8 Juli

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 8 Juli 2007

TAFSIR SURAT AL BAQARAH : 83

Ustadz : Sambo

clip_image002

clip_image003

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Pada kajian yang lalu kita telah membahas surat Al Baqarah hingga ayat 82. Dari ayat-ayat tersebut kita bisa mengetahui bahwa untuk masuk ke dalam surga itu ada modalnya. Setidak-tidaknya ada 5 modal untuk bisa masuk ke dalam surga, yaitu: (1) iman yang bebas dari syirik, (2) beramal sholeh, (3) mau berjuang, (4) berkorban dalam menegakkan iman, dan (5) mendapat rahmat dari Allah SWT.

Pada kajian ini kita akan melanjutkan pembahasan bahwa untuk bisa masuk surga ini, ternyata banyak hambatannya. Banyak orang yang ingin masuk surga dengan menjual agama dengan dunia, dengan harga yang sangat murah Banyak orang yang ingin masuk surga, tetapi mengapa malas-malasan? Ada beberapa penyebab mengapa orang menjadi bermalas-malasan untuk berjuang, beramal sholeh, atau berkorban.

Ada beberapa hadits yang menyatakan bahwa masuk surga itu adalah ”mudah”, ”ringan”; misalnya hadits yang berbunyi: ”Man qaala laa ilaaha illallaah dakholal jannah, barang siapa yang mengucapkan laa ilaaha illalaah akan masuk surga”. Bahwa masuk surga itu mudah saja. Oleh karena itu banyak kaum muslimin ingin masuk surga, tetapi kalau disuruh berjuang tidak mau; ingin kaya tetapi melalui jalan pintas seperti ikut undian, padahal persentase keberhasilan undian itu sangat kecil. Banyak kaum muslimin ingin masuk surga, tidak mau mengikuti jalan yang benar, inginnya jalan pintas mengikuti undian ”mengucapkan laa ilaaha illallaah”, akhirnya shalatnya asal-asalan, sedekahnya biasa-biasa saja; harapannya masuk surga. Yang seperti ini bukan 100% salah, tetapi ini adalah riskan. Ibaratnya kalau kita memasang target lulus dengan nilai C, maka kalau mis, akan mendapat nilai D atau E (tidak lulus). Tetapi kalau kita patok dengan target A, maka kalau meleset dapat nilai B, pahit-pahitnya mendapat nilai C. Oleh karena itu kalau memasang target, jangan pasang nilai C, tetapi yang sempurna.

Pada ayat 82 dijelaskan bahwa amal-amal sholehlah yang bisa menyebabkan orang masuk surga. Ayat 83 ini menjelaskan amal-amal sholeh yang dimaksud dalam ayat 82. Apa saja amal sholeh itu? Yaitu: terus beribadah kepada Allah dengan ikhlas, baik ibadah dalam arti sempit maupun dalam arti luas, seperti shalatnya, puasanya, hajinya bagi yang mampu (hablum minallaah). Amal sholeh berikutnya adalah hablum minan naasi (berbuat baik kepada manusia). Siapa saja manusia yang harus diperbuat baik?

1. Berbuat baik kepada orang tua

Pertama adalah berbuat baik kepada kedua orang tua. Berbuat baik kepada Allah itu harus dibuktikan dengan hablum minan naasi. Jangan sampai amal sholehnya hablum minallaah saja, sedangkan hablum minan naasi-nya amburadul. Kalau hanya salah satu saja, maka pasti rugi orang tersebut. Dalam hadits dijelaskan: ”Ridhollaah fii ridho walidain, ridho Allah itu ada pada ridhonya kedua orang tua”. Biarpun orang itu rajin shalat, rajn puasa, zakat dan haji, shalat malamnya tidak pernah tertinggal, ngajinya bagus; tetapi kalau durhaka kepada orang tua, maka tempatnya adalah neraka. Ada seorang sahabat (Al Qomah) pada jaman Nabi yang tidak bisa mati gara-gara durhaka kepada orang tua, padahal ia amalnya bagus sekali, bahkan Nabi pun tidak mau mentalqinkannya. Ini saja di dunia sudah terlihat siksanya gara-gara durhaka kepada orang tua, tidak mati-mati. Bahkan oleh Nabi orang tersebut disuruh untuk dibakar agar mudah matinya. Tetapi begitu ibunya ridho, mudahlah kematiannya.

Allah berfirman dalam surat Ali Imron: 113:

clip_image004

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

Pada jaman Nabi Musa, Nabi Musa pernah disuruh minta doa kepada seorang anak, gara-gara anak itu berbakti kepada Bapak-Ibunya. Pada jaman Nabi Muhammad, Umar pernah disuruh minta doa kepada Khois Al Qorny. Kata Nabi kepada Umar, ”Suatu saat engkau akan bertemu dengan orang yang bernama Khois Al Qorny. Mintalah doa kepadanya”. Umar berjalan ke Mekkah dan bertemu dengannya. Oleh Umar ditanya, ”Apa amalanmu sehingga Nabi menyuruhku untuk minta doa kepadamu?”. Kata orang itu, ”Tidak ada amal yang istimewa yang kulakukan, biasa-biasa saja”. Ternyata orang tersebut mempunyai ibu yang ingin pergi ke Mekkah. Oleh Khois Al Qorny, ibunya digendong dari rumahnya di daerah Yaman hingga ke Mekkah. Itulah amalan sehingga Nabi menyuruh Umar minta doa kepadanya, menggendong ibunya dari Yaman sampai Mekkah. Kalau kita? Yang digendong bukan ibunya, tetapi ibunya anak-anak! Bisa dibayangkan, menggendong ibu dari Yaman ke Mekkah, berapa kilometer?

Amalan berbakti kepada orang tua itu juga menjadi salah satu sebab mengapa seseorang bisa mendapatkan rahmat. Ada orang yang hablum minallaah-nya biasa-biasa saja, tetapi karena ia berbakti kepada orang tua, masuklah ia ke dalam surga.

2. Berbuat baik kepada orang terdekat

Yang dimaksud dengan orang terdekat itu termasuk anak isteri. Jadi, setelah kita berbuat baik kepada ibu-bapak kita, maka kita harus berbuat baik kepada anak isteri kita. Ada orang yang rajin shalat, rajin puasa, zakat, haji; tetapi kepada anaknya tidak baik, kepada isteri atau suami tidak baik, bawaannya cemberut saja (bulan muda senyum, bulan tua manyun), maka orang seperti ini nerakalah tempatnya. Seorang laki-laki bisa masuk surga karena isteri dan anaknya, dan seorang perempuan (isteri) bisa pula masuk surga karena suami dan anaknya. Suami yang masuk surga gara-gara berbuat baik kepada isterinya, bisa kita lihat dalam surat Al Maidah : 32:

clip_image005

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa:
barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.

Barang siapa membunuh seorang jiwa, itu sama saja dengan membunuh seluruh manusia, tetapi barang siapa menghidupkan seorang jiwa, maka (pahalanya) sama dengan menghidupkan seluruh manusia. Kalau kita menelantarkan anak isteri, itu sama dengan orang yang membunuh jiwa. Orang yang membuat isterinya sengsara, anaknya sengsara, maka sama saja ia membunuhnya. [Makanya suami itu kalau mau menikah lagi, isterinya jangan sampai sengsara, harus ridho. Jangan sampai isterinya sengsara, sehingga minta kepada suaminya ”Lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu daripada ……]. Berdasarkan ayat tersebut, kita menghidupi anak dan isteri itu pahalanya sama dengan menghidupi seluruh manusia. Bagaimana kalau manusia yang kita hidupi itu banyak? Yaitu, isteri dan anak-anak kita.

Jadi, suami itu memberi makan anak isteri itu pahalanya sangat besar, bukan karena ia sekedar isteri dan anak. Oleh karena itu jangan pelit-pelit memberi belanja kepada isteri itu! Jadi seorang suami itu bisa masuk surga karena fasilitas anak dan isteri. Oleh karena itu Nabi menyatakan bahwa orang kalau sudah menikah, seprauh agama sudah ia dapatkan, tinggal mencari separoh yang lainnya. Bahkan kata Nabi bahwa satu suap yang kita berikan kepada isteri atau anak kita itu lebih bagus daripada jihad fi sabiilillah dengan harta itu; karena kewajiban pertama kita adalah memberi makan anak isteri kita. Jadi, kalau kalau kita mempunyai uang Rp. 1000, misalnya, kita pakai untuk jihad fii sabiilillah sementara anak isteri kita terlantar tidak makan, maka itu salah. Yang lebih dulu adalah memberi makan anak dan isteri.

Ibu-ibu juga demikian, kalau berbakti kepada suami, maka surgalah tempatnya. Kata Nabi bahwa kalau seorang isteri yang menunaikan kewajiban kepada Allah, kalau ia mati dan suaminya ridho, ia akan masuk surga dari pintu mana saja. Jadi, sebagai Bapak mudah masuk surga dan sebagai isteri pun mudah pula masuk surga. Sebagai ibu bagaimana? Kata Nabi, ”Al jannatu tahta liwaai aqdaami ummahatikum, surga itu di bawah telapak kaki ibu”. Jadi, sebagai isteri, sebagai ibu atau sebagai bapak, sebagai suami; bisa masuk surga. Dengan demikian dalam Islam itu orang mencari duit untuk memberi makan anak dan isteri itu semangat, tidak ada istilah isteri itu tukang menghabiskan harta saja. Jadi, memberi makan atau nafkah anak isteri itu besar sekali pahalanya, hanya jangan berlebih-lebihan: minta ini-itu selalu dituruti terus.

Dalam salah satu hadits dinyatakan bahwa ada seorang sahabat melihat Nabi sedang menggendong anak kecil, sayang dengan anak kecil. Kata sahabat itu, ”Wahai Rasulullah, saya mempunyai sepuluh anak, tetapi belum pernah saya gendong dan saya peluk seperti itu”. Kata Nabi, ”Man laa yarham, lam yurham, barang siapa yang tidak mau mencitai, tidak mau menyayangi; tidak akan disayangi oleh Allah”. Bapak-bapak atau orang laki-laki itu biasanya malas menggendong anaknya. Ternyata memeluk anak, menggendong anak; itu adalah bagian dari kecintaan Allah. Makanya Rasulullah itu kalau sepulang perang, yang menyambutnya adalah anak-anak kecil. Yang seperti ini perlu latihan, dan ini dipakai dalam tata cara kenegaraan. Ada tamu negara, misalnya, biasanya yang menyambut adalah anak-anak. Menggendong anak kecil itu menunjukkan kasih sayang, berbeda dengan menggendong orang yang sudah besar, bisa lain perasannya, bisa kacau pikirannya.

Kalau kita sudah yakin bahwa mengurus anak isteri atau suami itu adalah jalan untuk bisa masuk surga, maka semua pekerjaan akan dilakukan dengan senang, tidak merasa sebal. Memasak, mencuci, misalnya, kalau niatnya adalah untuk masuk surga, maka akan dilakukan dengan semangat. Ibu-ibu, misalnya, kalau satu bulan digaji Rp. 20 juta untuk mengerjakan pekerjaan sambil tersenyum, tidak cemberut, akan dilakukan. Buktinya orang-orang yang bekerja di perusahaan atau di bank, disuruh senyum terus dengan gaji yang ala kadarnya, mau! Ini diberi surga, bawaannya manyun terus! Membingungkan! Padahal mana yang lebih besar, Rp. 20 juta atau surga? Mendidik anak, melayani suami, melayani isteri, itu adalah bagian dari jalan masuk surga. Jadi, asal kita shalat yang khusyu’, rajin ke masjid, tidak menyakiti tetangga, berbakti kepada suami, rajin mencari nafkah; jaminannya adalah masuk surga.

Yang juga termasuk dzil qurba, keluarga dekat itu adalah kakak dan adik kita, paman dan keponakan; apakah itu dari bapak atau dari ibu. Apalagi kalau keponakan itu anak yatim, itu menjadi kewajiban kita; atau kakak atau adik kita adalah orang miskin. Kalau kepada suami atau isteri atau orang tua, kita biasa membantunya. Tetapi kepada saudara yang lain, itu jarang kita bantu. Jadi, dalam Islam, membantu saudara itu trible pahalanya: pertama karena membantu orang, kedua menyambungkan silaturahmi, dan ketiga doa saudara itu makbul. Oleh karena itu kita harus membantu audara, jangan pada waktu minta-minta baru dibantu; kita harus mengerti. Pentingnya saudara itu dalam Al Qur’an dinyatakan lebih penting daripada Muhajirin dan Anshor. Kita lihat dalam surat An Nuur : 22-23:

clip_image006

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

clip_image007

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la`nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,

Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar. Abu Bakar mempunyai keponakan yang selalu diberinya makan. Suatu saat orang ini ikut menyebarkan fitnah terhadap Aisyah, akhirnya Abu Bakar mengatakan, ”Kau tidak akan aku beri makan”. Oleh Allah ditegur dengan ayat ini. Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa membantu saudara itu lebih didulukan daripada muhajirin dan jihad fii sabiilillaah, apalagi kalau ia orang miskin.

3. Berbuat baik kepada orang mikin

4. Berucap yang baik kepada manusia

Harus berkata-kata yang baik kepada manusia, tidak boleh menghina, memfitnah.

Itulah yang dinamakan hablum minan naasi.

Apa penyakit-penyakit yang menghambat orang masuk surga?

1. Kurang ilmu

Penyakit yang pertama yang menyebabkan orang sulit masuk surga adalah kurang ilmu. Ilmu di sini bukan sekedar ilmu wawasan, pengetahuan; tetapi ilmu yang bisa menghujam ke dada. Ini yang sulit. Banyak orang mengetahui sesuatu, tetapi tidak menghujam ke dada. Misalnya, banyak orang ya
ng mengetahui bahwa shalat itu wajib. Tetapi yang mengamalkannya? Banyak orang yang mengetahui bahwa berbuat baik kepada orang tua itu adalah jalan masuk surga, tetapi yang melaksanakannya? Ini terjadi karena kurangnya ilmu yang menghujam ke dada. Ilmu yang dimiliki pada umumnya hanya sebatas otak yang ada di kepala saja. Makanya kata Nabi bahwa ilmu yang baik itu adalah ilmu yang sampai ke dada. Sekarang ini sulit mencari ilmu yang bisa menghujam ke dada. Banyak orang mengetahui sesuatu, tetapi hanya sedikit yang mengamalkannya. Jangankan kita, orang-orang yang dianggap sebagai ”ulama”, tetapi dalam prakteknya jauh dari apa yang ia omongkan. Banyak orang yang mengaku sebagai ulama, tetapi rumahnya sangat bagus, mobilnya tiga; alasannya itu tidak dilarang. Memang benar itu tidak dilarang, tetapi itu juga tidak disuruh. Mereka berdalil bahwa sahabat pun demikian, seperti Abdur Rahman bin Auf yang seorang kaya. Ini masalahnya lain, ia bukan seorang ulama, tetapi seorang pedagang. Ulamanya itu misalnya Abu Dzar, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dll. Kalau pedagang kaya itu adalah wajar, pengusaha naik mercy itu wajar.

Jadi, salah satu penyakit yang menhambat orang masuk surga adalah kurangnya ilmu. Kita sudah mengaji beberapa tahun, tetapi berapa ilmu yang menghujam ke dada? Dalam pengajian dikatakan, misalnya, jangan mengomongkan aib orang, tetapi malah mengomongkannya. Oleh karena itu kita tidak hanya sekedar mengetahui, tetapi harus menghujam ke dada. Lebih baik sedikit tahu, tetapi diamalkan, daripada banyak tahu tetapi tidak diamalkan. Ini agar kalau kita berbicara, ada powernya, sampai ke hati. Tetapi kalau antara perkataan dan amalnya tidak sama, bicaranya tidak akan ada powernya. Tetapi kalau orang mengatakan ”Jangan memfitnah”, tetapi dirinya sendiri suka membuat fitnah, maka orang yang seperti ini omongannya tidak akan didengar. Inilah penytakit Bani Israil. Kita lihat dalam surat Al Baqarah: 44:

clip_image008

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?

2. Pengaruh Lingkungan

Kita bersyukur bisa tinggal di lingkungan yang mendukung kita untuk bisa beribadah. Banyak orang yang kurang bisa menerapkan apa yang disampaikan dalam surat Al ’Ashri: wa tawaa shoubil haqqi wa tawaa shoubish shobri. Kalau kita ada di lingkungan yang baik, kita bisa merasa enteng untuk berbuat baik. Yang tadinya kurang, menjadi cepat dipenuhi. Kalau kita berkawan dengan orang yang rajin shalat, misalnya, kalau kita tadinya agak malas shalat, maka menjadi ikut rajin shalat. Penyakit kita itu umumnya membangun rumah dulu, terserah nanti siapa tetangganya. Padahal kata Nabi, ”Khudil jaar qablal daar, cari dulu tetangga, baru bangun rumahnya”. Kalau kita lemah imannya, maka cari kawan yang kuat imannya, agar bisa menarik kita; kalau tidak, maka iman bisa lari.

Kalau kita termasuk orang yang lemah imannya, bergabunglah dengan masyarakat yang kuat imannya. Makanya dalam surat Al ’Ashri disebutkan bahwa semua orang itu merugi, kecuali orang yang beriman dan saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati dalam kesabaran. Ini sebenarnya kita disuruh mencari kawan. Orang-orang yang disebut ulama lalu terjerumus, itu karena tidak berkawan, sehingga tidak ada yang menasihatinya. Ketika ulamanya sendirian, hidup bermewah-mewah, karena tidak ada yang mengingatkan. Kata Nabi bahwa setan itu paling suka menggoda orang yang sendirian. Serigala itu suka menerkam domba yang sendirian. Dengan berteman orang yang baik, kita akan fastabqul khoirat. Itulah makna hijrah. Banyak orang yang imannya bagus, gara-gara lingkungannya buruk, maka dia digolongkan kepada orang yang dzalim. Kita lihat dalam surat An Nisaa’ : 97: 100:

clip_image009

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

clip_image010

kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),

clip_image011

mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

clip_image012

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

3. Dakwah yang disampaikan adalah yang enak-enak (angin surga)

Pada umumnya orang itu suka kepada dakwah-dakwah yang memberikan angin surga saja, suka kepada para dai yang tertawa-tawa, yang membuat senang. Sedikit sekali dai yang menjelaskan tentang mati, tentang hari kiamat. Bukan berarti itu tidak boleh, tetapi minimal seimbang dakwah tentang surga dan neraka. Kalau kita perhatikan dakwah-dakwah yang ada sekarang ini, kalau mendakwahi koruptor, bukannya menjadikannya tobat, tetapi malah merajalela, ”Tidak apa-apa korupsi, asal sebagian untuk diinfaqkan”. Ini dakwah-dakwah yang tidak terus terang. Mestinya kepada koruptor itu dikatakan, ”Anda kalau mau bertaubat, maka semua harta yang dikorupsi itu kembalikan kepada negara. Baru yang demikian itu diterima taubatnya”. Sekarang ini enak benar, sudah korupsi Rp. 100 miliar, nyumbangnya Rp. 1 milyar sudah dianggap besar; sisanya?

Ada lagi yang dakwahnya hanya menyuruh untuk membaca bacaan ini-itu, nanti masuk surga. Akhirnya orang malas untuk beramal yang lain. Dakwah yang seperti ini menyenangkan, tetapi tidak memberi perubahan. Makanya kalau ada pejabat yang diundang, misalnya, maka dainya pasti orang yang ”itu-itu”; dai yang keras pasti tidak akan diundang. Dakwah yang tertawa-tawa boleh saja, tetapi kalau dari awal
hingga akhir terus tertawa saja, lebih baik jadi pelawak ia. Karenanya sekarang ini tidak ada dai yang stabil, umumnya ”naik” terus ”jatuh”.

Jadi, ibaratanya dalam memasang target, maka target itu setinggi-tingginya. Demikianlah mestinya dakwah itu. Kita pasang target A, kalaupun meleset masih bisa dapat B; biar dakwah ”keras’, tidak apa-apalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: