16 September

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 16 September 2007 

AGAR DOA DIKABULKAN (1) 

Ustadz :  Sambo 

Pada kajian selama bulan ramadhan ini berkaitan dengan bagaimana agar doa-doa kita dikabulkan oleh Allah SWT.  Kita mengetahui bahwa Ramadhan adalah salah satu bulan yang dikabulkannya doa-doa.  Apabila doa disampaikan pada bulan Ramadhan, maka amat sangat besar doa itu diterima oleh Allah SWT.  Pengabulan suatu doa bisa didasarkan kepada: (1) tempat yang makbul, (2) waktu yang makbul, (3) kondisi yang makbul, dan bisa juga (4) orang yang makbul. Tempat yang makbul misalnya adalah masjidil haram, Roudhoh.  Sedangkan waktu-waktu yang makbul contohnya adalah selama bulan ramadhan, sepertiga malam terakhir, saat buka puasa, antara dua adzan, antara dua sujud, dlsb.  Untuk kondisi makbul contohnya adalah saat hujan turun.  Sekarang yang kita bahasa adalah bagaimana agar Ramadhan ini doa kita bisa dikabulkan oleh Allah SWT.  Mengapa ini perlu kita bahas? Orang yang dikatakan sukses itu adalah orang yang apabila doa-doanya terkabul.  Sedangkan orang yang gagal adalah orang yang doa-doanya tidak tercapai.  Tentang pengabulan doa, dicantumkan dalam surat Al Mu’min : 60 dan surat Al Baqarah : 186:

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

 Jadi, setiap doa pasti akan dikabulkan.  Yang dimaksud dengan doa di sini adalah harapan, cita-cita, dan keinginan.  Ini adalah jaminan, dan Allah tidak pernah ingkar janji:

Sesungguhnya Allah tidak pernah ingkar janji.

 Hanya saja yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dalam faktanya terhadap doa-doa itu banyak orang yang berdoa tetapi banyak yang tidak dikabulkan.  Kalau untuk menghibur diri dikatakan bahwa doanya itu belum dikabulkan.  Itu hanya menghibur diri, padahal tidak dikabulkan.  Kalau tidak dikabulkan, jangan-jangan ia tidak mau introspeksi diri!  Kalau dilihat berdasarkan ayat tersebut maupun hadits-hadits, ternyata doa itu mempunyai syarat pengabulan yang harus dipenuhi.  Kalau doa itu tidak dikabulkan, itu bukan salah Allah; tetapi karena syaratnya tidak dipenuhi.  Kalau syaratnya terpenuhi, maka doa itu akan terkabul.  Sekarang untuk kita, sudahkah syarat-syarat itu kita penuhi?  Kalau belum, berarti doa itu tidak dikabulkan. Persyaratan yang pertama adalah hati kita tenang.  Bisa saja sepertinya tidak dikabulkan, tetapi sebenarnya dikabulkan, tetapi bentuknya lain.  Kalau belum dikabulkan, tetapi hati kita tidak tenang; berarti doa itu tidak dikabulkan.   Komponen doa itu ada tiga, yaitu: (1) mulut, yaitu yang terucap dari mulut, dan (2) hati, yaitu yang tertanam dalam hati, dan (3) usaha.  Ujung dari keduanya itu direalisasikan dalam bentuk usaha.  Doa: harapan atau cita-cita, terucap melalui mulut, tertanam oleh hati; dibuktikan melalui usaha.  Ini seperti komponen iman, ada tiga, yaitu : (1) tashdiqul bil qolbi, sesuatu yang tertanam di hati,  wal ikrorun billisaani (diucapkan lewat mulut), dan (3) wal ‘amalu bil arkaani, dibuktikan dalam bentuk amal oleh anggota tubuh kita.   Kalau orang ditanya, “Ingin menjadi apa?”, dijawab “Ingin menjadi ini-itu”, itu baru melalui mulut; di hati tertanam “Saya ingin menjadi ini-itu”.  Lalu dalam bentuk usahanya adalah belajar, bekerja, dst.  Perantara dari ketiga komponen itu adalah pikiran dan tubuh (arkaan).  Dari usaha ini bisa kita lihat: ada usaha yang sukses dan ada usaha yang gagal.  Usaha yang sukses itulah yang dinamakan doa yang terkabul, sedang usaha yang gagal itu adalah yang tidak terkabul. Dari ketiga komponen doa tersebut, mana yang paling menentukan?  Yang paling menentukan adalah komponen hati.  Artinya, semua itu tergantung pada hati.  Orang munafik itu mulutnya mengucapkan iman, usahanya ia lakukan dengan shalat, puasa, zakat, haji; apakah amalnya diterima?  Orang munafik itu masalahnya ada di hatinya.  Amalaannya tidak diterima!  Orang munafik itu mulutnya mengatakan “Beriman”, ia juga shalat, puasa, zakat, haji; tetapi semuanya ditolak, karena masalahnya adalah hatinya.  Justru masalah hati ini yang sering diabaikan.  Yang banyak dilakukan orang adalah komponen mulut dan usaha, tetapi kadang-kadang usahanya pas-pasan, setengah-setengah.  Usaha yang setengah-setengah itu sendiri lebih ditentukan karena masalah hati. Komponen hati itu sendiri ada 3 komponen.  Kalau orang yang tidak beriman, hanya dua komponen saja yang digunakan.  Tetapi orang yang beriman sering kali ketiganya tidak digunakan, sehingga pantas mereka lebih sukses daripada orang yang beriman.  Orang kafir pun berdoa, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam surat Al Baqarah : 200:

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

 Orang Islam sering kali ketiga komponen hati itu tidak dipakai, sedangkan orang kafir menggunakan dua komponen, sehingga orang Islam kalah.  Tiga komponen hati itu, yaitu: (1) Yakin kepada Allah, (2) komponen diri sendiri, dan (3) yakin kepada yang lain.  Sedangkan orang Islam keyakinan kepada Allah diragukan, kepada dirinya sendiri pun tidak yakin, akhirnya tidak dikabulkan doanya. Sering kali mulut kita berdoa tentang sesuatu, misalnya mulut kita minta sehat, jodoh, mobil, dsb.  Apa saja bisa kita minta.  Demikian pula bisa diminta tentang urusan akhirat, seperti surga, ridho; dst.  Permintaan baik urusan dunia maupun akhirat bisa kita mintakan kepada Allah.  Bagi orang kafir, yang diminta adalah “apa-apa yang ada di dunia” (Al Baqarah : 200).  Sedangkan orang yang beriman yang diminta adalah “kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”.  Tetapi untuk orang kafir, tidak diminta “kebaikan di dunia”, mau halal atau haram semuanya diembat, mereka tidak peduli halal-haram.  Kalau orang yang beriman, yang diminta adalah yang baik-baik (hasanah), yaitu sesuatu yang akan mendatangkan kebaikan, yang mendatangkan berkah; makin banyak, makin dekat kepada Allah.  Itulah yang namanya kebaikan. Kalau mulut minta sesuatu, bagaimana hatinya?  Doa-doa yang tidak dikabulkan itu karena mulutnya berucap, tetapi hatinya ragu, tidak yakin.  Bagaimana keraguan itu?  Yang pertama dalah ragu kepada Allah.  Yang kedua adalah ragu kepada diri sendiri, sedangkan yang ketiga adalah ragu kepada yang diluar diri selain Allah (bisa berkaitan dengan orang atau sesuatu).  Misalnya, kita berdoa minta rejeki, “Ya Allah, berilah aku rejeki yang banyak, yang halal”, tetapi hatinya ragu, “Apa iya Allah mengabulkan doaku? Sepertinya tidak, ya”.  Kemudian ragu kepada diri sendiri, “Apakah saya mampu?  Banyak sekali orang yang berusaha sepertiku, sepertinya saya tidak mampu”.  Yang ketiga adalah ragu kepada orang lain, “Apakah ia mau menolongku?”.  Bisa saja ragu kepada sistem, misalnya: “Sekarang kerja itu susah, bisnis juga susah; kalau tidak memakai sogok-menyogok, tidak bisa”.  Yang seperti itu juga ragu kepada yang lain.   Kalau hati ragu, pikirannya menjadi kacau, tidak tenang.  Kepala itu tergantung kepada hti, kalau hati sudah ragu, pikiran juga tidak memprosesnya.  Oleh karena itu kata Nabi bahwa kalau hati ini sudah rusak, maka akan rusak semuanya, tetapi kalau hatinya bagus, maka akan bagus semuanya.  Kalau pikiran kacau, tubuh menjadi lemas, tidak bersemangat.  Mengapa kelihatan lemas sekali?  Jawabannya, “Bagaimana bisa kerja, kalau tidak menyogok tidak bisa!”.  Kalau sudah seperti itu, pekerjaan menjadi tidak optimal.  Rumah tangga juga begitu, hatinya ragu, “Apakah suamiku setia?”, akhirnya lemes, dan ujungnya servis menjadi tidak optimal, bawaannya curiga, sehingga kalau disuruh mengambilkan sesuatu, misalnya, jawabannya, “Ambil sendiri!”.  Kalau usahanya seperti, maka usahanya tidak akan berhasil.  Itu adalah alur logika doa.  Dalam Islam banyak dalil berkaitan dengan doa ini. Berobat pun mengikuti alur logika seperti di atas.  Kalau kita berobat, tetapi tidak yakin atau ragu bisa sembuh, maka pikiran menjadi kacau, badan menjadi sakit, lemas.  Akhirnya berobat menjadi tidak optimal.  Sebaliknya, kalau mulut minta sesuatu, hatinya yakin (katakanlah tidak yakin dengan Allah, untuk orang kafir) kepada orang lain: orang lain akan membantuku; positive thinking terhadap orang lain; pikiran menjadi jernih, badan semangat, berbicaranya juga dengan penuh semangat, maka hasilnya akan diperoleh.  Misalnya ditanya, “Bagaimana bisnisnya?”, jawabannya “Bisnis sekarang sedang bagus”, orang menjadi percaya sehingga mau memberi proyek.  Tetapi kalau sudah lemes, orang tidak akan percaya memberi proyek.  Ini yang dikembangkan dalam teori-teori bisnis: Percaya Diri (PD).  Biar tidak percaya kepada Allah, tetapi percaya pada diri sendiri dan orang lain, bisa berhasil.  Sedangkan orang beriman, tidak yakin  dengan ketiganya: Allah, diri sendiri, dan orang lain; tidak akan berhasil usahanya.  Kalau kita menggunakan ketiga komponen itu, maka kekuatannya akan dahsyat.  Jadi, kunci dari semuanya itu adalah di hati ini.  Ini yang jarang kita pakai. Kalau urusan dunia, gagal itu dikatakan sebagai kesuksesan yang tertunda.  Yang fatal itu adalah urusan akhirat, tidak ada istilah sukses yang tertunda.  Kalau urusan di dunia, kalaupun kita gagal, kita bisa ulangi lagi, kembali lagi; tidak ada istilah terlambat, tidak ada istilah nasi telah menjadi bubur.  Istilah nasi telah menjadi bubur itu adalah untuk urusan akhirat, kalau sudah mati dan masuk neraka, tidak bisa kembali lagi.  “Kalau di dunia, nasi menjadi bubur, diberi cakue, diberi bawang dan ayam, jadilah bubur ayam”.  Tetapi untuk urusan akhirat, tidak berlaku penyesalan.  Jadi sukses dan gagal sesungguhnya itu adalah nanti di akhirat.  Sukses itu kalau masuk surga, dan kalau masuk neraka, itulah sesungguhnya kegagalan.  Mari kita lihat dalam surat Ali Imron : 185:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

 Ada yang bertanya, “Tapi kan meskipun masuk neraka, tetapi nantinya kan masuk surga?”.  Jangan berpikiran seperti itu, jangan berpikiran masuk neraka.  Satu hari masuk neraka sama dengan 50 tahun di dunia.  Sebentar pun jangan pikir masuk neraka. Dalam doa, yang penting adalah hati kita, dan ada 6 urusan hati ini; lalu diikuti dengan usaha.  Dengan demikian dalam urusan doa itu ada 7 urusan yang harus kita perhatikan.  Dalam Al Qur’an surat Ar Ra’du : 11 dinyatakan:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

 Yang harus berubah itu adalah dalam dirinya dulu. Kalau dari dalam dirinya tidak berubah, maka tidak akan bisa berubah.  Yang sulit itu adalah mengubah yang ada di dalam.  Yang sering kita lakukan adalah yang di luar, asesorisnya saja.  Sehebat apapun sistem, kalau di dalamnya tidak beres, tidak akan beres.  Apa saja keenam urusan hati tersebut?

  1. Yakin
  2. Sabar
  3. Syukur
  4. Khusyu’
  5. Ghina/berjiwa besar/kaya hati
  6. Taubat
  7. Usaha

 Doa yang tidak dikabulkan itu karena hati yang tidak yakin, tidak sabar, tidak mau bersyukur, tidak khusyu’, hati bawaannya miskin, dan tidak mau bertaubat, serta tidak mau berusaha.  Nabi menyatakan bahwa orang yang rajin istighfar itu rejekinya lancar, hatinya selalu tenang, setiap kesulitannya selalu dimudahkan (Lazimkanlah istighfar, maka rejeki akan lancar, hati akan dibuat tenang, dan urusan dimudahkan).  Ketujuh urusan itu saling mendukung antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam doa itu butuh waktu, tidak ujug-ujug berhasil, butuh kesabaran; tidak hanya minta saja.  Syukur itu menerima apa yang ada, jangan minta saja pekerjaannya sedangkan yang ada tidak pernah disyukuri.  Kalau yang ada saja tidak disyukuri, bagaimana Allah akan memberikan yang lain?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: