4 Maret

 

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 4 Maret 2007


TAFSIR SURAT AL BAQARAH :

SIFAT-SIFAT RAKYAT BANI ISRAIL

Ustadz : Sambo

clip_image001

Ada empat pilar untuk tegaknya suatu negara atau bangsa, yaitu: (1) Pemimpin, (2) Para Ulama, (3) Orang-orang kaya (pengusaha, yang menguasai ekonomi), dan (4) Rakyat biasa. Keempatnya itu menentukan keberhasilan suatu negara. Dari keempatnya, pemimpin itu sangat ditentukan oleh yang di bawahnya. Makanya dalam salah satu hadits Nabi menyatakan bahwa bagaimana kondisi masyarakat, seperti itulah pemimpinnya. Jadi, pemimpin itu sangat tergantung pada kondisi masyaraat suatu negara yang terdiri dari tiga kelompok itu : ulama, pengusaha, dan orang-orang biasa. Yang akan kita kaji adalah ulama Bani Israil. Mungkin juga ini sudah terjangkit pula pada kaum muslimin. Kaum muslimin akan beres kalau beres pula ulamanya, beres pengusahanya, dan beres rakyatnya. Dari situ akan terpilih pemimpin yang bisa memberesi negaranya. Sekarang mari kita kaji bagaimana pemimpin-pemimpin Bani Israil. Kita lihat surat Al Baqarah : 247:

clip_image002

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Yang memprotes itu adalah orang-orang kaya Bani Israil. Sekarang pun juga sama demikian, yang menjadi pemimpin itu sangat tergantung kepada para pengusaha. Mengapa? Karena mereka menjadi penyokong dana untuk kampanye, untuk mensosialisaikan program-programnya. Menurut informasi, untuk menjadi Presiden itu memerlukan dana minimal Rp. 200 milyar. Kalau ingin menjadi Gubernur, minimal harus tersedia dana puluhan milyar. Mengapa partai yang bersih tidak bisa mengusung gubernur atau presidennya sendiri? Karena tidak punya uang. Uang yang menentukan. Yang mempunyai uang itu adalah para penguasa ekonomi. Jadi, pemimpin itu sangat tegantung pada penguasa ekonominya. Kalau para penguasa ekonominya rusak, maka pemimpin yang terpilih juga akan rusak. Para penguasa ekonomi Bani Israil protes atas pemimpin yang dipilihkan untuk mereka. Kalau para ulamanya rusak, penguasa ekonominya juga rusak, rakyatnya pun demikian, pemimpinnya pasti akan rusak pula. Sifat-sifat Bani Israil ini merasuk pula ke dalam jantung kaum muslimin.

Bagaimana sifat-sifat masyarakat mereka? Ini bisa kita kupas satu per satu, yaitu : (1) Sering melupakan nikmat-nikmat dan peringatan-peringatan Allah, (2) Penakut, (3) Ngeyel dan (4) Licik (suka ngakalin).

1. Sering melupakan nikmat-nikmat dan peringatan Allah

Mereka sering melupakan nikmat dan peringatan Allah. Baru saja mereka mendapat kenikmatan, baru saja mendapat peringatan; mereka lupa akan kenikmatan dan peringatan itu. Begitu seterusnya, terjadi berulang-ulang. Misalnya, mereka diberi kenikmatan diselamatkan dari Fir’aun dan mereka dipindahkan ke negeri Muqaddas agar mereka bersyukur, cepat melupakan kenikmatan itu (Al Baqarah : 49), pada akhirnya tidak bersyukur.

clip_image003

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.

Setelah mereka ditampakkan mukjizat-mukjizat Allah, tidak pula bersyukur (Al Baqarah : 51), malah mengjadikan anak sapi menjadi Tuhan. Padahal baru saja mu’jizat ditampakkan, tiba-tiba anak sapi dijadikan Tuhan.

clip_image004

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.

Mereka ini kurang ajar! Pada ayat ke 55 dijelaskan kekurangajaran mereka, minta ditampakkannya Tuhan.

clip_image005

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.

Setelah itu mereka terkena petir, mati semuanya; kemudian dihidupkan kembali. Setelah dihidupkan kembali, mereka kembali lagi kurang ajar, tidak berubah lagi. Pada ayat yang lain, mereka dijadikan monyet dan babi; itu pun tidak membuat mereka sadar (Al Maidah : 60):

clip_image006

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Bagaimana kondisi masyarakat saat ini? Sudah banyak peringatan yang diberikan oleh Allah: terkena tsunami, kembali lagi. Terkena gempa, kembali lagi durhaka. Terkena banjir, kembali lagi bermaksiat. Terkena “Lapindo”, kembali lagi. Musibah yang menimpa kita sebagai peringatan Allah itu sudah terjadi berulang-ulang, tetapi tidak menjadikan pelajaran bagi kita. Terkena musibah “Adam Air”, kembali lagi. Terkena “Senopati”, kembali lagi. “Levina I”, balik maksiat lagi. Terus begitu perilaku kita. Yang seperti ini adalah penyakit-penyakit Bani Israil. Kalau kita pergi ke Aceh, misalnya, tidak ada orang yang takut akan kejadian tsunami lagi, mereka sepertinya sudah lupa; padahal baru dua tahun lewat. Kalau orang sudah sepe
rti ini, namanya ndableg, mestinya harus diapakan orang seperti ini? Padahal Allah berfirman dalam surat As Sajdah : 21:

clip_image007

Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Yang menimpa kita selama ini sebenarnya adalah masih adzab-adzab kecil, supaya nanti jangan terkena adzab yang besar; kalau kita kembali ke jalan yang benar. Tsunami di Aceh dan pantai selatan Jawa, gempa di Yogya, Levina I, dsb; itu sebenarnya musibah kecil. Allah memberikan musibah itu hikmahnya adalah supaya kita nanti tidak mendapatkan musibah yang besar. Seharusnya ini disyukuri, ibarat tubuh kita ada salah satu bagian yang sakit lalu diamputasi, itu bukan berarti dokternya kejam, tetapi untuk menyelamatkan kita. Bani Israil itu sudah diberi peringatan ini-itu, tetap ndableg saja. Jangan-jangan kita juga sudah terkena penyakit ini.

2. Penakut

Bani Israil itu pada dasarnya adalah penakut. Makanya mereka itu tidak berani perang satu demi satu. Sejak zaman Nabi Musa, mereka tidak pernah menang, sampai Thalut dibangkitkan baru mereka menang (dan sekarang ini mereka baru “di atas angin”). Dikatakan penakut, karena mereka lari dari perang; melawan Fir’aun mereka tidak berani, mereka menyeberang ke laut, diselamatkan oleh Allah. Ketika Nabi Musa mengajak perang dengan orang-orang yang berpenghuni di Baitul Muqaddas di mana tanah itu sudah ditinggalkan beribu tahun pun mereka tidak berani. Padahal kalau mereka berani masuk saja (tidak perang), mereka sebenarnya dijamin akan menang. Kita lihat firman Allah dalam surat Al Baqarah : 58:

clip_image008

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Ketika mereka lepas dari Fir’aun dan tiba di Baitul Muqaddas, ternyata di situ sudah ada penghuninya. Kata Allah, “Tanah itu sudah dijanjikan untuk kalian, masuk sajalah, nanti kalian akan menang; jangan khawatir. Tidak usah berperang, masuk saja, nanti kalian akan menang, kalian akan mendapatkan tanah itu”. Kalau mereka berani sedikit saja, mereka menang. Kalau kita perhatikan ayat tersebut, mereka disuruh masuk dalam keadaan bersujud, artinya masuk dalam keadaan tidak berperang, aman, paling cukup dengan negosiasi. Bagaimana lebih jelasnya, kita lihat dalam surat Al Maidah : 21 – 26:

clip_image009


Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

clip_image010

Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”

clip_image011

Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni`mat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

Padahal mereka hanya disuruh masuk saja melalui pintu gerbang, yang dalam surat Al Baqarah di atas dijelaskan masuk dalam keadaan bersujud, sudah dijanjikan kemenangan. Tetapi mereka takut, tidak berani masuk. Mereka takut terhadap penghuni Baitul Muqaddas yang mereka sebut sebagai jabbaariin (orang-orang yang gagah perkasa). Mereka khawatir akan kalah. Padahal mereka disuruh masuk melalui pintu gerbang, artinya masuk secara resmi, tidak berperang; tetapi mereka penakut. Bagaimana kurang ajarnya mereka? Ayat berikutnya dijelaskan:

clip_image012

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”

Inilah kurang ajarnya mereka, disuruh masuk, mereka malah mengatakan seperti itu, “Kau saja, hei Musa, bersama Tuhanmu. Kalau nanti kau menang, kami akan masuk”. Itulah penyakit Bani Israil. Akhirnya tanah itu diharamkan bagi mereka. Jadi, mereka sekarang ini tidak mempunyai hak atas tanah itu, seperti dijelaskan pada lanjutan ayat-ayat berikut ini:

clip_image013

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”

clip_image014

Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.”

Mereka diharamkan atas tanah itu. Kita perhatikan ayat 26 di atas, ada tanda “titik tiga
pada kata “arba’iina sanatan”, itu artinya penafsirannya berhenti sampai di situ. Mereka dihukum dua kali: tanah itu diharamkan bagi mereka dan mereka selama empat puluh tahun terombang-ambing di tanah yang tandus. Tetapi tanah itu tetap diharamkan bagi mereka, sampai sekarang. Makanya sekarang ini terus terjadi perlawanan atas pendudukan mereka. Sekarang saja mereka baru kembali, dan di atas angin; dulunya mereka tidak berani. Dulunya yang menguasi tanah itu adalah orang-orang Romawi, di bawah kekuasaan Kaisar Roma. Mengapa saudara-saudara kita di Palestina tidak tekut berperang kepada mereka meskipun hanya bersenjatakan ketapel? Karena mereka tahu bahwa Bani Israil itu penakut. Akhirnya ketapel dibalas dengan senjata, memakai tank, orang-orang yang lemah (perempuan, anak-anak) yang dilawan. Coba satu lawan satu? Sama-sama memakai pistol, atau berkelahi dengan tangan kosong? Mereka tidak akan berani. Makanya perjuangan di Palestina itu tidak pernah habis, karena mereka mengetahui sejarahnya. Kita pun sebenarnya tidak boleh takut kepada mereka.

3. Ngeyel

Bani Israil itu mempunyai sifat ngeyel, ada saja alasan dan dicari-cari alasan itu untuk menghindar dari kewajiban atau tugas, mencari celah-celah hukum supaya terhindar dari hukum itu. [Apa artinya ngeyel? Ini adalah bahasa Jawa, sulit untuk mencari padanan katanya. Sama seperti kata ndableg, sulit mencari padanannya. Dari ucapan katanya sudah bisa ditebak maknanya].

Bagaimana ngeyelnya Bani Israil? Dijelaskan oleh Allah dalam surat Al Baqarah : 67 – 71:

clip_image015


Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.

clip_image016

Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.

clip_image017

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

clip_image018

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

clip_image019

Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

3. Licik

Bani Israil itu licik, mencari-cari dalil supaya terbebas dari hukum Allah. Oleh Allah mereka dilarang mancing pada hari Sabtu. Mereka mengakalinya. Karena Bani Israil itu terlalu cinta dunia, pada hari Sabtu mereka tidak boleh bekerja. Dalam istilah kita mungkin itu hari nyepinya. Larangan ini diberikan kepada Bani Israil yang tinggalnya dekat Laut Merah. Memang di hari Sabtu itu iuji oleh Allah, ikan di laut sangat banyak, bermunculan, seakan-akan tinggal mengambil saja, tidak perlu repot-repot; seperti ikan yang ada di kolam yang sedang diberi makanan, berkumpul di permukaan. Kita perhatika firman Allah dalam surat Al A’raaf : 163:

clip_image020

Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.

Justru di hari Sabtu itu ikan mengapung-apung. Tetapi ketika bukan hari Sabtu, ikan sulit ditangkap. Itulah ujian bagi mereka. Di mana liciknya? Mereka memasang perangkap (bubu) pada hari Jum’at, hari Sabtunya dibiarkan, ikan masuk ke dalam perangkap itu; pada hari Minggu diambilnya. Mereka berdalih: “Kami dilarang bekerja pada hari Sabtu, dan pada hari Sabtu memang kami tidak bekerja. Kami bekerja pada hari Jum’at dna hari Minggunya, bukan hari Sabtunya”. Ini sama halnya dengan liciknya orang yang bakhil kalau disuruh berinfaq: sejumlah uang yang akan diinfaqkan dihamburkan ke udara sambil mengtakan, “Ya Tuhan, ambillah seberapa banyak yang Engkau mau. Sisanya kembalikan kepada kami”. Uang yang jatuh lagi diambilnya lagi, berarti Tuhan tidak mau mengambil uang yang terjatuh itu. Ini namanya licik. Kalau uang dilempar ke atas, berapa sisanya yang jatuh? Semuanya, tidak berkurang. Artinya ia memang tidak mau berinfaq. Ini namanya licik. Sekarang banyak kaum muslimin yang meniru-niru semacam itu, misalnya: “Dilarang makan daging babi”, berarti yang dilarang adalah dagingnya, berarti minyaknya tidak dilarang! Misalnya lagi: “Dilarang minum minuman yang memabukkan”. Jawabannya, “Saya minum tidak mabuk, berarti tidak apa-apa, asal tidak mabuk”. Dicari-cari alasan, supaya terbebas dari hukum. Atau, “Dilarang makan riba berlipat ganda”, jawabannya: “Saya hanya makan 2-3% saja koq!”. Ini namanya mencari celah-celah supaya terbebas dari hukum. Penyakit seperti ini merasuk juda ke dalam kaum Muslimin. Lanjutan ayat itu menerangkan bahwa mereka bertanya untuk menghindar dari hukum itu (Al A’raaf : 164):

clip_image021

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”.

Dalam bahasa kita mereka mencari justifikasi, pembenaran atas perbuatan mereka. Sama seperti ketika mereka disuruh memotong sapi, banyak alasan yang disampaikan (Al Baqarah : 67-71). Mereka bertanya dengan tujuan supaya terbebas dari perintah itu. Banyak pertanyaan yang diajukan. Hebatnya Allah, satu pertanyaan, dua jawabannya. Pertanyaan kedua, tiga penjelasannya. Pertanyaan ketiga, empat jawabannya. Pertanyaan yang pertama, “Berapa umurnya?”. Jawabannya, “Tidak tua dan tidak muda”. Pertanyaan kedua, “Apa warnanya?”. Bukan langsung dijawab, “Warnanya kuning”, tetapi bunyinya, “Kuning warnanya, kuning tua warnaya dan orang yang melihatnya sangat menyenanginya”. Pertanyaan keempat: “Sapi betina yang bagaimana?”. Jawabannya diberi empat alasan: (1) tidak dipakai untuk membajak tanah, (2) tidak pernah dipakai untuk mengairi tanaman, (3) tidak ada cacatnya, (4) tidak ada belangnya. Akhirnya mempersulit diri sendiri, mencari sapi betina: tidak tua, tidak muda, dst, hingga ada 9 persyaratan. Oleh karena itu umat Islam itu dilarang mencari-cari pertanyaan, apa yang disuruhnya kerjakan. Kalau memang tidak tahu lalu salah, akan dimaafkan. Kalau bertanya-tanya, malah akan memberatkan. Ini adalah ketika hukum belum turun. Kalau sekarang tidak apa-apa bertanya, karena hukum telah turun. Pada jaman Nabi, sahabat dilarang banyak bertanya. Kata Nabi, “Apa yang aku berikan, terima saja; apa yang aku perintahkan kerjakan, apa yang aku larang tinggalkan; jangan seperti Bani Israil”. Kita lihat dalam surat Al Maidah : 101:

clip_image022

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah mema`afkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

clip_image023

Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.

Kalau mau bertanya, maka bertanyalah tentang hal-hal yang tidak jelas saja, “Ini maksudnya apa ya rasululllah?”. Jangan bertanya tentang suatu hukum yang hukum itu belum ada. Kita bisa terkena hukum itu. Yang tadinya belum ada menjadi ada. Makanya Umar bin Khatab ketika ditanya oleh seseorang, “Wahai Umar, bagaimana hukumnya tentang sesuatu (misalnya kalau untuk kita: shalat di bulan)?”. Kata Umar, “Sekarang sudah terjadi atau belum?”. Kata orang itu, “Belum”. Jawab Umar, “Nanti saja kalau peristiwa itu sudha terjadi”. Kalau sudah kejadian, baru ditanyakan. Memang ada orang yang bertanya tentang sesuatu yang aneh-aneh, “Kalau begini bagaimana, kalau begitu bagaimana?”. Nanti saja kalau memang betul telah terjadi. Itulah penyakit Bani Israil, mencari celah hukum dan banyak bertanya supaya terhindar dari hukum. Dan ini banyak pula dilakukan oleh orang-orang sekarang. Pertanyaannya untuk menjustifikasi perbuatannya, seperti: “Ustadz, kalau buka aurat itu boleh tidak?” Yang bertanya itu pakaiannya terbuka, sangat minim. Jawabannya bagaimana? Kalau yang bertanya adalah orang yang memakai jilbab, jawabannya mudah: “Wajib”. Pertanyaan yang seperti ini menyulitkan untuk menjawabnya. “Saya dengar dari ustadz yang lain, tidak apa-apa membuka sedikit-sedikit”. Ini pertanyaan untuk menjustifikasi dirinya. Maka jawabannya: “Mau jawaban yang enak atau jawaban yang benar”. Kalau mau jawaban yang benar, maka “begini” jawabannya. Kalau benar belum tentu enak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: