5 Oktober

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 5 Oktober 2007

  AGAR DOA DIKABULKAN (4)

  Ustadz :  Sambo 

Pada kajian yang lalu kita telah mengkaji bahwa ada 7 langkah untuk menanamkan keyakinan kepada Allah.  Pada kajian ini kita akan mengkaji dalil-dalil dari langkah-lngkah tersebut 

1.  Gaungkan di hati bahwa Allah Maha Pengabul Doa

Gaungkan dalam hati bahwa Allah itu Maha Baik.  Ini diterangkan oleh Allah dalam surat Al Mu’min : 60 :

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

 2.  Gaungkan di hati hati bahwa Allah Maha Baik

Allah itu Maha Baik, tidak pernah ingkar janji.  Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 9:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

 Allah itu Maha Baik, karena Allah memiliki sifat Ar rahmaan dan Ar rahiim; oleh karena itu Allah tidak pernah dzalim kepada hamba-Nya, walaupun seberat zarrah.  Allah berfriman dalam surat Ali Imron : 108:

Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.

 Allah berfirman pula dalam surat An Nisaa’ : 40:

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

 Oleh karena itu, kalau kita minta kepada Allah, mintalah yang baik-baik.  Bahkan permintaan itu dilipatgandakan oleh Allah.  Kalau kita minta kebaikan, di dunia saja sudah dilipatgandakan, apalagi nanti di akhirat, akan diberi lagi pahalanya.  Jadi, permintaan kebaikan itu kita dapatkan dunia-akhirat dan dilipatkgandakan.  Demikian pula, misalnya, kalau kita bersedekah, di dunia kita dilipatgandakan balasannya, di akhirat diberi pula pahalanya. 

3.  Allah Maha Kuasa

Allah itu Maha Kuasa, tidak ada yang mustahil bagi Allah, selalu ada jalan.  Innallaah ’ala kulli syai-in qodiir.  Dalam bahasa yang lain. Allah berfirman dalam surat Al Buruj:

Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

 Ketiga hal tersebut harus selalu digaungkan dan ditanamkan dalam hati kita.  Yang seperti ini disebut pula dzikir hati.  Kalau hati sudah mantap, maka tidak mudah goyang.   

4.  Kalau ada godaan syaitan, lawan!

Bagaimana kalau ada gangguan syaitan?  Lawan! Fight!  Selama ini kita serinya kalau ada gangguan syaitan, kita tidak mau fight.  Yang menggoda itu bisa syaitan yang nampak maupun yang tidak nampak.  Syaitan itu pintar, kalau ia tidak bisa memainkan kita melalui hati kita, maka bisa ia gunakan kawan kita.  Misalnya, kita mempunyai lima kawan, lima-limanya adalah negatif; maka kita bisa jadi ikut mereka; makanya harus dilawan, jangan biarkan ia menggoda kita.  Kalau kita akan perang melawan syaitan, maka bacalah a’udzubillah, sebagaimana firman Allah dalam surat Fushshilat: 36:

Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 Demikian juga firman Allah dalam surat Al A’raaf : 22:

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

 Jadi, kalau ada godaan syaitan, maka lawanlah!  Penyakit kita adalah tidak mau melawannya.  Dalam berdoa, misalnya, bisa diibaratkan seperti halnya gambar di mana yang diminta letaknya di atas, sedang kita yang berdoa adanya di bawah.  Untuk mencapai apa yang diminta itu kita menggunakan tangga, sebagai ”tangga keyakinan”.  Dengan menanamkan dalam hati kita bahwa Allah itu maha baik, itu merupakan tangganya.  Kalau digoda syaitan sehingga kurang yakin, maka pendakian melalui tangga yang telah diperoleh itu bisa turun lagi.  Kalau naiknya lima tangga, tetapi turun lagi lima tangga; jadinya tidak naik-naik.  Ini seperti permainan ”ular tangga”, naik tangga lalu tiba-tiba kena ular, bisa melorot turun lagi; tidak pernah sampai ke tujuan.  Ole karena itu bila ada godaan syaitan, harus dilawan, supaya bisa naik terus.  Kalau digod syaitan lalu mempercayainya dan mengikutinya, akhirnya tidak pernah sampai doanya itu.  Kalau ada orang,misalnya,mengatakan, ”Aku punya masalah seperti kamu; dan aku telah berusaha tetapi ternyata tidak bisa”, maka katakan, ”Kamu memang tidak bisa, tetapi untuk saya belum tentu”.  Jangan sampai, kalau oraa lain tidak bisa, kita merasa tdak bisa pula.  Malah yang lebih repot lagi adalah kalau orang lain bisa, kitanya malah tidak bisa.  Jangan seperti ini: ”Kamu kan lain, kamu kan ustadz”; atau ”Kamu saja tidak bisa, bagaimana saya?”. 

5.  Berulang-ulang

Doa itu harus berulang-ulang.  Kalau perlu seribu kali, lakukan seribu kali; kalau perlu dua ribu kali, lakukan dua ribu kali, atau empat ribu kali.  Mengapa harus berulang-ulang?  Gunanya adalah mungkin pada doa yang pertama, keyakinan kita baru 5%, oleh karena itu diulang lagi supaya keyakinannya bertambah menjadi 10%, 11%, dst, sampai yakin benar 100%.  Dalam peribahasa dikatakan bahwa lancar kaji karena diulang.  Dengan diulang-ulang, hati makin mantap.  Masalah diulang-ulang ini, Nabi Muhammad saja kalau berdoa berulang-ulang.  Misalnya doa Nabi supaya kiblat dipindahkan dari Masjidil Aqsha ke Ka’bah, doanya berulang-ulang, dan baru ketika di Madinah doa itu dikabulkan.  Kita lihat dalam surat Al Baqarah : 144:

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

 Nabi berdoa agar kiblat itu dipindahkan ketika masih di Mekah, dan baru dikabulkan ketika sudah di Madinah.  Karena inginnya Nabi kalau berdoa atau shalat menghadap kiblat Ka’bah, pada waktu kiblat belum dipindah, Nabi kalau berdoa menghadapnya sedemikian rupa sehingga bisa menghadap Ka’bah sekaligus menghadap Masjidil Aqsho; Ka’bah  diposisikan lurus dengan Masjidil Aqsho.  Doa ini dilakukan oleh Nabi berulang-ualng, semenjak di Mekah hingga diwajibkannya shalat di Madinah (sekitar tahun ketiga atau tahun pertama ketika turun surat Al Muzammil; berarti sekitar 15 tahun). Contoh lainnya adalah doa Nabi Zakaria ketika minta anak.  Dikabulkannya adalah pada waktu usianya sudah tua, baru mempunyai anak.  Bersemangat dan keyakinan Zakaria bertambah saat berdoa, yaitu ketika ia mengangkat dan mengasuh Mariam, saat Mariam mendapat makan lari langit.  Ini diceritakan oleh Allah dalam surat Ali Imron: 37 – 41:

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Di sanalah Zakariya mendo`a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do`a”.

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”

Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isterikupun seorang yang mandul?” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.

Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”.

 Yakinnya Zakaria 100% setelah melihat Mariam mendapat makan, ”Ini Mariam yang baru anak-anak saja mendapat makan, masa’ saya sebagai orang tua tidak bisa mendapatkan anak?”, pikirnya.  Kisah ini berlanjut sampai kisah tentang Isa lahir tanpa Bapak.  Ini adalah hal yang ajaib (Ali Imron : 45 – 47):

 (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih `Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),

dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.”

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.

 Dalam salah satu hadits Nabi mengatakan bahwa doa itu akan dikabulkan selama kita itu sabar.  Banyak doa tidak dikabulkan karena tidak sabar.  Makanya dalam Al Qur’an dinyatakan:

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`,

(Al Baqarah : 45).

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Al Baqarah : 153)

 Sabar itu adalah hal yang penting, jangan buru-buru, jangan pernah berhenti, pantang menyerah sampai didapatkan.  Jangan sampai berdoa atas satu hal belum dikabulkan sudah beralih ke permintaan yang lain.  Ibaratnya kuliah di 10 universitas selama 10 tahun, semuanya tingkat satu; tidak akan pernah salesai.  Coba kalau selama 10 tahun itu kuliah di satu universitas, maka sudah bisa menjadi doktor. 

6.  Yang diminta harus jelas

Kita kalau berdoa harus jelas apa yang diminta.  Selama ini kita sering kali kalau berdoa permintaannya adalah mengambang, ”Terserah Engkau”.  Tetapi kalau diberi sedikit ngomel, ini aneh!  Misalnya, berdoa minta rejeki, ”Terserah Engkau”; besoknya mendapat rejeki Rp. 5 ribu; ngomel!  Makanya kalau minta itu harus jelas, supaya hati ini mantap dalam berdoa, karena targetnya jelas, terukur.  Misalnya dalam suatu perusahaan, tidak bisa menyatakan, ”Yang penting terjadi peningkatan penjualan”, tidak bisa demikian.  Harusnya berapa persen target yang ingin dicapai: 50%, 75%?  Ini dilakukan supaya ada semangat untuk berusaha.  Bagi Allah, mudah saja mengabulkan permintaan hamba-Nya, apa saja yang diminta.  Ini gunanya untuk kita yang berdoa, bukan untuk Allah.  Permintaan yang jelas itu untuk mempermudah kita melakukan evaluasi apakah doa kita sudah terkabul atau belum. Nanti ada introspeksi, misalnya, ”Ya Allah, saya minta Camry, ternyata dapatnya Innova”.  Berarti doanya jangan putus.  Dalam Al Qur’an dinyatakan:

Ud’uni astajib lakum.. 

Kata-kata ”meminta” dalam ayat tersebut adalah kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang memerlukan obyek.  Dalam Bahasa Arab, kalau ada kata kerja yang seharusnya memerlukan obyek, tetapi tidak diberi obyek, itu maksudnya obyek apa saja dapat dimasukkan dalam kalimat itu.  Dalam Bahasa Indonesia, kalimat transitif kalau tidak ada obyeknya adalah tidak sempurna.  Tetapi dalam Bahasa Arab, kalimat transitif yang tidak diberi obyek artinya apa saja bisa dijadikan obyek.  Contoh yang lain adalah ayat dalam surat Al ’Alaq: 1:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

 Dalam kalimat tersebut pun tidak ada obyeknya, tetapi maksudnya adalah ”apa saja bisa dibaca”.  Kalau dalam ayat 186 surat Al Baqarah itu, kita boleh meminta apa saja.  Dan, itu diutarakan dengan jelas, supaya hati kita mantap.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

 Kata doa, itu selalau memakai alif dan lam, itu menunjukkan bahwa itu adalah sesuatu yang tertentu, spesifik; sama seperti the dalam Bahasa Inggris.  Misalnya seperti yang dinyatakan dalam hadits: 

Ud’ullaaha wa antum bil ’ijabah.  Innalaaha laa yaqbalu ad du’aa biqalbin ghaafilin wa laain.

 Itu menunjukkan bahwa kalau meminta atau berdoa itu harus jelas, misalnya kalau usaha ingin labanya naik sekian persen; sebutkan.  Jangan meminta yang samar, misalnya, ”Ya Allah, naikkanlah omset usahaku pada tahun depan ini”, ternyata naiknya hanya 5%; tidak boleh ngomel, karena yang diminta hanya kenaikan omset saja. 

7.  Berdoalah dengan serius dan konsentrasi

Berdoa itu harus dengan serius, kalau bisa tangan itu sampai bergetar pada saat ditengadahkan karena seriusnya dalam berdoa.  Rasulullah berdoa sampai tangannya bergetar pada saat perang Badar, sampai selendang Nabi jatuh karena getaran tangan.  Apa doa Nabi pada saat itu?  ”Ya Allah, kalau hari ini kami kalah dalam perang ini, maka tidak akan ada lagi orang yang menyembah Engkau di muka bumi ini”. Dalam berdoa, tangan diangkat sehingga terlihat bersemangat.  Yang sering kita lakukan adalah berdoa itu dengan malas, mengangkat tangan saja enggan.  Angkat tangan tinggi-tinggi, tengadahkan tangan ke langit sampai tangan bergetar saking gemuruhnya doa itu. 

8.  Mulailah meminta itu dari yang kecil-kecil

Kita kalau meminta mulalaih dengan yang kecil-kecil, jangan tiba-tiba minta yang besar-besar.  Kalau permintaan yang kecil-kecil ini sudah sering kita rasakan pengabulannya, maka nantinya kita akan semakin yakin bahwa minta yang besar pun akan dikabulkan.  Misalnya, dalam pikiran kita ingin rasanya makan kolak, tiba-tiba ada orang yang mengantar kolak; maka itu adalah pengabulan doa kita, bukan suatu kebetulan.  Mulai doa yang kecil-kecil pun kita sudah serius, apalagi nanti minta yang besar-besar.  Kadang-kadang kita berpikiran bahwa yang kecil-kecil itu tidak perlu berdoa, ”Masa yang seperti itu saja diminta dalam doa?”.  Kalau sepert itu, maka itu termasuk kesombongan.  Allah itu berbeda dengan manusia.  Kalau manusia, semakin sering kita minta, makin tidak suka.  Lain halnya Allah, semakin sering diminta Ia semakin suka, bahkan permintaan yang kecil-kecil sekalipun.  Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa sahabat itu sampai-sampai minta sepatu pun berdoa kepada Allah.  Ini dilakukan supaya kalau ia mendapat sepatu, ia ingat dan akhirnya bersyukur.  Kalau kita tidak berdoa minta sepatu kepada Allah, kalau nanti mendapat sepatu, tidak ada rasa syukur, perssis seperti kelakuan Qorun sebagai difirmankan oleh Allah dalam surat Al Qashash : 78:

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

 Kalau yang kecil-kecil ini kita mintakan kepada Allah dalam doa kita, maka begitu kita mendapatkan apa yang kita minta itu, kita akan bersyukur, ”Alhamdulillah…”.  Atau, misalnya kita minta sehat, ”Ya Allah, aku mohon sehat kepadaMu untuk menyempurnakan ibadahku kepadaMu”.  Dengan demikian permintaan itu nantinya yang baik-baik terus dan serius, karena permintaan itu selalu demi akhirat.  Apakah boleh minta kekuasaan?  Boleh, asal dengan kekuasaan itu kita bisa memberi manfaat yang lebih banyak.  Kalau permintaannya yang jelek, bisa menjadi istidroj, akhirnya dengan dikabulkannya permintaan itu malah membuat semakin jauh dari Allah SWT. 

9.  Tulislah pengabulan doa-doa yang diminta

Kalau  kita mengalami kejadian-kejadian spiritual, baik itu besar maupun kecil, maka catat.  Misalnya, kita sedang memikirkan sesuatu katakanlah ingin kolak, tiba-tiba ada orang yang mengantar kolak kepada kita; maka itu adalah skenario Allah, bukan tiba-tiba; itu adalah pengalaman spiritual.  Dengan menuliskan pengalaman yang kecil-kecil itu, maka doa kita akan menjadi lebih mantap, lebih yakin bahwa yang kita minta akan dikabulkan.  Atau, biasanya jalan yang kita lalui macet, kita berdoa mudah-mudahan lancar; ternyata lancar betul, itupun pengalaman spiritual, harus dicatat.  Kalau yang kecil sudah terlatih, nanti permintaan besar lebih mantap keyakinannya untuk dikabulkan. Agar doa itu bisa menambah kebaikan kita, maka setiap doa itu diikat menjadi ibadah.  Misalnya, ”Ya Allah berikanlah aku harta yang banyak, sehingga dengan harta itu aku menjadi lebih tekun beribadah kepadaMu”.  Kita minta dunia, tetapi tujuannya adalah akhirat. Mulai sekarang bisa kita coba, tulis kapan doa itu dipanjatkan dan apa urusan dunia yang kita minta kepada Allah yang dalam waktu dekat ingin dikabulkan, misalnya bagi yang punya hutang, ”Ya Allah, bayarkanlah hutang-hutangku…”.  Dalam doa ini kita fokuskan pada satu saja yang menjadi prioritas.  Sering kali kita minta banyak-banyak (untuk urusan dunia), bermacam-macam; akhirnya tidak fokus.  Kalau untuk urusan akhirat, kita tidak apa-apa minta banyak-banyak.  Setelah dalam berapa lama doa itu dikabulkan, catat! Bagaimana cara kita berdoa?  Ada tiga cara yang dapat dilakukan pada saat kita berdoa, yaitu: 

1.  Lakukan pada waktu sujud di setiap shalat sunnat (dalam hati)

Lakukan doa itu pada setiap sujud di waktu shalat sunnat dan diucapkan dalam hati, karena doa itu diucapkan (dalam hati) dalam bahasa Indonesia; terutama di waktu sujud terakhir.  Jangan dilakukan pada waktu shalat wajib, karena waktunya terbatas; sebab doa ini perlu waktu yang agak lama.

2.  Lakukan setelah shalat malam

Lakukan doa itu setelah shalat malam, angkat tangan tinggi-tinggi sampai ketiak kelihatan.  Kalau doa ini kita lakukan dengan sungguh-sungguh, hati ini bisa bergetar, tangan gemetar; tangan jangan diletakkan di atas paha seperti orang yang malas.

3.  Berdoa di mana saja, kapan saja (tidak formal)

Doa bisa pula dilakukan kapan saja, di mana saja, sercara tidak formal, tidak perlu mengangka tangan; cukup berbisik saja atau dalam hati.  Pada waktu mencuci, atau mau tidur, di waku senggang; lakukan  doa ini secara tidak formal. 

 Ketiga cara ini dilakukan secara berulang-ulang, minimal tujuh kali dalam satu hari.  Dengan begitu akan menambah kekuatan doa kita.  Di samping itu dalam berdoa itu juga perlu dicari di waktu-waktu makbul: antara dua  adzan, antara dua khutbah Jum’at, malam Jum’at, menjelang berbuka puasa, sepertiga malam, ketika kita dalam safar, dlsb.  Syukur-syukur kita bisa berada di tempat-tempat yang makbul. Kalau doa ini dikabulkan, maka catatlah.  Ini merupakan makna ayat :

Fa amma bini’mati fahaddits

 Setelah selesai doa ini dikabulkan, kita minta yang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat:

Faidza faroghta fanshob

 Pada pembahasan lanjutan nanti, kita akan membahas amal-amal yang lain untuk mendorong doa kita.  Bisa jadi doa kita itu baru 50%, tetapi karena dorongan amal yang lain, maka doa kita dikabulkan; termasuk pula doa orang lain.  Kalau kita mendoakan orang lain, maka kita akan mendapatkan yang serupa dengan yang kita doakan itu, ini yang mendokan adalah malaikat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: