9 Juli

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 9 Juli 2006

SHALAT SEBAGAI OBAT PENYIMPANGAN SPIRITUAL

Oleh : Ustadz Sambo

clip_image001

Pada pertemuan yang lalu kita telah membahas tentang penyimpangan-penyimpangan spiritual. Sekarang kita akan mengkaji terapinya, dalam shalat terapi itu ada pada bab mananya. Secara umum di dalam Al Qur’an dinyatakan bahwa shalat itu adalah obat atau pencegah dari perbuatan keji dan munkar atau penyakit-penyakit yang bersifat spiritual;. Yang menjadi pertanyaan adalah pada bab mana dalam shalat itu yang menjadi obat. Inilah yang akan kita kaji sehingga kita nanti dalam melaksanakan shalat menjadi lebih merasakan: kalau mengerjakannya begini, efeknya begini, dsb. Dengan demikian shalat itu menjadi lebih terasa dalam pelaksanaannya.

I. Melakukan Dosa Besar

Kita tahu bahwa penyimpangan spiritual yang pertama adalah melakukan dosa besar. Ada dosa besar yang sifatnya sedang, dan ada pula dosa yang sangat besar, yang memang besar. Kalau dosa besar yang tingkatannya sedang itu adalah dosa yang tanpa hukuman fisik, tidak ada ta’dzirnya. Tetapi kalau yang besar-besar, ada hukumannya. Bahkan ada dosa yang paling besar, yang itu sangat membahayakan, yaitu: syirik, sihir, dan hal-hal yang membawa kepada kemusyrikan dan kekafiran. Pekerjaan-pekerjaan dosa besar itu obatnya di dalam shalat di mana?

1. Wudhu yang sempurna

Obat yang pertama adalah pada pelaksanaan wudhu yang sempurna. Wudhu yang sempurna itu akan mampu membersihkan penyimpangan-penyimpangan spiritual, bukan hanya sebagai pembersih yang sifatnya fisik saja, melainkan juga mampu memberikan dorongan kekuatan agar orang yang melakukannya menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar, menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Tentu saja ini adalah wudhu yang sempurna, bukan sembarangan wudhu. Seperti apa wudhu yang sempurna itu, kita ulang kajian kita tentang wudhu ini, yaitu wudhu yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan. Kita mulai dengan membaca basmallah, terus membasuh anggota tubuh kita. Setiap kita membasuh anggota tubuh itu, kita harus ingat kepada Allah SWT.

Pada waktu kita membasuh telapak tangan kanan, misalnya, kita berdoa dalam hati, “Ya Allah, bersihkan dosa dan kesalahan tangan kananku.” Ketika membasuh tangan kiri, berdoa, “Ya Allah, bersihkan dosa dan kesalahan tangan kiriku.” Ini kalau kita kita kerjakan dengan benar, akan efektif. Di samping membersihkan dosa yang ada di kedua tangan, juga mencegahnya. Orang yang benar-benar ikhlas dan menyadari apa yang diucapkannya ketika berwudhu itu dalam hatinya, akan efektif mencegah dari perbuatan dosa.

Ketika berkumur-kumur, maka orang yang suka mengomel, suka ngerumpi, menceritakan aib orang, marah-marah melulu, sembarangan ngomong, mencaci maki; berdoa, “Ya Allah, bersihkan dosa dan kesalahan mulutku…”. Tiga kali kita lakukan itu semua dengan keikhlasan, maka efeknya terhadap pembersihan dan pencegahan dosa di mulut ini akan sangat terasa. Tetapi kalau berwudhunya sembarangan, efeknya tidak terasa. Atau, berwudhu ya berwudhu, setelah itu ngomongin orang lagi. Berarti apa yang diucapkan ketika berwudhu itu tidak diresapinya. Kalau kita akan berbuat dosa, apabila kita meresapi apa yang kita ucapkan dalam wudhu, maka kita akan merasa ngeri. Dengan begitu tidak mungkin tangan ini akan korupsi, akan menyakiti orang lain, akan mendzalimi orang lain, akan mengambil hak-hak orang lain. Kita berdoa, “Ya Allah, bersihkanlah dosa dan kesalahan dari kedua tanganku….” Boleh juga doa itu ditambah, “Cegahlah ia dari perbuatan yang buruk.” Tetapi itu semua dilakukan dalam hati. Ini akan membawa pengaruh dalam diri kita.

Pernah dilakukan penelitian tentang kekuatan (nilai) air. Ternyata air dan seluruh alam semesta ini mempunyai “jiwa”. Alam ini bukan hanya fisik semata, tetapi juga mempunyai jiwa. Air, misalnya, selain keberadaan fisiknya, tetapi juga mempunyai jiwa. Oleh karenanya kalau kita minum haru membaca bismillaah. Makanan, misalnya, juga mempunyai jiwa. Jadi, ia punyai fisik, dia juga berjiwa. Kalau kita memandang bahwa semua itu mempunyai jiwa, maka tentu akan berbeda memperlakukannya. Makanya kita dilarang, agar jangan membuat kerusakan alam semesta ini. Kita perhatikan fiorman Allah dalam surat Ali Imron (3) : 83:

clip_image002

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa semua apa yang ada di langit dan di bumi ini bertasbih kepada Allah, tunduk patuh kepada aturan Allah. Kalau ada kata “tunduk-patuh”, itu berarti ditujukan kepada yang mempunyai jiwa. Itu adalah bahasa untuk manusia. Tunduk-patuh itu baik dalam keadaan sukarela maupun terpaksa. Dalam beberapa surat kata “tunduk-patuh”, “bertasbih” ini disebutkan. Misalnya pada awal surat Al Hadiid (57), surat Al Hasyr (59), surat Ash Shaaf (61), aurat Al Jum’ah (62), dan surat At Taghaabun (64) dinyatakan:

clip_image003

Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Apa makna bertasbih? Yaitu tunduk-patuh. Kata-kata itu seolah-olah ditujukan kepada manusia, ditujukan kepada yang berjiwa. Bahkan pada ayat lain dinyatakan bahwa bukan hanya bertasbih, tetapi juga shalat. Pekerjaan shalat itu pekerjaan siapa? Manusia, makhluk yang berjiwa. Kita lihat pada surat An Nuur : 71:

clip_image004

Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat (sembahyang) dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Dalam ayat tersebut digunakan kata “alam taro”. Dalam Al Qur’an kalau dinyatakan dengan “alam taro”, berarti di baliknya itu ada peristiwa yang sangat besar, beyond our imagination, artinya “Tidakkah kau lihat ….” Atau “Tidakkah kau perhatikan ….”. Apa yang diceritakan setelahnya adalah hal-hal yang di luar bayangan kita, sebagaimana dijelaskan pada ayat di atas. Bertasbih itu adalah pekerjaan makhluk yang berjiwa. Bahkan di ujung ayat tersebut dinyatakan bahwa mereka mengerti juga cara shalatnya. Mungkin air mengalir itu adalah cara ia bertasbih dan shalat. Angin berhem
bus itu juga demikian itu caranya bertasbih dan shalat. Kalau itu kita kaji dalam-dalam, maka sangat ngeri kekuatannya. Jadi, semua ini adalah berjiwa. Makanya kita tidak boleh sembarangan, misalnya, mau berbuat dosa di kamar. Kursi-kursi itu akan menjadi saksi. Kata kursi nanti di hari akhir, “Ngapain loe?!”. Misalnya nanti berkilah, “Siapa saksinya yang melihat saya?”. Benda-benda di sekelilingnya itulah saksinya.

Pada suatu hari pernah rasulullah tersenyum setelah menerima wahyu, para sahabat diam saja. Kata Nabi, “Hei, apakah kalian tidak ada yang bertanya mengapa aku tersenyum?’. Salah seorang sahabat berkata, “Saya sebenarnya ingin menanyakan hal itu, ya rasulullah”. Kata nabi, “Ada seorang hamba di hari kiamat terjadi perdebatan dengan Allah”. Hamba itu banyak dosanya, tetapi ia mengaku tidak berbuat dosa. Kata hamba itu, “Mana saksinya kalau saya berbuat dosa?”. Kata Allah, “Kaki dan tanganmu yang menjadi saksi”.

clip_image005

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yaasin : 65).

Hamba itu membantahnya, “Aku ingin saksi yang lain, ya Allah”. Allah pun didebatnya. Kata Allah, “Karpet dan dinding-dinding itulah saksi yang lainnya!”. Karpet pun bersaksi. “Benar ya Allah, pada waktu itu ia berguling-guling….”. Nah, rasain loe!!! Jadi semua yang ada di sekeliling kita nanti akan menjadi saksi. Dinding-dinding itu mempunyai mata. Alam pun bia diajak dialog. Sebagaimana telah kita bahas bahwa Umar bin Khatab pernah mengirim surat kepada Sungai Nil yang pada saat itu sedang surut, sehingga terjadi kekeringan. “Bismillaahir rahmaaanir rahiim. Hei Sungai Nil, kau adalah hamba Allah, aku pun hamba Allah. Kuperintahkan kau untuk meluap”. Tidak lama kemudian sungai Nil pun airnya naik. Mengapa bisa begitu? Itu karena kekuatan iman Umar bin Khatab. Coba kalau kita mengirim surat kepada Sungai Ciliwung, misalnya, kata sungai Ciliwung, “Memangnya loe siapa?!”. Itulah power orang yang beriman. Nabi Sulaiman, misalnya, bisa memerintahkan angin. Berarti angin itu berjiwa, bisa diperintah. Kita lihat di dalam surat Al Ahzaab (33) : 72;

clip_image006

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

Langit menolak amanah yang diberikan oleh Allah. Berarti langit itu mempunyai jiwa. Bumi, gunung pun menolak. Berarti itu semua berjiwa. Kalau demikian adanya, berarti kita dilarang membuat kerusakan. Dalam salah satu riwayat pernah Nabi ketika sedang berkhotbah duduk di atas batang kurma yang sudah lapuk. Lalu Nabi tidak duduk di situ lagi. Suatu saat nabi mendengar ada yang menangis, ternyata yang menangis itu adalah batang kurma itu. Menagapa ia menangis? Karena merasa sudah tidak diduduki oleh Nabi lagi. Batang kurma pun bisa menangis, berarti ia mempunyai jiwa. Jadi, kita harus berhati-hati, mandi misalnya (maaf) dengan bugil; tembok dan air itu menjadi saksi, melihatnya. Jadi, jangan sembarangan. Kalau kita mengetahui seperti itu, maka kita tidak akan sembarangan memperlakukan air, misalnya.

Kalau kita berdoa dalam wudhu ketika membasuh anggota tubuh, maka yang dibasuh itu, yang dibersihkan itu bukan hanya fisik saja, tetapi jiwa air itu juga membersihkan jiwa kita. Itulah sebabnya mengapa kita tidak boleh memakan atau minum yang haram. Kalau kita makan dari hasil curian, misalnya, memang mungkin fisik kita bagus, tetapi jiwa kita rusak. Fisik yang kita makan mungkin bagus, tetapi jiwa makanan itu rusak. Sepertinya ini tidak logis. Ini tidak bisa pakai logika. Kata Nabi bahwa setiap barang yang haram, maka neraka yang pantas baginya. Itu disebabkan bukan karena makan yang haram saja, tetapi dengan makanan yang haram itu membuat ia cenderung untuk berbuat yang haram, merusak dan akan mengganggu jiwa kita.

Jadi, ternyata semua barang itu berjiwa, jangan dirusak, tetapi perlakukan dengan baik. Oleh karenanya kita disuruh berdoa, kalau memakai baju baru, misalnya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan baju ini dan aku mohon kebaikan kepada-Mu kebaikan dari baju ini”. Apa maksud keburukan dan kebaikan baju itu? Seolah-olah baju itu bisa memberikan pengaruh baik dan bisa memberikan pengaruh buruk. Berarti ia berjiwa. Memang kajian seperti ini di luar logika kita. Dengan begitu maka membuat kita lebih berhati-hati. Oleh karena itu mari kita biasakan untuk selalu berbuat baik.

Dalam kisah Nabi Nuh, misalnya, Allah memerintahkan air untuk naik, sehingga terjadilah banjir yang luar biasa; kemudian memerintahkan bumi untuk menelannya. Kita lihat di dalam surat Huud (11) : 44:

clip_image007

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”

Oleh karena itu pantas saja ulama-ulama dulu itu bisa berkomunikasi dengan alam sekitarnya. Itu karena keimanannya, sehingga omongannya didengar oleh makhluk-makhluk Allah yang lain. Jadi, kita tidak boleh sembarangan terhadap alam.

Jadi, wudhu yang bagus, yang baik, akan memberikan pengaruh bagi jiwa kita. Ketika membasuh muka, maka itu akan memberikan pengaruh kepada muka kita. Pada waktu membasuh muka, misalnya, kita berdoa, “Ya Allah, jagalah kepala ini agar tidak memikirkan yang ngeres-ngeres, yang jorok-jorok, yang nggak bener”. Juga ketika membasuh kaki, berdoa. Kalau sudah seperti itu wudhunya, maka silahkan membuat maksiat, tetapi jangan menggunakan alat-alat wudhu. Jangan menggunakan mulut untuk ngomong, jangan menggunakan kaki untuk melangkah, jangan menggunakan tangan untuk menjamah, jangan menggunakan telingan untuk mendengar, dan jangan menggunakan kepala untuk memikir. Dengan begitu, bisa maksiatkah?

2. Doa setelah berwudhu

Doa setelah berwudhu pun memberi pengaruh. Kalau wudhu itu pengaruhnya pada efek airnya, sekarang pada efek doanya. Kita berdoa setelah berwudhu, “Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluuhu. Allaahummaj’alni minat tawwabiina waj’alni minal mutathohhiriin, Ya Allah jadikanlah aku orang yang selalu bertaubat dan jadikanlah aku orang yang selalu bersuci. Bacaan-bacaan dalam wudhu dan shalat itu bukan bacaan yang kering, tetapi bacaan yang penuh dengan makna.

3. Doa iftitah

Obat yang ketiga adalah bacaan dalam doa iftitah, “Allaahumma ba’id baini wa baina khothoyaya kamaa ba’adta bainal masyriki wal maghribi, Ya Allah jauhkanlah aku dari kesalahan-kesahalan sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat”. Doa ini memberikan pengaruh a
gar kita dijauhkan dari dosa. Setiap dosa yang kita baca dengan kesungguhan dan keikhlasan, akan dikabul oleh Allah SWT, sebagaimana firmannya:

clip_image008

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al Baqarah : 186).

Atau firman-Nya dalam surat Al Mu’min (40) : 60:

clip_image009

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.

Kalau kita berdoa dalam iftitah itu dengan benar, “Jauhkan aku dan dosaku sebagaimana Engkau jauhkan antara Timur dan Barat”, maka doa itu akan dikabulkan oleh Allah. Kalau seperti ini, kita akan dijauhkan dari maksiat.

Kalau dalam berwudhu orang dengan benar berdoa, doa setelah wudhunya juga benar, demikian juga benar dalam doa di dalam shalatnya, maka akan jauh dari perbuatan keji dan munkar. Artinya, kita diberi kekuatan oleh Allah dijauhkan dari perbuatan dosa. Apakah kita pernah merasakan malas kalau berbuat dosa? Atau merasakan tidak suka kalau berbuat dosa? Atau semacam dorongan untuk tidak mau berbuat dosa? Berarti itu sudah diberi petunjuk oleh Allah SWT. Kalau sudah seperti itu, melihat orang yang berpakaian minim, bukannya senang, tetapi malah malas. Tetapi kalau melihat orang berpakaian minim, hatinya berpikiran yang tidak-tidak, maka itu kecenderungan terjadi penyimpangan. Kalau kita sudah merasa benci terhadap perbuatan keji dan munkar, berarti doa kita dikabul, Allah sudah memberi kekuatan kepada kita.

4. Doa dalam Al Fatihah

Pada saat kita membaca surat Al Fatihah, kita berdoa:

clip_image010

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ini adalah doa yang sangat efektif untuk menyembuhkan penyimpangan spiritual. Yang dimurkai itu berarti kufur, yang sesat itu syirik. Dengan begitu kita dijauhkan dari perbuatan kufur, munkar dan sesat. Kalau sudah begitu, nanti akan ada suatu kekuatan yang mendorong kita untuk menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa besar. Tetapi kalau terasa berat dalam menjalankannya, ya perlu terus dilatih, perlu proses. Kita mulai dari shalat, nanti akan ada pengaruhnya terhadap yang lain. Perbaiki shalat-shalat kita. Makanya kata Allah bahwa kalau shalatnya benar, maka orang ini akan jauh dari perbuatan keji dan munkar. Jadi, perbaiki-perbaiki dan perbaiki shalat itu, nanti akan ada pengaruhnya.

II. Hambar/gersang dalam ibadah

Penyimpangan yang kedua adalah hambar atau gersang dalam menjalankan ibadah. Ini ada tingkatan-tingkatannya. Kalau masih hambar saja, tetapi masih rutin mengerjakannya; hitungannya masih penyimpangan kecil. Tetapi kalau sudah hambar, lalu itu membuat kita menjadi belang-bentong menjalankannya, itu sudah mulai berat. Apalagi kalau sampai meninggalkannya, artinya itu sudah hancur. Hambar di sini, misalnya, kalau berdoa terasa hambar, tidak terasa, apa yang diucapkan tidak meresap dalam hati. Bahkan apa yang diucapkannya lupa setelahnya.

Shalat pun bisa hambar, sekedarnya saja. Kalau sudah hambar, bawaannya malas, gersang; jadinya berat melaksanakannya dan lama-lama bosan, akhirnya ditinggalkan. Ini tidak hanya ibadah shalat, tetapi termasuk juga ibadah-ibadah yang lain-lain. Sedekah, misalnya, hambar. Ngaji hambar, puasa terasa hambar. Tetapi yang paling terasa itu kalau shalat kita hambar. Apa obat hambar ini dalam shalat?

1. Mengubah Paradigma

Penyebab pertama ibadah menjadi hambar itu karena melaksanakannya ikut-ikutan, atau hanya sebatas membayar kewajiban. Makanya mulai sekarang agar shalat tidak menjadi hambar, ya jangan begitu. Paradigmanya harus diganti atau diubah; termasuk ibadah yang lain: dari sekedar kewajiban menjadi kebutuhan, apalagi menjadi rasa syukur. Dengan demikian shalat itu menjadi suatu kebutuhan. Yang menjadikan hambar itu karena melaksanakannya hanya sekedar kewajiban saja. Tetapi kalau itu menjadi suatu kebutuhan, akan terasa berbeda. Apalagi kalau shalat itu dijadikan sebagai rasa syukur, tingkatannya lebih tinggi lagi.

2. Memahami apa yang dilakukan

Penyebab hambar yang berikutnya adalah karena kita tidak paham apa yang kita lakukan. Mulai sekarang, agar ibadah itu tidak hambar, khususnya shalat, maka kita harus mulai memahami bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan dalam shalat. Kalau belum mengerti bacaannya, belajar sampai mengerti.

3. Khusyu’ dan sadar

Penyebab hambar yang ketiga adalah karena pikiran kita kacau, menerawang ke mana-mana. Untuk menghilangkannya kita mesti khusyu’ dan sadar apa yang kita lakukan.

4. Mengetahui manfaat

Mengapa ibadah bisa hambar? Karena tidak tahu apa manfaat ibadah atau manfaat shalat itu. Kalau kita mengetahui manfaat shalat, kita akan selalu berusaha untuk menyempurnakannya. Oleh karena itu mulai sekarang kita harus belajar tentang manfaat-manfaat shalat, sehingga tidak hambar mengerjakannya. Sama halnya dengan puasa dan ibadah-ibadah yang lainnya, kalau kita mengetahui manfaatnya, maka akan bersegera untuk mengerjakannya. Kita perhatikan firman Alalh dalam surat Al Jumu’ah (62) : 9:

clip_image011

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Kalau orang mengetahui betapa banyaknya kebaikan-kebaikan yang ada dalam shalat, pasti akan segera meninggalkan apa yang sedang dikerjakannya dan segera menuju shalat. Oleh karena itu supaya ibadah shalat kita bisa memberi pengaruh kepada ibadah yang lain, supaya tidak hambar dalam ibadah, mari kita belajar memahami manfaat-manfaat shalat itu. Kalau kita tahu manfaat ruku’, misalnya, akan terasa nikmat melakukannya. Demikian pula waktu sujud.

Coba kita perhatikan, mengapa orang-orang pada semangat ikut senam pada pagi begini? Kita yakin betul bahwa yang ikut senam sebagian besar adalam muslim. Coba bandingkan jumlah orang yang senam di sana dengan orang yang shalat shubuh di masjid ini, mana yang lebih banyak? Banyak yang ikut senam! Padahal nabi mengatakan, “Seandainya kalian tahu betapa besar keuntungan shalat Isya dan shubuh di masjid, maka
kalian akan mendatanginya walaupun itu dengan merangkak.” Mengapa di sana yang ikut senam berbondong-bondong? Ini karena masalah ketidaktahuan. Mereka berbondong-bondong senam, karena mereka tahu manfaat senam. Mengapa tidak shalat di masjid? Karena tidak tahu manfaatnya. Kalau tahu manfaatnya, akan didatanginya.

Yang namanya olah raga itu manfaatnya hanya bersifat isometrik, hanya manfaat fisik saja, kesehatan fisik saja. Berapa jam sih senam di sana itu? Katakanlah satu jam, mengapa tidak kita pakai shalat, misalnya, satu jam? Apa bedanya? Padahal shalat itu juga “senam”. Kalau senam itu hanya sekedar isometrik, fisik saja; tetapi shalat itu bukan hanya isometrik, tetapi juga isotonik: ada manfaat jiwa, pikiran, emosional. Shalat itu jauh lebih banyak manfaatnya. Maslahnya apa? Karena tidak tahu, tidak mengerti. Kalau mengerti manfaatnya, maka akan berbondong-bondong shalat. Kalau shalatnya benar, tidak perlu senam. Buat shalat itu menjadi satu jam, misalnya, akan terasa jauh lebih enak daripada senam. “Tapi ustadz, kan pegel shalat satu jam itu?!” Apakah senam tidak pegel? “Ustadz, kalau senam kan bisa keluar keringat?!”. Coba buat ruku’nya setengah jam setiap rakaat, akan keluar keringat! Buat bacaannya 50 kali, sujudnya setengah jam. Shalat pun “olah raga”, tetapi mengapa tidak dikerjakan, tetapi yang dilakukan adalah senam? Kembali lagi karena tidak tahu manfaatnya. Padahal manfaatnya jauh lebih besar: menyangkut manfaat fisik/isometrik dan isotonik. Oleh karena itu, sekali lagi, mulai sekarang kita pelajari manfaat-manfaat shalat, sehingga menjadi lebih bersemangat mengerjakannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: