29 Juli

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 29 Juli 2007 

TAFSIR SURAT AL BAQARAH : 120 

Ustadz :  Sambo 

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. 

Pada kajian yang lalu telah dibahas sifat-sifat Bani Israil yang buruk.  Umat yang paling banyak diceritakan di dalam Al Qur’an adalah Bani Israil.  Sifat-sifat itu bukan hanya milik Bani Israil, siapapun yang memiliki sifat ini, maka ia termasuk kelompok Bani Israil.  Mengapa?  Karena dalam salah satu hadits dikatakan: “Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum, barang siapa mengikut-ikut suatu kaum, maka ia termasuk kelompok kaum itu”.  Siapa saja yang mengidentikkan diri, mencontoh, meniru, terhadap suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam kaum tersebut.  Walaupun orang muslim, tetapi kalau ia memiliki sifat-sifat sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani, maka ia termasuk golongan mereka.  Apa saja yang dicontoh?  Apa saja, baik sifat yang di dalam maupun yang nampak dari luar; termasuk juga sifat-sifat ulamanya.  Makanya kita dilarang mencontoh orang-orang yang seperti itu.  Salah satu syariat jenggot adalah karena orang Yahudi itu suka memelihara kumis dan memotong jenggotnya.  Makanya Nabi menyuruh untuk memanjangkan jenggotnya dan memotong kumisnya, agar berbeda dengan Yahudi.  Itulah salah satu asbabul urut (sebab-sebab timbulnya hadits).  Demikian pula Islam melarang laki-laki memakai emas dan sutera, karena emas dan sutera itu idendtik dengan perempuan, sedang jenggot adalah salah satu bentuk kelaki-lakian.  Makanya perempuan itu ada yang berkumis, tetapi tidak ada yang berjenggot.  Makanya kita dilarang oleh Nabi mengikuti-ikut sifat umat lain.

Dalam Al Qur’an ada empat kelompok yang sering diceritakan, yaitu: (1) Orang Mu’min atau muslim, (2) Bani Israil, (3) Orang musyrik, dan (4) Orang munafiq.  Orang yang murni taat kepada Allah, tidak tercampur dengan taat kepada yang lain, itu adalah orang muslim.  Bani Israil ketaatannya tercampur-campur dengan yang lain.  Sedangkan orang musyrik murni pula kekafirannya, tidak bertuhan; kalaupun bertuhan, maka tuhannya adalah bulan, bintang, matahari, pohon-pohon, dll.  Prototipe orang musyrik ini adalah orang-orang Mekah pada jaman sebelum Nabi Muhammad.  Orang-orang yang keimanannya tercampur dengan yang lain ini banyak.  Orang seperti ini selain percaya kepada Allah, juga percaya kepada yang lain.  Inilah prototipe Yahudi dan Nasrani.  Mereka percaya kepada Tuhan yang “di atas”, karena Yahudi dan Nasrani iru awalnya adalah Islam tetapi akhirnya mereka menyimpang.  Agama orang Yahudi dan Nasrani itu asalnya adalah agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim.  Yahudi itu awalnya adalah mengikuti agama yang dibawa oleh Musa yang adalah Islam, yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Al A’laa : 18-19 :

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. 

Jadi, Musa dan Ibrahim itu adalah muslim.  Yahudi dan Nasrani itu percaya kepada Allah, tetapi tercampur keimanannya dengan yang lain.  Orang Nasrani percaya kepada Allah, tetapi juga percaya kepada Yesus yang menobatkan dirinya sebagai anak Tuhan yang rela disalib.

Orang-orang golongan munafiq, itu ada di golongan tengah-tengahnya.  Kalau dikaji lebih dalam, hampir semua golongan munafiq ini adalah orang Yahudi.  Makanya oreang munafiq itu munculnya di Madinah, bukan di Mekah.  Kalau di Mekah tidak banyak orang Yahudi, tetapi kalau di Madinah banyak orang Yahudi.  Adanya orang munafiq itu setelah ada Yahudi, setelah Islam di Madinah.  Munafiq itu ada dua macam, yaitu: munafiq amali dan munafiq I’tiqodi.  Yang kita bahas di sini adalah munafiq I’tiqodi, munafiq yang memang niatnya masul Islam adalah untuk merusak Islam: untuk memata-matai, untuk merusak Islam.  Pada dasarnya mereka bukan Islam, tetapi kafir.  Inilah nanti yang oleh Allah akan dimasukkan ke dalam neraka yang paling dasar, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam surat An Nisaa’: 145:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. 

Orang munafiq itu adalah pengkhianat, dikatakan kafir juga bukan (karena bersyahadat), tetapi muslim juga tidak; ini jauh berbahaya daripada orang kafir.  Kalau orang kafir jelas, bisa kita lawan; tetapi kalau orang munafiq bisa fasih berbahasa Arab, bisa berjenggot, bisa saja rajin shalatnya bersama orang yang beriman, ibaratnya musuh dalam selimut.  Sedangkan munafiq amali adalah orang Islam yang suka berbohong, tidak amanah, khianat. Yang dijelaskan di dalam Al Qur’an itu adalah munafiq I’tiqodi.  Kita harus membedakan antara keduanya.  Munafiq amali ini tidak boleh dikatakan sebagai munafiq, karena ia adalah orang Islam yang mengerjakan amal mirip dengan orang munafiq.

Ada beberapa catatan yang bisa dipetik dari ayat 120 surat Al Baqarah bahwa salah satu sifat orang Yahudi dan Nasrani adalah benci kepada orang yang beriman. 

 1. Hati orang Yahudi dan Nasrani tidak pernah suka dengan orang beriman

Dalam ayat itu digunakan kata “wa lan tardho” artinya “tidak akan pernah ridho”.  Kata lan  Yang dimasud dengan ilaah  itu bisa ideologi, kepercayaan, sistem politik, dll.

Ayat itu adalah bentuk bagaimana Allah membuka rahasia hati orang Yahudi dan Nasrani.  Memang hati orang itu tidak bisa diketahui, rahasia, tetapi Allah membukakan rahasia itu.  Ketidaksukaan itu bermacam-macam tingkatannya, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat.

 a. Rasa pokoknya tidak suka

Ketidaksukaan yang paling ringan adalah rasa tidak suka. 

 b. Tidak suka itu ditunjukkan melalui mulutnya

Tingkatan berikutnya adalah bahwa ketidaksukaan itu ditunjukkan melalui mulutnya atau tulisan.  Propaganda-propaganda yang disebarluaskan oleh orang-orang Barat, misalnya, itu adalah bentuk ketidaksukaan mereka kepada orang Islam yang disampaikan melalui mulut atau tulisan: orang Islam dikatakan sebagai teroris.  Kalau ada satu dua orang Islam yang bermasalah, digeneralisir Islam itu bermasalah.  Tetapi kalau orang Kristen yang bermasalah, yang disebut adalah negaranya: Filiphino, Italiano, Australian, American, dsb.  Tetapi kalau yang bermasalah itu orang Islam, mengapa bukan disebut Iraqi, Saudi, Indonesi, dlsb.  Tetapi kalau yang bermasalah adalah satu dua orang Islam, yang disebut adalah Islamnya.

Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 118:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. 

Ayat ini berlaku umum, yang dimaksud dengan “orang-orang di luar kamu” adalah orang di luar Islam, termasuk Yahudi dan Nasrani.  Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa telah kebencian mereka ditunjukkan melalui mulut mereka.   Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat benci dengan orang muslim.  Yang nampak di mulut itu baru sinyal-sinyalnya saja, yang terkandung di dalam hatinya jauh lebih besar.  Kalau posisi mereka lemah, ketidaksukaan itu ditunjukkan melalui mulutnya, tetapi kalau posisi mereka kuat, yang tersembunyi itu akan keluar.  Sama juga dengan kita, kalau kita tidak suka dengan seseorang dan posisi kita tidak mampu, paling hanya di mulut saja ketidaksukaan itu ditunjukkan, tetapi kalau kita kuat, bisa lebih dari itu.

Dalam surat Al Maidah : 59 disebutkan:

Katakanlah: “Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?” 

Yang disebut ahli kitab itu adalah Yahudi dan Nasrani.  Mereka tidak suka hanya gara-gara orang Islam beriman kepada Allah.

 c.  Tidak suka ditunjukkan oleh sikap

Pada tingkatan ini ketidaksukaan itu ditunjukkan oleh sikap, dengan cara mengganggu, meneror; tetapi belum sampai kepada pembunuhan.

Firman Allah dalam surat Al Buruuj : 4 – 8 :

 

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,

Asbabun nuzul surat ini adalah pada waktu itu kaum muslim di Yaman disiksa oleh pemerintah yang Nasrani.  Mereka menyiksa orang mukmin itu gara-gara orang beriman kepada Allah.  bahkan dalam penyiksaannya adalah orang-orang mukmin itu dibakar.

 d.  Tidak suka ditunjukkan dengan penyiksaan dan pembunuhan

Tidak suka yang paling tinggi adalah dalam bentuk penyiksaan dan pembunuhan.  Kalau mereka mampu, mereka memerangi.  Ini yang terjadi sekarang ini.  Islam menceritakan hal seperti ini bukan untuk menumbuhkan peperangan, bukan untuk menimbulkan kebencian, tetapi ini adalah fakta, agar kita jangan sampai dikibuli mereka.  Ayat-ayat seperti yang dijelaskan di atas bagi mereka dipandang sebagai ayat-ayat yang bermasalah, memicu kebencian.  Ayat ini justru untuk memberi tahu begitulah keadaan mereka, supaya orang mukmin tahu.  Kalau dipertanyakan, negara mana yang tidak mempunyai angkatan perang?  Apa gunanya angkatan perang?  Supaya jangan diserang.  Demikian pula hal ini, kita ketahui supaya tidak diserang.  Karena, kalau kita lemah, kita akan diserang.  Oleh karena itu kita jangan lemah.

 2. Orang Yahudi dan Nasrani tidak suka terus menerus sampai hari kiamat

Dalam ayat tersebut digunakan kata lan, artinya tidak akan pernah, terus menerus tidak suka mulai dari jaman Nabi sampai hari kiamat (will never).  Mengapa ini mesti dijelaskan?  Supaya jangan sampai ada pemahaman bahwa ayat ini diperuntukkan bagi Nabi Muhammad saja (karena yang dimaksud dengan “‘anka = atasmu” itu adalah NabiMuhammad).  Itu bukan hanya untuk Nabi Muhammad saja, tetapi juga kepada kita.

 3. Yahudi dan Nasrani adalah mayoritas, tidak semuanya.

Kata Yahudi dan Nasrani dalam ayat tersebut adalah dalam bentuk jamak, artinya “pada umumnya” atau mayoritas.  Yang berbahaya itu kalau disebut dalam bentuk tunggal, artinya memang orang itu tidak suka, tetapi ini disebutkan dalam bentuk jamak; pada umumnya, kebiasaannya, tetapi tidak semuanya.  Yahudi itu bentuk jamak, tunggalnya adalah yahudiyyun, sedangkan Nashoro itu bentuk jamak yang bentuk tunggalnya adalah nashroniyyun.  Jadi, bukan seluruh orang Yahudi itu benci kepada orang yang beriman, demikian pula bukan seluruh orang Nasrani itu benci kepada orang Islam.  Dengan demikian ada Yahudi dan Nasrani yang tidak benci kepada orang Islam, tidak boleh “dipukul rata”.  Jamak ini diberikan supaya kita berhati-hati.  Yahudi dan Nasrani itu ada yang baiknya juga.  Ketika Rasulullah berusia 12 tahun diajak pamannya untuk berniaga, bertemu dengan pendeta Buhairo, justru ia yang menyelamatkan Nabi Muhammad.  Pada umumnya mereka memang sifatnya begitu, tetapi ada pula yang baiknya.  Kita lihat dalam surat Al maidah : 82:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. 

Tidak semua pendeta itu benci kepada orang yang beriman, ada yang baiknya pula.  Ini terutama untuk pendeta Nasrani, kalau Yahudi bencinya memang amat sangat kepada orang mukmin.  Kita lihat pula dalam surat Ali Imron : 113-114:

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. 

 

Ada pendeta-pendeta yang masuk Islam.  Memang awalnya mereka benci, tetapi sebagian akhirnya masuk Islam.  Mengapa Yahudi itu lebih sulit masuk Islam daripada orang Nasrani?  Karena Yahudi itu adalah keturunan.  Yahudi itu selain keturunan tetapi juga agama (agama keturunan).  Kalau orang disebut sebagai Yahudi, berarti ia keturunan Yahudi dan itu agamanya.  Orang Yahudi itu tidak mau menarik orang untuk masuk agamanya, berbeda dengan Nasrani yang menarik orang untuk masuk agamanya.  Kalau orang tidak lahir dari perut Yahudi, maka bukan Yahudi namanya.  Kalau ibunya Yahudi, anaknya juga Yahudi.  Tetapi kalau bapaknya Yahudi, anaknya belum tentu Yahudi.  Ia menganut garis keturunan ibu (matrilineal).

 4.  Ketidaksukaan itu adalah urusan agama

Ketidaksukaan mereka bukan urusan pribadi, tetapi urusan agama.  Makanya kalau kita sudah mengikuti milah mereka, pola pikir mereka, mereka menjadi tidak benci.  Kalau bencinya itu urusan personal, pribadi, maka hukumnya lain lagi.  Ini adalah sentimen agama.

 5.  Ketidaksukaan itu karena hawa nafsu

Apapun yang diajak oleh mereka, sumbernya adalah hawa nafsu.  Apapun dalil yang digunakan, sumbernya adalah hawa nafsu.  Bahkan mereka menggunakan ayat Qur’an pula.  Kita akan membahas masalah ini lebih lanjut pada kajian berikutnya.  Banyak cara yang mereka gunakan untuk mengajak orang beriman mengikuti milahnya.  Acara-acara TV itu pada umumnya adalah program-program mereka, misalnya Indonesian Idol, Mama Mia.  Yang ditampilkan itu yang kacau-kacau (mamanya memakai jilbab, anaknya pakaiannya amburadul), joget-jogetan!!!

 6. Allah berlepas diri pada orang yang mengikuti mereka

Kalau ada orang yang mengikuti mereka, maka Allah berlepas diri terhadap orang itu, artinya Allah tidak akan menolongnya dan tidak akan memberi petunjuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: