9 Oktober

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 9 Oktober 2007

AGAR DOA DIKABULKAN (7)

Ustadz : Sambo

clip_image002

Pada kajian yang lalu sudah kita pelajari 7 langkah membangun keyakinan agar doa dikabulkan. Apabila 7 langkah dilakukan dengan benar, dengan penuh keyakinan dalam hati dan dengan prasangka baik, pasti doa terkabul.

Pengabulan doa ada 4, yaitu:

  1. Persis seperti yang diminta, kalau kita minta A dikasih A.
  2. Diganti dalam bentuk yang lain, kalau kita minta A dikasih B, B bisa lebih baik dari A atau sebaliknya akan dibahas di lain waktu.
  3. Ditunda
  4. Sebagai tabungan pahala di akhirat

Terserah ilmu Allah mana yg terbaik, dg prinsip 2:216

clip_image003

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Juga Surat 93 & 94.

clip_image004

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,

clip_image005

dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas..

clip_image006

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

Dalam surat Alam Nasyrah disebutkan:

clip_image007

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,

clip_image008

yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Biarkanlah Allah sebagai sutradara, pembuat scenario, kita tinggal menjalankan ( biarkan Allah ikut campur) kemudian kita tawakal: menyerahkan segala urusan kepada Allah, tawakal hanya diberikan kepada orang mu’min.

Taqwa — tawakal— mu’min. QS 65: 3

clip_image009

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Biarkan Allah sebagai sutradara, maka yang akan terjadi adalah sebagaimana firman Allah dalam surat Al Lail (92): 5-7:

clip_image010

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

Alur cerita utama (main plot)

———————————————————————————-

Awal 92:5-7 Akhir

———————————————————————————–

Allah berfirman pula dalam surat Al Baqarah: 8-10:

clip_image011

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

clip_image012

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

clip_image012[1]

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Sebenarnya kalau manusia itu mau sadar, banyak teguran yang diberikan oleh Allah. Sebenarnya kita banyak diingatkan oleh Allah sebagai Sutradara utama dalam kehidupan ini. Kalau ia kembali kepada alur utama cerita itu (main plot), namanya ia telah bertaubat. Misalnya seseorang dalam usia 22 tahun sadar bahwa telah menyimpang lalu kembali kepada alur utama (main plot). Ada lagi orang yang sadar setelah usia 17 tahun, atau bahkan usia 50 tahun. Sebelum nyawa ini dicabut oleh Allah, manusia masih diberi kesempatan untuk kembali kepada alur utama cerita (taubat). Selama hidupnya manusia itu selalu diberi peringatan-peringatan, sehingga manusia bisa bisa bertaubat. Allah berfirman dalam surat 35 : 37:

clip_image013

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

Di akhirat nanti manusia yang dimasukkan ke dalam neraka tidak ada yang protes kepada Allah. Mengapa? Semua manusia sadar dan menyesal, sehingga meminta kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia, “Ya Allah, kembalikanlah kami ke dunia, pasti kami tidak lari dari alur utama (main plot) jalan-Mu dan akan mengikuti skenario-Mu (berbuat baik dan tidak menyimpang)”. Oleh Allah dijawab bahwa manusia telah diberi umur yang panjang dan dalam hidupnya itu telah banyak peringatan yang muncul. Kalau manusia itu mau berpikir, pasti akan kembali sadar dan bertaubat, karena banyak peringatan orang lain maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi. Jadi ayat di atas itu sebagai bukti bahwa nanti di akhirat tidak ada orang yang protes kepada Allah dan manusia menyesal ingin kembali ke dunia. Ibaratnya kalau sudah selesai shooting, film sudah jadi, begitu kita menontonnya, maka tidak ada penyesalan, “Wah, koq seperti itu jadinya, saya ingin dishooting ulang untuk diperbaiki”. Ynag seperti itu tidak bisa lagi, karena film sudah jadi. Semua manusia nanti menonton filmnya ketika di dunia, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imron : 30:

clip_image014

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Jadi, kalau sudah menjadi film, tidak bisa dilakukan shooting ulang. Sekarang inilah ketika di dunia kalau mau memperbaiki shooting. Oleh karena itu agar tidak menyesal nanti, maka ikuti skenario yang sudah dirancang oleh Sang Sutradara. Kalau sadar ada bagian film yang tidak baik, masih bisa dihapus, diganti dengan adegan yang benar. Kalau ada yang menyimpang, bertaubat, sehingga nanti yang dinampakkan adalah yang baik-baik. Inilah makna doa kita dalam shalat ketika duduk di antara dua sujud:

“Rabbighfirli….. wajburni, Ya Allah, ampunilah aku …. Tutuplah aib-aibku”.

Jadi, nanti kalau sudah sampai kepada ujung alur utama, film akan diputar, dan tidak bisa lagi dilakukan shooting ulang. Manusia akan menonton filmya masing-masing. Inginnya manusia itu tidak diperlihatkan adegan yang buruk-buruk, ingin dilakukan shooting ulang. Kita akan menonton film diri kita sendiri, barulah nanti di sana penyesalan itu muncul dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Oleh karena itu kita serahkan semuanya kepada Allah, biarlah Allah yang mengatur semuanya. Kalau semua sudah kita serahkan kepada Allah, maka yang terjadi tidak ada yang kebetulan, semua dirancang oleh Allah. Kalau sudah seperti itu, maka hidup ini akan nikmat, kita tinggal menjalankan saja, tawakal. Kalau seperti ini, seandainya kita ingin berbuat jahat, maka ada saja rintangannya sehingga perbuatan jahat itu tidak jadi dilakukan. Sebaliknya seandainya ingin berbuat baik, meskipun banyak godaannya, jadi juga perbuatan baik itu dilaksanakan. Misalnya, kita sudah niat ingin i’tikaf di masjid, tiba-tiba ada orang yang ingin bertemu dengan kita karena akan menyumbang sesuatu yang harus diambil sendiri; tiba-tiba orang yang ingin bertemu itu membatalkan rencana pertemuannya dan barangnya bisa diambil oleh orang lain. Ini adalah contoh bahwa perbuatan baik itu meskipun ada godaannya, bisa juga dilaksanakan.

Maha hebatnya Allah adalah bahwa Sutradara telah membuat peran masing-masing orang, peran yang berbeda-beda, Allah memperbolehkan untuk pindah peran. Misalnya, tadinya menjadi pegawai di perusahaan A, sekarang pindah ke perusahaan B atau berusaha sendiri; maka di siulah Allah memberikan fasilitas untuk pindah peran dengan doa untuk pindah peran. Tetapi perlu diingat bahwa untuk bisa pindah peran itu diperlukan casting ulang. Misalnya dari yang biasanya sebagai peran pembantu ingin menjadi peran utama, maka perlu casting ulang. Dengan casting ulang itu akan diketahui apakah kita mampu dengan peran yang baru itu. Untuk kita harus bisa menunjukkan diri bahwa kita mampu mengambil peran yang baru itu, kita buktikan dengan usaha. Kalau tadinya peran kita sebagai pegawai lalu ingin pindah perna menjadi pengusaha, maka dilihat dengan casting ulang bisakah kita menjadi pengusaha? Kalau tidak mampu, kembali kepada peran semula. Konsekuensi dari berganti peran adalah berganti pula adegannya. Jangan sampai perannya ingin berganti, tetapi adegannya tidak berganti. Kalau kita menjadi orang miskin, maka perannya adalah bersabar; tetapi kalau menjadi orang kaya maka perannya adalah bersyukur. Tidak boleh perannya menjadi orang kaya, tetapi adegannya bersabar terus. Semuanya itu berada dalam koridor mainplot, alur .cerita utama. Ada pula orang yang ingin berganti peran tetapi caranya tidak benar. Yang seperti ini berarti keluar dari mainplot: ingin kaya dengan riba, korupsi, dlsb.

Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa peran yang baru itu memang cocok untuk kita? Allah memberikan fasilitas, yaitu melalui shalat istikhoroh. Sekiranya peran yang baru itu nanti tidak cocok, maka ada saja jalannya sehingga peran yang baru itu tidak jadi. Bisa jadi tiba-tiba ada yang memberi tahu bahwa peran yang baru itu tidak cocok untuk kita. Semuanya diserahkan kepada Allah, tawakal. Kalau dengan peran baru itu terasa berat, banya peringatan; maka kita harus siap-siap untuk kembali lag
i kepada peran yang lama. Kalau terasa berat, lalu mulai sikut kanan-kiri, main suap; maka itu keluar dari mainplot. Kalau kita sudah tawakal, hidup itu menjadi indah, ringan; menganggap bahwa semua itu adalah yang terbaik, kita menjadi aman. Misalnya, kita ingin dugem, tiba-tiba sakit kepala sehingga tidak jadi.

Kalau kita sudah tawakal, Allah sebagai Sutradara, maka kita akan :

1. Selalu berada dalam kebaikan, ibadah dan kebenaran, serta dimudahkan dalam kebaikan.

Dengan tawakal kita dimudahkan beribadah, berada dalam kebenaran dan melakukan kebaikan. Misalnya, bangun malam yang tadinya berat, sekarang menjadi ringan; shadaqo menjadi ringan, shalat tarawih ringan, i’tikaf terasa ringan.

2. Apabila ada penyimpangan, biasanya ada teguran.

Teguran ini berjenjang, bisa jadi teguran itu sangat keras. Ada juga yang dengan teguran lembut, kembali kepada mainplot. Bangsa Indonesia ini sebenarnya sudah ditegur dengan keras, tetapi tidak mau sadar juga.

3. Setiap ada masalah, selalu ada jalan keluarnya

Dengan bertawakal, ada saja jalan keluarnya bila menjumpai kesulitan. Misalnya, mobil kita menabrak mobil orang lain, ternyata mobil yang ditabrak itu adalah mobil saudara kita yang tadinya tidak kita ketahui. Akhirnya dari masalah menjadi jalan kebaikan. Siapa yang mengatur semua itu? Allahlah yang membuat skenarionya. Hidup ini serba diatur oleh invisible hand, tidak ada yang kebetulan. Misalnya lagi, jalan yang biasanya macet, hari itu lancar terus, bahka tidak dijumpai lampu merahnya, hijau terus. Itu bukan kebetulan, Allah yang mengatur. Atau, kalaupun lampunya merah, tiba-tiba polisi menyuruhnya jalan terus. Itu adalah doa kita agar lancar, diatur oleh Allah.

4. Banyak kemudahan

Dengan bertawakal, akan banyak kemudahan. Kalau ada musibah, Allah akan memberi fasilitas menghadapi musibah. Tidak ada istilah sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Kalau kita jatuh, ada saja yang menolong. Yang celaka itu adalah sudah jatuh, tertimpa tangga, terkena siraman cet, terinjak orang yang di atasnya lagi. Dengan bertawakal, kalau ada musibah untuk menguji iman kita, di sisi lain diberi kemudahan.

5. Tidak takut masa depan

Kalau Allah sudah kita yakini sebagai Sutradara, maka kita tidak akan pernah takut terhadap masa depan. Selalu yang akhir itu lebih baik dari yang sekarang: Wal aakhirotu khoirun minal ula

Baik tujuan akhir maupun tujuan antara itu akan selalu lebih baik dari sebelumnya, kalau kita sudah berserah diri. Dengan demikian kita tidak akan pernah khawatir, hidup menjadi aman. Masa depan itu memang tidak kita ketahui, terasa gelap; tetapi kalau sudah bertawakal, akan dipandangnya dengan cerah. Kita tidak tahu yang akan datang itu akan menjadi apa, kita serahkan kepada Allah, ”Ya Allah, aku tidak tahu 10 tahun lagi akan menjadi apa; aku serahkan semua itu kepadaMu”. Mengapa orang hidupnya bisa stress? Karena ia ingin menjalankan skenarionya sendiri: ingin begini-begitu, menjadi ini-itu, dlsb. Sebaliknya, kita tidak boleh juga menjadi manusia yang fatalistik, hanya berserah diri tetapi tidak berusaha. Setelah kita berusaha lalu Allah mudahkan, berarti itulah skenarionya. Tetapi kalau setelah kita berusaha ternyata Allah susahkan, berarti bukan itu skenarionya. Kita harus tetap dalam keyakinan dan berusaha. Kita mengetahui bahwa itu adalah skenario Allah setelah kita berusaha. Kalau belum berusaha, kita tidak tahu skenarioNya. Indikasinya adalah diberikan kemudahan-kemudahan. Tetapi kalau dengan berusaha itu tetap diberi kesulitan, berarti itu peringatan, kembali kepada peran sebelumnya. Dalam skenario, artinya kita tetap berada pada jalan Allah; jangan dilanggar. Kalau mulai makan riba, misalnya, itu sudah di luar skenario, karena skenarionya adalah jangan memakan riba. Kalau keluar dari skenario, maka akan datang kesulitan-kesulitan dan teguran dari Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: