1 Februari 2009

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 1 Februari 2009

TAFSIR AL BAQARAH : 102

(Bagian 4: Sihir)

Ustadz : Sambo

 

Kajian tentang sihir ini dimaksudkan, pertama adalah agar kita tidak melakukan sihir, dan kedua agar kita tidak terkena sihir, dan ketiga adalah syukur-syukur kita bisa mengobati seseorang yang terkena sihir.

1. Tidak melakukan sihir

Yang paling utama adalah bahwa kita tidak boleh melakukan sihir, karena sihir itu adalah perbuatan yang akan menjerumuskan kita kepada kekufuran dan kemusyrikan. Oleh karenanya jangan sampai kita merusak iman dan amal-amal kita dengan perbuatan sihir. Mengapa? Karena kalau kita mati dengan membawa penyakit kufur atau syirik sebelum kita bertaubat kepada Allah SWT, maka rusaklah seluruh amal yang telah kita lakukan. Oleh karenanya larangan berbuat sihir itu adalah harga mati, tidak boleh dikerjakan; termasuk juga tidak boleh meminta tolong kepada orang yang menggunakan sihir, meskipun dosanya “sedikit lebih rendah” daripada melakukan, tetapi tetap itu terlibat dengan sihir.

Kita dilarang untuk meminta tolong kepada orang-orang yang menggunakan sihir, apakah itu dukun, para normal, orang pintar, atau istilah masa kini adalah pengobatan alternatif. Banyak pengobatan alternatif yang menggunakan sihir, menggunakan kekuatan-kekuatan jin/syaitan. Gara-gara ingin sembuh, jangan minta bantuan kepada dukun atau alternatif. Sering kali permintaan bantuan kepada dukun itu dibungkus dengan kalimat atau pendapat-pendapat yang sepertinya benar, padahal itu adalah salah. Misalnya, apa bedanya ke dukun dengan ke dokter? Kan sama saja, itu kan juga usaha. Toh ini juga bagian dari ikhtiar, toh kita juga disuruh berikhtiar oleh Allah. Demikianlah kalimat-kalimat yang sering dikemukakan sebagai alasan untuk meminta bantuan ke dukun. Kalau itu juga dikatakan sebagai salah satu ikhtiar, itulah perbedaan, misalnya, antara menarik becak dengan mencopet. Keduanya sama-sama berusaha. Memangnya mencopet itu tidak memerlukan usaha? Tidak berikhtiar? Bahkan, dikatakan, mencopet itu dengan membaca ”bismillah” agar mencopetnya manjur. Jangan dengan alasan itu adalah ikhtiar, kita melakukannya. Tidak semua ikhtiar itu diperbolehkan oleh Allah SWT. Sama-sama berikhtiar, kita diperbolehkan ke dokter, meminum obat yang wajar; tidak ada masalah, dan memang demikianlah perintahnya. Jadi, jangan gara-gara alasan itu adalah ikhtiar, kita berobat ke dukun. Tidak boleh demikian.

2. Tidak terkena sihir

Tujuan mengkaji masalah sihir berikutnya adalah agar kita tidak terkena sihir, tidak terganggu oleh sihir. Sama dengan penyakit, maka kita harus berjaga-jaga, harus membentengi diri kita agar kita tidak terkena sihir. Sebenarnya ini bukan hanya menyangkut sihir, termasuk dengan penyakit-penyakit biasa pun kita disuruh untuk membentengi diri: menjaga kesehatan. Allah berfirman dalam surat Al Maidah : 105

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[453]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

[453] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat petunjuk. tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Siapa saja yang tersesat, termasuk jin-jin yang tersesat, tidak bisa memberikan mudhorot kepada manusia, kalau manusia sudah mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Yang dimaksud mudhorot adalah baik itu yang mengganggu dalam kehidupan kita, juga mudhorot dalam hal-hal yang sifatnya non fisik. Oleh karena itu kita diperintahkan untuk menjaga diri. Bagaimana cara menjaga diri tersebut, itulah pokok bahasan pada kajian ini. Hanya saja bedanya kalau penyakit fisik kita menjaga kesehatan fisik, tetapi kalau penyakit ruhan, maka kita menjaganya juga secara ruhani. Kalau kita tidak ingin ruhaninya sakit, maka kita harus menjaga dan menghindar dari penyakit-penyakit ruhani, di antaranya adalah sihir, terkena santet, mendatangi dukun, percaya kepada paranormal, percaya alternatif-alternatif yang bisa merusak iman. Dalam ayat dinyatakan bahwa kalau kita datang kepada dukun dan kita percaya kepadanya, maka sungguh kita telah kafir. Dalam hadits dinyatakan rusaklah shalat kita dan tidak diterima doa kita selama 40 hari, kalau kita tidak bertaubat. Bagaimana cara menjaganya?

a. Menjaga ruhani

Secara umum, sebagaimana menjaga suatu penyakit, maka yang harus dilakukan adalah menjaga ruhani atau jiwa. Kalau jiwanya sehat, maka tidak akan terkena penyakit ruhani. Dalam surat An Nahl : 99-100:

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaanNya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.

Sesungguhnya kekuasaanNya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya Jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

Yang dikuasai oleh syaitan, dipengaruhi oleh syaitan, diganggu oleh syaitan; adalah orang-orang yang ruhaninya sakit; sedangkan orang yang ruhaninya sehat, maka ia akan terhindar dari penyakit ruhani. Yang dimaksud dengan ”kekuasaan” syaitan itu adalah bisa menyantetnya atau menggodanya: menggoda untuk berbuat macam-macam. Kalau masalah santet, itu ada hubungannya dengan kolaborasi antara syaitan dengan manusia. Tidak ada syaitan yang secara tiba-tiba menyantet manusia. Tidak ada jin yang ujug-ujug mengganggu manusia. Itu namanya jin yang kurang kerjaan, pasti ada yang berkolaborasi dengan manusia yang hasad. Syaitan itu pekerjaannya adalah untuk menggoda manusia. Kalau manusia tidak mau digoda, syaitan tidak bisa memaksanya, misalnya, dengan mencekeknya. Allah hanya mengijinkan syaitan menggoda manusia; kecuali berkolaborasi dengan manusia yang hasud atau hasad. Surat Al ’Falaq itu kaitannya adalah dengan orang yang hasud:

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul[1609], dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

[1609] Biasanya tukang-tukang sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut.

Karena dengki (hasad) dengan kita, misalnya, akhirnya ia meminta bantuan kepada jin, minta bantuan syaitan, lalu mereka mengganggu kita; barulah itu bisa terjadi. Jadi, tidak ada ceritanya tiba-tiba jin mengganggu manusia. Tidak ada jin yang tiba-tiba mengganggu bayi sebagaimana banyak diceritakan orang. Jangan percaya seperti yang demikian. Namun kita harus berjaga-jaga, siapa tahu ada orang yang hasud, kemudian iseng meminta bantuan kepada jin untuk mengganggu keluarga kita. Yang suka iseng itu adalah manusia, jin tidak bisa iseng.

b. Taqarrub kepada Allah

Kita harus mendekatkan diri kepada Allah, yaitu melakukan yang terbaik ibadah kepada Allah. Ibadah itu bagaikan makanan. Kalau makanannya baik, maka ruhaninya juga baik, tetapi kalau ibadahnya tidak baik, maka ruhaninya juga tidak baik. Yang dimaksud denan taqarrub ini terutama adalah menjalankan ibadah yang wajib-wajib. Prinsip taqarrub ini adalah menyempurnakan yang wajib-wajib, bukan hanya mengerjakan: sempurnakan shalat wajib (bukan sekedar mengerjakan), sempurnakan puasa ya
ng wajib, zakat yang wajib juga sempurnakan, sempurnakan haji bagi yang mampu, sempurnakan menutup aurat bagi ibu-ibu, dsb; baru setelah itu ditambah dengan yang sunnah-sunnah. Yang sunnah-sunnah itu adalah bersifat menambah, tidak boleh dipaksa, dilakukan senikmat mungkin. Tetapi kalau untuk yang wajib, harus dilaksanakan, harus dipaksa; tetapi untuk yang sunnah jangan dipaksa, lakukan mana yang nikmat agar tidak bosan. Kalau senangnya adalah shalat sunnah, silahkan dikerjakan. Kalau nikmatnya adalah shalat malam, silahkan dikerjakan. Kalau senangnya adalah puasa sunat, silahkan kerjakan. Senangnya adalah infaq yang sunnah-sunnah, silahkan kerjakan. Melakukannya jangan terpaksa. Kalau mengerjakannya terpaksa, maka nanti akan bosan. Jangan semua yang sunnah-sunnah dikerjakan: shalat dhuha, shalat malam, puasa sunnah. Kalau itu dikerjakan dengan enjoy, silahkan dikerjakan, tetapi jangan gara-gara mengerjakan yang sunnah-sunnah, yang wajib menjadi terbengkalai. Misalnya, ingin shalat malam, tetapi shubuhnya bablas. Jangan begitu! Jangan sampai gara-gara shalat malam, akhirnya tidak bisa shalat shubuh ke masjid. Nabi bersabda bahwa shalat shubuh di masjid dengan berjamaah, sama nilainya dengan shalat malam penuh. Kalau gara-gara shalat malam, lalu tidak bisa shalat shubuh di masjid berjamaah, maka itu adalah rugi. Berapa kuat kita bisa shalat malam? Paling hanya satu-dua jam, tetapi shalat shubuh di masjid berjamaah, nilainya adalah sama dengan shalat seluruh malam. Shalat Isya’ berjamaah di masjid, nilainya sama dengan separoh malam. Jadi, kalau kita shalat Isya’ di masjid dan shubuh juga di masjid, berarti sama nilainya dengan shalat satu setengah malam. Jadi, wajib itu kalau dikerjakan dengan sempurna, kalah semua yang sunnah-sunnah. Jangan sampai gara-gara mengerjakan yang sunnah, yang wajib tertinggal. Misalnya, gara-gara puasa sunnah, bekerja menjadi letoy. Bekerja itu wajib, mencari makan itu wajib, sedangkan puasa sunnah itu tidak wajib; maka batalkan puasanya, bekerja dengan penuh semangat, kerjakan yang wajib. Kecuali puasa wajib, maka tidak boleh dibatalkan, meskipun lemas tetap dikerjakan. Yang sunnah-sunnah jangan mengalahkan yang wajib. Demikian pula, misalnya, i’tikaf yang hukumnya sunnah, sedangkan mencari makan hukumnya adalah wajib bagi yang tidak mempunyai uang. Tykang becak, misalnya, yang hari itu makannya dicari hari itu juga, maka silahkan tarik becak, jangan i’tikaf! Tetapi kalau sudah mempunyai uang segepok, lakukan i’tikaf! Ada yang mengatakan, ”I’tikaf kan tidak wajib, sedangkan bekerja, mencari uang adalah wajib”. Benar, wajib bagi yang tidak mempunyai uang, yang untuk makan hari itu harus dicari dulu; tetapi kalau sudah mempunyai tabungan untuk makan, i’tikaflah! Jadi, lakukan yang sunnah itu se-enjoy mungkin, dahulukan yang wajib. Kalau qomat sudah dikumandangkan, misalnya, shalat sunnat dihentikan meskipun belum selesai. Ada orang yang ketika qamat sudah dikumandangkan terus menyelesaikan shalat sunnahnya. Tidak bisa demikian, kalah shalat sunnahnya; batalkan!

c. Menghindarkan hal-hal yang dilarang

Ruhani yang sehat itu bisa diperloeh dengan meninggalkan hal-hal yang dilarang, terutama yang haram (harus ditinggalkan 100%). Apakah rokok termasuk yang haram? Semua sepakat bahwa rokok itu merusak kesehatan. Yang makruh-makruh sebaiknya ditinggalkan, semampunya; seperti yang sunnah sebaiknya dilaksanakan semampunya. Kalau kita mampu meninggalkan rokok, maka meninggalkannya lebih baik. Ulama mengeluarkan fatwa haram tentang rokok itu memakai syarat: haram bagi kondisi-kondisi tertentu.

d. Jangan mengumbar hawa nafsu

Untuk mendapatkan ruhani yang sehat, maka jangan mengumbar hawa nafsu, jangan berlebih-lebihan, jangan bermegah-megahan. Mengumbar hawa nafsu itu adalah kawan syaitan. Kalau sudah menjadi kawan syaitan, akan mudah digodanya. Syaitan itu memang kurang ajar, sudah dijadikan kawan, diganggunya pula manusia yang berkawan itu. Oleh karena itu kita jangan berkawan dengan syaitan. Kalau kita berkawan dengan syaitan, kita diganggunya, dirusaknya akidah kita. Makanya syaitan itu harus dilawan. Seharusnya kalau sudah berkawan, dibantunya, dibelany; tetapi syaitan itu penipu, oleh karena itu jangan berkawan dengannya Oleh karena kita jangan bermewah-meahan, jangan bermubazir-mubaziran; karena itu adalah kawannya syaitan. Dalam surat Al Isro” : 26-27 dinyatakan:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

e. Perbanyak dzikir

Secara lebih khusus, untuk memperoleh ruhani yang sehat, maka kita harus memperbanyak dzikir, ingat kepada Allah, baik dzikir yang berupa lisan, maupun dalam hati. Diucapkan, misalnya: Subhanallah wal hamdulillaah walaa ilaaha illallaah allaahu akbar, dlsb. Mengapa harus berdzikir? Karena orang yang hatinya tidak ingat Allah, peluang syaitan untuk masuk. Orang yang hatinya condong tidak mengingat Allah, syaitan akan masuk. Allah berfirman dalam surat Az Zukhruf : 36-37:

Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.

Orang yang tidak mengingat Allah, maka syaitanlah yang akan teus menerus menjadi pengikatnya, menjadi pengawalnya. Makanya di waktu-waktu senggang kita berdzikir, terutama bagi kaum ibu yang sedang datang bulan; karena tidak bisa shalat. Bagi orang yang sedang datang bulan, diperbolehkan berdzikir. Jangan sampai ketika datang bulan tidak shalat, tidak dzikir; ini berbahaya. Banyak kaum ibu yang merasa merdeka ketika datang bulan, karena tidak shalat, tidak puasa; pada hari libur bangunnya siang hari. Padahal meskipun datang bulan, tetap bangun pagi, datangi tempat-tempat pengajian.

Orang yang hatinya selalu ingat Allah tidak akan terganggu oleh syaitan. Orang yang kemasukan syaitan itu adalah orang yang hatinya kosong, banyak melamun. Daripada melamun, lakukan dzikir.

f. Lakukan dzikir setelah shalat

Lebih khusus lagi adalah melakukan dzikir setelah selesai shalat. Dzikir-dzikir setelah shalat kebanyakan adalah ayat-ayat ruqyah, ayat-ayat penolak syaitan. Misalnya, setelah shalat dianjurkan untuk beristighfar. Syaitan paling benci kepada orang yang istighfar. Kalau ingin membuat syaitan sering menangis, maka perbanyak istighfar. Selesai shalat kita dianjurkan untuk membaca ayaatul kursiy. Ini juga termasuk ayat penangkal syaitan. Juga bacaan: allahumma laa mani’a limaa a’thoita walaa mu’thiya limaa mana’ta walaa yanfau minkal dzaat, termasuk doa ruqyah. Demikian pula surat Qulhu-Falaq-Binnaas, surat yang sunnah dibaca setelah shalat, apalagi setelah shalat maghrib dan shalat shubuh dibaca masing-masing tiga kali, kalau di luar shalat maghrib dan shubuh, cukup dibaca sekali-sekali. Dibacanya tidak harus di dalam masjid, boleh di mana saja. Demikian pula dzikir sebelum tidur juga akan menjaga ruhani kita: ayaatul kursiy, Qulhu-Falaq-Binnaas.

g. Sering-sering dalam keadaan bersuci

Syaitan sulit menggoda orang yang dalam keadaan berwudhu. Oleh karena itu salah satu cara meruqyah seseorang adalah berwudhu dulu, baik orang yang meruqyah maupun yang diruqyah.

h. Baca ta’awaudz

Kalau merasa ada gangguan-gangguan, misalnya tiba-tiba merasa badan tidak enak, baca ta’awudz tiga kali. Al
lah berfirman dalam surat Fush Shilat : 36

dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Dalam surat Al A’raaf : 200-2001 Allah berfirman:

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah[590].

[590] Maksudnya: membaca A’udzubillahi minasy-syaithaanir-rajiim.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

Kalau orang mengingat Allah, syaitan tidak mempan digoda syaitan. Kalau digoda ketika dalam mimpi, maka kita meludah 3 kali ke arah kiri. Tentu meludahnya tidak sampai mengeluarkan airnya, cukup dengan suaranya. Dalam shalat pun demikian, dianjrkan meludah tiga kali ke arah kiri.

i. Jangan berkawan dengan orang yang lalai dari mengingat Allah

Agar ruhani terjaga, jangan berkawan, jangan bergabung tidak hanya dengan dukun, tetapi juga dengan orang yang lalai. Kalau kita berkawan dengan orang yang lalai dari mengingat Allah, kita akan menjadi lalai pula. Syaitan mudah menggoda orang-orang yang lalai. Kalau kita bergabung dengan orang-orang yang lalai, nanti cenderung bercerita tentang macam-macam: ”Saya kemarin ketakutan, bertemu dengan ini..itu…; bertemu dengan orang pintar…”. Dengan mendengarkan yang demikian, terkena pengaruh godaan syaitan.

Kajian berikutnya adalah membahas bagaimana cara mengobati orang yang terkena godaan syaitan. Salah satu jurus ruqyah, yang terbaik itu adalah meruqyah diri sendiri dan meruqyah orang yang tidak meminta ruqyah. Sebenarnya ruqyah itu tidak boleh diminta. Dalam hadits dinyatakan bahwa salah satu orang yang masuk surga adalah orang yang tidak minta diruqyah. Kalau minta ruqyah itu dilarang (walaupun tidak sampai pada taraf haram) itu menunjukkan bahwa kita harus bisa meruqyah diri sendiri, baik terhadap kita sendiri maupun keluarga kita.

Apakah boleh meruqyah orang yang bukan muslim? Ruqyah itu identik dengan doa. Doa itu tidak diperbolehkan untuk orang di luar Islam, kecuali ia masuk Islam dulu, baru diruqyah. Yang harus diingat adalah bahwa orang yang selama ini kita anggap seperti kesrupan, belum tentu itu diganggu oleh syaitan, karena pada prinsipnya syaitan itu tidak bisa langsung mengganggu manusia, kecuali berkolaborasi dengan manusia. Kalau fenomena kemasukan syaitan, itu masalah lain lagi. Kalau santet itu adalah hasil kolaborasi antara syaitan dengan manusia. Kita tidak pernah tahu apakah seseorang sakit itu karena gangguan syaitan atau tidak, karena itu adalah urusan gaib. Jangan mengklaim bahwa sesuatu itu karena syaitan: ”Saya terkena santet”. Belum tentu itu karena santet. Oleh karena itu sebenarnya doa-doa ruqyah itu bukan hanya untuk urusan santet saja, termasuk sakit biasa pun kita bisa meruqyahnya. Orang yang terpatuk ular, misalnya, bisa diruqyah. Makanya kalimat-kalimat ruqyah itu bukan ditujukan kepada jin. Misalnya doa ruqyah: a’udzu bikalimaati taammmah min syarri maa kholaqa, aku berlindung kepada Allah dengan kalimatnya yang mulia dari keburukan seluruh makhluq. Jadi, ini bukan ditujukan hanya untuk syaitan, tetapi seluruh makhluq. Jadi kita tidka pernah bisa mengatakan, ”Oh, ini terkena jin”, karena ini adalah urusan ghaib. Tetapi kalau mau dicoba, tidak masalah. Oleh karena itu jangan sampai kalau kita meruqyah orang dan tidak sembuh, mengatakan, ”Wah, ini jinnya lebih kuat”. Tidak boleh demikian. Kajian berikutnya termasuk akan dibahas fenomena kemasukan syaitan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: