diobati bisa diganggu, misalnya, dengan kesurupan, terkena sihir; tetapi yang meruqyah bisa pula disesatkan. Oleh karena itu dalam meruqyah itu harus mantab hatinya. Bisa jadi setelah diruqyah, sembuh. Sebenarnya sembuhnya itu bukan karena kalimat yang dibaca oleh yang meruqyah, karena syaitan ingin menggoda saja, ia pergi. Kemudian yang meruqyah berpikiran, “Wah, mantab juga bacaanku”. Tidak lama kemudian masuk lagi syaitan, terkena sihir lagi; diruqyah lagi, sembuh lagi. Begitu seterusnya, sehingga lama-lama yang meruqyah mulai bangga, merasa hebat, setiap kali meruqyah sembuh.

Dalam kisah Israiliyah diceritakan tentang Barshisho, yaitu seorang yang alim, yang sholih, dikerjain oleh syaitan. Karena sholihnya, maka sampai-sampai syaitan tidak berani menggodanya. Ini terjadi sebelum jaman rasulullah datang. Karena sholihnya Barshisho, sampai-sampai malaikat pun kagum akan kesholihannya, dan syaitan berputus asa. Dulu syaitan bisa naik ke langit, nguping pembicaraan malaikat yang memuji-muji Barshisho. Syaitan mendengar bahwa nanti Barshisho akan mati dalam keadaan syirik. Awalnya syaitan putus asa untuk bisa menggodanya, maka syaitan pun mulai menggodanya dengan metode yang lain lagi, karena selama ini ia salah metode menggodanya. Strategi yang dilakukan oleh syaitan ada dua riwayat. Riwayat yang pertama mengisahkan bahwa seseorang digoda oleh syaitan, kemudian syaitan berwujud manusia dan menyarankan agar datang ke Barshisho. Pada awalnya Barshisho juga tidak tahu bahwa ia bisa menyembuhkan, tetapi karena yang sakit meminta-minta untuk didoakan, akhirnya didoakan, dan sembuh. Orang lain digoda lagi oleh syaitan, dan kena. Syaitan menyarankan lagi agar ia berobat ke Barshisho dan sembuh. Lama-lama banyak orang yang sembuh ketika didoakan oleh Barshisho, padahal itu sebenarnya makarnya syaitan. Tersebarlah bahwa Barshisho bisa mengobati penyakit-penyakit sihir. Akhirnya oleh syaitan dikerjai pula anaknya raja. Anak raja yang cantik tiu akhirnya sakit, dan disarankan untuk berobat ke Barshisho. Berobatlah ia ke Barshisho. Nah, di sinilah syaitan mulai main, ia (dalam wujud manusia) menyarankan kepada raja, “Karena ia sakitnya parah, suruh ia tinggal di tempat Barshisho”. Lama-lama Barshisho tidak kuat godaan ada wanita cantik, masih muda lagi, akhirnya hamillah anak raja itu. Karena anak raja itu hamil, Barshisho malu, dan masuklah syaitan ke dalam diri Barshisho: “Apa kata orang, Barshiso yang sholih itu telah menghamili anak raja; maka bunuh saja, toh tidak ada yang tahu”. Akhrinya anak raja itu dibunuhnya, dikubur di belakang rumahnya. Sudah berzina, besar dosanya; membunuh pula, bertambah besar lagi dosanya. Karena anaknya hilang, lama-lama raja mencari-cari. Dikatakan oleh Barshisho bahwa anaknya sudah pulang, tetapi di istana tidak ada. Syaitan pun muncul lagi, “Anakmu tidak pulang, tetapi dibunuh oleh Barshisho, coba periksa di belakang rumahnya”. Setelah dibuktikan, ternyata benar bahwa anaknya telah dibunuh Barshisho, akhirnya dihukum matilah Barshisho. Sebelum dihukum mati, syaitan muncul lagi dalam bentuk manusia di hadapan Barshisho, “Barshisho, aku bisa menyelamatkanmu, hanya syaratnya kamu harus menyembah kepadaku”. Kata Barshisho, “Bagaimana aku bisa melakukan itu, sedangkan badanku diikat seperti ini?”. Kata syaitan, “Cukup engkau anggukkan kepalamu saja bahwa itu adalah permintaanmu kepadaku, maka akan selesailah masalahmu”. Kata Barshisho, “Saya tidak mau, itu adalah perbuatan syirik”. Kata syaitan, “Tidak apa-apa, nanti setelah engkau selamat, engkau bisa bertaubat dan beribadah lagi”. Akhirnya apa yang disarankan oleh syaitan itu dilakukannya, dan tertawalah syaitan; datanglah algojo untuk menghukum mati Barshisho, akhirnya ia mati dalam keadaan syirik. Walaupun ini kisah Israiliyah, tetapi pelajarannya dapat kita ambil.

Dalam riwayat yang lain dikisahkan bahwa cara menggodanya adalah syaitannya berbentuk manusia yang alim, syaikh. Bertamulah ia ke rumah Barshisho. Ia pintar, ketika di rumah Barshisho, ia ibadah terus, puasa terus menerus. Akhirnya Barshisho kagum, “Hebat sekali orang ini,
aku kalah ibadahnya”. Barshisho mulai terkena gangguan syaitan. Maka syaitan yang berwujud syaikh pun berkata, “Aku ini dulu, sebelum seperti ini, adalah pendosa besar. Kemudian aku bertaubat. Karena taubat itulah akhirnya aku bisa seperti ini. Kalau engkau ingin seperti aku, maka berbuat dosalah dulu, kemudian bertaubat, nanti akan mantab taubatmu”. Kata Barshissho, “Kalau begitu aku harus bagaimana, sedangkan aku tidak mau berbuat dosa”. Kata syaitan, “Kalau begitu berzinalah”. Kata Barshisho, “Aku tidak mau, itu adalah dosa besar”. Kata syaitan, “Kalau begitu kau bunuh orang saja”. Jawab Barshisho, “Aku tidak mau merugikan orang lain”. Syaitan pun mengejarnya, “Kalau begitu kamu cukup mabuk saja, toh itu tidak merugikan orang lain. Tetapi saya sarankan engkau jangan mabuk di sini, sebab nanti apa kata orang kalau Ustadz Barshisho mabuk, dan lakukan pada malam hari. Engkau mabuk di tempat yang saya tunjukkan saja”. Barshisho pun menunjukkan tempat di mana Barshisho bisa mabuk, yaitu tempat penjual tuak di mana penjualnya adalah seorang janda muda yang beranak satu. Akhirnya saran itupun diikuti dan mabuklah Barshisho. Karena mabuk, maka tergodalah ia dengan wanita penjual tuak tadi dan akhirnya dizinailah perempuan itu. Ketika anaknya menangis, dibunuhlah anak itu. Lengkaplah sudah dosa-dosa Barshiso: mabuk, berzina, dan membunuh. Syaitan pintar, akhirnya ditangkaplah Barshisho dan diputuskan dihukum mati. Sebelum dihukum mati, datanglah syaitan berwujud manusia dan akhir dari kisah ini adalah sama dengan riwayat yang pertama, yaitu Barshisho mati dalam keadaan syirik.

Jadi, tawakal itu sangat penting: yang berdoa maupun yang didoakan, agar kalau nanti sembuh, kembali ke Allah, bahwa yang menyembuhkan itu adalah Allah, bukan orang yang mendoakannya. Demikian pula bagi yang mendoakan, kalau yang didoakan itu sembuh, maka itu adalah karena Allah. Banyak orang yang nyasar, baik yang didoakan dan mendoakan, merasa bahwa kesembuhan itu karena doanya. Allah berfirman dalam surat An Nahl : 99:

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaanNya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.

Kalau kita tawakal, maka syaitan tidak akan masuk, dan tidak akan bisa menjebaknya. Tentang tawakal ini ada cerita, seorang ustadz dikirim ke daerah Dayak untuk berdakwah. Dayak itu terkenal dengan sihirnya, kalau orang masuk ke sana dan tidak kuat, akan terkena. Ustadz yang dikirim ke sana tembus pula oleh sihir orang sana, ysitu setiap ia mau ceramah, ia terkencing-kencing (beser) terus. Padahal ia sudah berdoa, tetapi tembus juga, walaupun dikerjainnya hanya beser saja, bukan yang macam-macam. Akhirnya ustadz tersebut bertanya kepada gurunya tentang kejadian itu dna diceritakan bahwa sudah berdoa macam-macam dan membaca ayat kursiy juga. Kata gurunya, “Mungkin satu kesalahanmu, yaitu kamu belum tawakal kepada Allah”. Ustadz tersebut masih ragu, apakah mungkin nanti tembus oleh sihir. Masih ada terbersit di hatinya keraguan itu. Harus yakin bahwa kalau Allah menyatakan tidak kena, pasti tidak kena. Kalau sudah tawakal 100%, tidak ada lagi keraguan, isinya Allah akan aman. Setelah ia menata kembali ketawakalannya dan berangkat lagi ke sana, tidak pernah tembus oleh sihir lagi. Memang syaitan itu terus mengganggu, ditakut-takutinya orang agar menjadi ragu dan tidak tawakal; “Oh, ia itu sakti, sulit untuk mengalahkannya, walaupun dengan bacaan-bacaan”. Orang yang mengobati maupun yang diobati harus 100% tawakal kepada Allah. Oleh karena itu kita pun harus berlatih untuk tawakal kepada Allah.karena kita pun belum tentu berani kalau disuruh terjun langsung ke lapangan seperti itu, karena tidak terbiasa menghadapinya. Kita kalau tiba-tiba diterjunkan ke tempat tukang santet, belum tentu pula berani. Karena tidak terbiasa menghadapi yang demikian, hati ini bisa gentar juga.

4. Ikhlas

Kalau akan meruqyah, maka harus ikhlas, jangan ada niat dunia. Kalau ada niatan dunia, tidak akan bisa. Kalau sudah selesai meruqyah lalu ada orang memberikan sesuatu, maka itu boleh saja; yang penting jangan ada niatan untuk dunia. Jangan berpikiran, “Wah, ini yang sakit anak orang penting, mantap juga nich kalau nanti sembuh”. Orang yang ikhlas itu tidak dapat digoda oleh syaitan. Syaitan itu hanya tidak bisa menggoda orang yang tawakal dan ikhlas. Kalau ada niatan dunia, maka tidak akan manjur. Mengapa? Karena doa itu adalah ibadah. Ibadah itu akan diterima kalau ikhlas. Kita lihat dalam surat Ash Shaad : 82-83:

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka[1304].

[1304] Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.

Kalau yang mengobati tidak ikhlas, maka ia bisa dikerjain syaitan, setelah diobati terkena lagi. Diobati sembuh, kena lagi, diobati lagi. Akhirnya buka praktek. Pada jaman nabi tidak ada yang membuka praktek seperti yang demkian itu. Kalau sudah membuka praktek, maka nanti akan ada tarifnya. Dalam hadits dinyatakan bahwa orang yang langsung bisa masuk surga adalah tidak minta diruqyah. Setelah meruqyah ada orang yang memberi, maka tidak ada masalah. Dalam hadits diceritakan bahwa ada sahabat yang meruqyah, setelah itu ia diberi kambing oleh orang yang diruqyah, lalu bertanya kepada Nabi apakah pemberian itu diterima. Kata nabi, “Saya juga mau kalau diberi daging kambingnya”. Niat awalnya memang harus ikhlas, setelah itu memberi sesuatu boleh diterima. Sekarang ini banyak orang yang tersesat, makin lama makin menjauh dari Allah, makin musyrik, malah diekspose di TV. Yang seperti ini sangat mudah dikerjain oleh syaitan. Bisa jadi ia dikerjain oleh syaitan itu bukan berarti ia terkena santet, akhirnya menjadi tersesat yang mengobati, nyasar. Karena makin nyasar, lama-lama syaitan berkolaborasi dengannya, sebenarnya orang ini tidak sakit, akhirnya dikerjain syaitan, akhirnya berobat kepadanya. Yang diobati dikerjain syaitan, akhirnya menjadi kawan syaitan dan yang diobati pun menjadi kawan syaitan, setelah itu syaitan pergi. Makin lama orang yang datang makin banyak.

5. Yang terbaik adalah meruqyah diri sendiri

Yang terbaik adalah meruqyah diri sendiri. Kalau ada yang sakit, yang terbaik adalah mengajarkan ruqyah kepada orang yang sakit itu untuk meruqyah dirinya sendiri. Kalau kita merasa terkena gangguan syaitan, usahakan untuk tidak minta diruqyah, tetapi minta diajarkan bagaimana caranya meruqyah, agar bisa meruqyah diri sendiri. Kalau kita meruqyah diri sendiri, maka kita mengetahui benar tidaknya, kita mengetahui apa yang kita baca. Kalau diruqyah oleh orang lain, kita tidak tahu apa yang dibacanya. Kalaupun terpaksa kita minta diruqyah, kita harus sama-sama melakukannya; kalau yang meruqyah berdoa, kitapun berdoa dengan bacaan yang sama: ia membaca falaq-binnaas, kita membaca pula falaq-binnaas, ia membaca ayat kursiy, kita juga membaca ayat kursiy. Demikian pula kalau kita mengobati, yang kita kerjakan juga diminta untuk dikerjakan oleh orang yang diobati. Pertama, kita membaca basmallah, yang diobati pun membaca basmallah. Selanjutnya kita membaca qul-hu, ia pun diminta membaca qul-hu, dst. Dengan demikian yang diobati juga akan mengetahui bagaimana cara mengobati, agar kelak bisa mengerjakannya sendiri, agar kita maupun yang diobati tidak terjerumus, agar kalau sakit mengetahui apa yang harus dilakukan. Misalnya, anak kita terkena sihir, kita belum bisa mengobatinya, maka kita harus ikut membaca bagaimana meruqyahnya, jangan dibiarkan, karena kita tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh orang itu:; misalnya, tiba-tiba orang yang meruqyah itu membaca sesuatu yang tidak jelas, “Fuh-fuh-fuh, …..”, harus ditanyakan apa yang dibacanya.

Jadi, kala
u kita meruqyah, maka yang diruqyah diminta bareng membacanya; demikian pula kalau terpaksa minta diruqyah, kita pun harus bareng membacanya. Dengan begitu, pertama, pada dasarnya itu adalah meruqyah dirinya sendiri, yang meruqyah itu fungsinya hanya sebagai katalisator saja. Kedua, orang yang diruqyah menjadi belajar. Ketiga, kalau ada yang salah kita bisa mengetahuinya. Kalau ada bacaan yang salah atau tidak tahu, bisa ditanyakan. Yang dibaca harus jelas. Kalau bacaannya tidak jelas, tinggalkan; itu berbahaya.

6. Doa ruqyah tidak hanya untuk sihir

Doa-doa ruqyah itu bukan hanya untuk penyakit-penyakit sihir, tetapi juga untuk penyakit-penyakit yang lain. Makanya dokter pun harus diajarkan pula bagaimana prinsip dan teknis meruqyah. Salah satu doa meruqyah, misalnya, adalah membaca: A’udzu bikalimati taammah min syarri maa kholaq, aku berlindung kepada kalimat Allah yang mulia dari keburukan semua ciptaan Allah. Keburukan semua ciptaan Allah itu termasuk pula virus, penyakit, kanker, dlsb; bukan hanya syaitan saja. Demikian pula surat Al Falaq:

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya,

Kejahatan makhluk itu adalah apa saja ciptaan Allah, termasuk penyakit. Dipatuk ular, digigit kalajengking; silahkan baca doa ruqyah. Tetapi harus diingat bahwa ini hanyalah wasilah. Untuk penyakit-penyakit yang sifatnya manusiawi atau bersifat fisik atau alamiah, tetap menggunakan obat-obat yang bersifat alamiah, sebagaimana sabda nabi: antum a’lamu biumuri dunyakum, kalian lebih mengetahui urusan duniamu. Kalau sakit kepala, misalnya, baca doa ruqyah dan minum obat sakit kepala. Ruqyah itu bersifat menambah saja. Misalnya lagi, kalau dipatuk ular, baca doa ruqyah, tetapi ingat harus berobat dulu, berobat serum anti bisa. Jangan sampai begitu dipatuk ular, berpikiran, “Ah, saya sudah baca doa ruqyah”, mati! Kecuali kita dipatuk ular di suatu tempat yang kita tidak tahu obatnya, maka itu lain, bimillah gunakan apa adanya dan bacakan ruqyah. Hadits yang menyatakan bahwa hendaknya kita meruqyah diri kita jika terkena sesuatu itu pada konteks apa itu dilakukan, yaitu pada konteks di mana tidak ada obatnya.

Dalam hadits lain nabi menyuruh bahwa kalau sakit, maka berobatlah. Kalau ada serum, pakailah serum itu, baru kemudian membaca doa ruqyah. Jangan menjadikan ruqyah itu hal yang utama, tetapi sunnatullahnya harus ditempuh. Kalau untuk penyakit-penyakit yang sifatnya alamiah, maka kita harus tetap berobat secara alamiah, kimiawi: ke dokter. Jangan percaya pada pengobatan-pengobatan seperti yang disiarkan di TV dengan pengobatan alternatif, seperti pengobatan ala Haryono. Kalau dilakukan testimoni, misalnya, berapa orang yang berobat padanya yang sembuh dan tidak sembuh? Mana ada orang yang tidak sembuh bicara? Yang ditonjolkan adalah orang-orang yang “sembuh”, dan kita tidak tahu siapa yang menyatakan bahwa ia memang sembuh? Atau jangan-jangan kesembuhan itu sebenarnya adalah akumulasi dari obat yang ia makan? Misalnya, ia sudah sekian ama berobat, belum sembuh; kemudian berobat ke alternatif itu lalu sembuh. Sebenarnya sembuhnya itu hanya masalah waktu saja, sekian lama waktu berobat itu memang belum memberikan dampak kesembuhan, pada saat berobat ke alternatif itulah sebenarnya efek obat itu memberikan kesembuhan. Jadi, berobat ke alternatif itu membahayakan akidah kita. Kalau berobat, ikutilah sunnatullahnya, ruqyah itu hanya sebatas mempercepat, menjadi wasilah: sarana mempercepat doa terkabul. Kalau lapar, misalnya, apa obatnya? Makan! Jangan membaca doa, tetapi makan!

Itulah prinsip-prinsip ruqyah. Kalau masalah teknis meruqyah, itu urusan yang mudah. Sama dengan dokter: memberikan obat itu mudah, yang sulit adalah mencari ilmu kedokteran itu. Yang berat itu adalah prinsip-prinsipnya, bukan teknisnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: