9 April

MASJID AL FALAH YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 9 April 2006

PENDALAMAN TENTANG SHALAT KHUSYU’: KOMPONEN SHALAT KHUSYU’

Oleh : Ustadz Sambo

clip_image001

Pada minggu yang lalu kita telah membahas salah satu komponen shalat yang harus kita amalkan adalah pengamalan nilai-nilai shalat. Shalat yang dikatakan benar adalah shalat yang dilakukan oleh seseorang dan dia mengamalkan nilai-nilai yang ia baca, yang ia lakukan di dalam shalat itu di luar shalat. Ketika dia berwudhu, misalnya, orang yang wudhunya benar adalah orang yang di luar wudhu senantiasa mengamalkan nilai-nilai wudhu itu.. Orang yang di dalam shalatnya menutup aurat, maka di luar shalat ia berusaha untuk menutup aurat, baik aurat fisik maupun aurat batin. Orang yang di dalam shalatnya selalu menghadap kiblat atau bersih tempat dan pakaiannya, maka di luar shalat pun ia juga “menghadap kiblat” dan juga menjaga kebersihan. Ini semua ditinjau dari segi persiapan shalat.

Dari segi pelaksanaan shalat, dalam shalat seseorang membaca takbir, Allaahu Akbar, maka di luar shalat pun juga Allaahu Akbar, yang paling besar adalah Allah. Jangan sampai di dalam shalat “Allaahu akbar”, di luar shalat bukan Allah yang maha besar. Kalau seperti itu, menganggap Allah bukan yang maha besar, maka shalatnya adalah shalat bohong, shalat ABS (asal babe senang), shalat lip service. Tuhan itu tidak butuh dipuji-puji. Berbeda dengan manusia, ia senang sekali kalau dipuji. Sering manusia itu di depan memuji-muji, tetapi di belakang menginjak-injaknya. Kalau di muka atasan, wow, memuji-muji, tetapi begitu di belakangnya, atasan dikangkanginya, diinjak-injaknya, diejeknya. Dalam shalat pun ada yang demikian. Kalau sedang shalat, sampai menangis-nangis, “Ya Allah, Engkau maha besar, segala puji bagi Engkau”, tetapi di luar shalat Allah tidak dipandang rahman dan rahim, berprasangka buruk kepada Tuhan, Allah dikangkanginya. Dalam shalat dikatakan, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, hanya kepada Engkau kami menyembam ya Allah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”, tetapi di luar shalat lebih percaya kepada dukun, paranormal. Ini model shalat orang yang dusta, ia mengucapkan kalimat yang bagus-bagus, tetapi di luar shalat ia mencaci. Orang model seperti ini bukan mendapat nikmat dari Allah, tetapi justru mendapat murka; bukan menambah dekat kepada Allah. Allah berfirman di dalam surat Ash Shaff: 2-3:

clip_image002

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Ash Sahff : 2-3).

Shalat yang dilakukan seperti itu bukan menambah senang Allah, tetapi malah menjadi murka, karena di dalam shalat ia ngomong baik, di luar shalat sombong. Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana cara mengimplementasikan nilai-nilai shalat di luar shalat, nilai shalat tercermin di lura shalat? Dalam shalat kita ruku’, bisakah di luar shalat kita ruku’? Apa arti ruku’ itu? Tunduk pada aturan Allah. Dalam shalat kita sujud. Apa arti sujud? Merendah, tidak sombong. Jangan sampai di dalam shalat sujud, tetapi di luar shalat sombongnya minta ampun. Karena ia pemimpin, “Saya ini kepala kantor, pemimpin, tahu?!”. Padahal di dalam shalat kepala itu diungsep-ungsepkan ke lantai saat sujud, tetapi di luar shalat, mentang-mentang menjadi kapala, sombong. Begitu juga nilai-nilai keberjamaahan. Mengapa di dalam shalat berjamaah tangan diadukan, dirapatkan, dengan tangan jamaah di sampingnya? Itu menunjukkan keeratan, kekompakan. Shalat berjamaah itu hebat. Meskipun orang itu menjadi kepala, kalau ia di barisan belakang dalam shalat berjamaah, kepalanya “dipantati” oleh jamaah yang ada di depannya, kalau sujud kepalanya bias terkena kaki jamaah di depannya. Makanya kalau shalatnya benar, tidak ada orang yang sombong itu. Apa yang mau disombongkan?

Kini masalahnya adalah bagaimana mengimplementasikan ucapan dan gerakan dalam shalat ke dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini kan ada gap antara ucapan dan gerakan di dalam shalat dan di luar shalat, shalat itu urusan tersendiri, di luar shalat urusannya lain lagi; seolah-olah tidak ada hubungan. Padahal hubungannya sangat erat antara shalat dan di luar shalat. Yang dinamakan shalat khusyu’ itu adalah bagaimana agar apa yang ada dalam shalat itu tercermin di luar shalat. Itulah makna “tegakkan shalat”, harus ada imbasnya di luar shalat. Allah berfirman di dalam surat Al Mukminuun: 1-9:

clip_image003

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

clip_image004

(yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya,

clip_image005

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

clip_image006

dan orang-orang yang menunaikan zakat,

clip_image007

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

clip_image008

kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

cl
ip_image009

Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

clip_image010

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,

clip_image011

dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.

Orang yang shalatnya khusyu’ itu terefleksi dalam khidupan. Siapa orang yang shalat khusyu’ itu? Yaitu orang yang di luar shalatnya: 1) menjauhi perbuatan-perbuatan yang dilarang, 2) membayar zakat, orang yang khusyu’ itu ibadah yang lainnya juga baik, 3) menjaga kemaluannya, 4) amanah terhadap janjinya, dst. Oleh karena itu pada kesempatan ini akan dibahas lanjutan apa yang telah dibahas pada minggu yang lalu. Kalau itu dilaksanakan dengan benar, maka secara otomatis akan tercermin di dalam kehidupan.

Komponen shalat khusyu’ itu ada lima. Yang telah kita bahas adalah langkah-langkah shalat khusyu’ yang terdiri dari 12 langkah. Dari 12 langkah itu kita press menjadi 5 komponen shalat khusyu’. Kalau ini dilakukan, maka akan menjadi orang yang di luar shalatnya juga khusyu’! Kalau dari 5 komponen ini tidak lengkap, maka berarti shalatnya tidak khusyu’ lagi. Apa komponen-komponen sahalat khusyu’ itu?

1. Ikhlas

Shalat yang khusyu’ itu adalah shalat yang ikhlas. Kalau ada orang shalat karena riya’, berarti shalatnya tidak khusyu’. Allah berfirman di dalam surat Al Baqarah : 238:

clip_image012

Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu`.

Allah berfirman pula dalam surat Al Kautsar : 2:

clip_image013

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.

Shalat itu dilakukan karena Allah, bukan karena yang lain.

2. Sadar

Orang yang shalatnya khusyu’ itu sadar atas apa yang diucapkan dan dikerjakan. Sadar itu persamaan katanya adalah ingat, tahu apa yang sedang dan telah dikerjakan. Lawannya adalah lalai. Orang yang khusyu’ itu sadar, “Oh, saya sedang mengerjakan ini, mengucapkan itu”. Semua yang dilakukan dalam keadaan sadar. Lawannya shalat yang sadar adalah shalat reflek. Dalam shalat reflek itu yang bergerak, yang berbicara, adalah reflek atau sebagiannya adalah reflek, ingat-ingat sudah sujud. Itu masih syukur, payahnya kalau ingat-ingat sudah salam, atau ini 3 rakaat atau 4 rakaat? Jadi, sepanjang takbir sampai terakhir tidak sadar apa yang dibaca dan gerakannya. Ini namanya shalat reflek. Kalau reflek di luar shalat, bagus! Tetapi reflek di dalam shalat itu tidak bagus. Kalau reflek di dalam shalat, yang berbicara hanya mulutnya, yang bergerak hanya tangannya. Ini seperti zombie, mayat hidup yang bisa bergerak dan bisa ngomong. Shalat yang demikian itu disebut shalat zombie, sadar-sadar sesudah hampir selesai. Jangan-jangan tadi tidak membaca Al Faatihah, demikian kalau shalatnya tidak sadar. Makanya shalat itu harus sadar, semua gerakan dan bacaan itu dilakukan dalam keadaan sadar. Makanya dalam 12 langkah shalat khusyu’ itu diterangkan di setiap gerakan itu hati harus ikut berbicara. Usahakan hati ini ikut berbicara sadar, “Aku mau ruku’, aku mau i’tidal, aku mau sujud”. Gerakan-gerakan itu diperintahkan oleh hati kita. Kalau tidak, berarti gerakan dan bacaan belum sadar. Umumnya, karena sudah menjadi kebiasaan, jadinya reflek saja, seperti robot, seperti zombie. Jadi, shalat khusyu’ itu dilakukan dengan penuh kesadaran: wudhunya sadar, menutup auratnya sadar, bergeraknya sadar. Cobalah pada saat sujud, coba reverse ke belakang, ingat atau tidak gerakan atau bacaan yang telah kita lakukan. Jangan-jangan, “Wah, tadi surat yang saya baca apa ya?” Kalau Al Faatihah jelas, tetapi untuk surat yang sunah? Qulhukah? Inna a’thoinakah? Wal ‘ashrikah? Lupa!

3. Paham

Unsur yang ketiga adalah paham, yaitu paham apa yang dikerjakan dan paham apa yang dibaca. Paham makna bacaan dan makna gerakan. Paham itu berbeda dengan sadar. Kalau sadar, sekedar tahu apa yang sedang dilakukan atau dikerjakan. Tetapi kalau paham itu lebih kepada maknanya, yang dibaca itu apa sih? Misalnya kita membaca “Bismillaahir rahmaanir rahiim”, maka kita ikut berbicara seperti itu, berarti itu sadar. Yang namanya paham itu mengetahui apa makna Bismillaahir rahmaanir rahiim itu.

Shalat yang khusyu’ adalah shalat yang dikerjakan dengan pemahaman. Kalau tidak paham, berarti itu tidak khusyu’. Makanya mulai sekarang belajar tentang makna-makna bacaan yang kita baca di dalam shalat; minimal Al Faatihah, Allaahu akbar, doa-doa pendek: Qulhu, inna a’tahinakal kautsar, wal ‘ashri, masa tidak hafal dan tahu artinya? Sami’a Allaahu liman hamidah, doa ruku’, rabbighfirli…., dst. Kita mesti paham apa yang kita baca, minimal terjemahannya Kapan pemahaman itu dipakai? Itu dipakai pada setiap jedah antar gerakan dan bacaan. “Bismillaahir rahmaanir rahiim”, jedah lalu diartikan, “Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”. Artinya pun kita bicarakan dalam hati. “Rabbgihfirly”, artikan, “Ya Allah ampunilah aku”, “warhamny”, artikan, “sayangilah aku” diucapkan dalam hati, “wajburny” tutuplah aib-aibku, “warfa’ny” angkatlah derajatku, “warzuqny” berilah aku rejeki, “wa-‘aafiny” sehatkanlah aku, “wa’fu’any”, maafkanlah aku. Kalau ini sudah terbiasa, maka shalat itu akan terasa. Kalau tidak tahu maknanya, tidak mungkin akan terefleksi dalam shalat. Bacaan dalam shalat saja tidak tahu maknanya, bagaimana bisa terefleksi dan diamalkan di luar shalat? Ibarat orang ngomong, “I love you”, tetapi tidak mengerti maknanya, tidak tahu artinya; setiap ngomong diimbuhi “I love you”, padahal maksudnya tidak tahu. Bagaimana ia bisa mengamalkan “I love you” itu kalau artinya tidak tahu?

Allah berfirman di dalam surat An Nisaa’ : 43:

clip_image014

clip_
image015

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

Ayat itu menunjukkan bahwa kita tidak boleh mengerjakan shalat kalau tidak mengerti. Kalau tidak mengerti itu sama dengan shalatnya orang yang mabuk. Orang mabuk itu tidak mengerti apa yang dilakukan. Dalam hadis dinyatakan bahwa termasuk juga orang yang mengantuk. Kalau sudah ngantuk berat, bisa ngacau, tidak mengerti.

4. Tuma’ninah

Komponen yang keempat dalam shalat khusyu’ adalah tuma’ninah, tidak tergesa-gesa. Dalam istilah lain disebut sakinah, tenang. Kenapa? Karena setiap keterburu-buruan itu syaitan yang ndompleng. Makanya shalat itu jangan terburu-buru. Kalau sudah mulai cepat gerakannya, bacaannya; itu berarti reflek. Siapa yang mengomando gerakan, bacaan itu tenang? Hati, pikiran kita. Berarti kita harus selalu on, sadar. Namanya reflek itu tidak ada yang pelan-pelan, pasti cepat sssttt! Tidak pelan-pelan! Reflek itu pasti cepat. Makanya mulai sekarang membaca bacaan dan melakukan gerakan itu dengan perlahan-lahan. Kalau pun syaitan masuk, itu hanya sedikit saja, rentangnya sebentar saja. Mulai sekarang lakukan itu perlahan-lahan, tenang. Nabi mengatakan, “Atta’ani minallaahi wa ta’ajjalu minasy syaithooni, setiap ketenangan itu besaral dari Allah dan setiap yang terburu-buru itu datang dari syaitan”. Kalau kita shalatnya terburu-buru, itu syaitan masuk gampang saja. Kalau kita membaca bacaannya lancar banget, tahu-tahu waladh…dhoooollllliiiin, itu pertanda syaitan telah masuk. Mulai sekarang kita harus sadar dan pelan: mulai dari wudhu (persiapan shalat), sampai salam; lakukan semua dengan tenang.

5. Keyakinan

Komponen terakhir adalah keyakinan bahwa kita sedang berhadapan dengan Tuhan, sedang berkomunikasi dengan Tuhan. Lakukan komunikasi itu dengan tenang, pelan. Ini harus dilatih. Kalau komponen yang lima ini sudah bisa, wooww, shalat itu menjadi nikmat. Di situlah puncaknya, seolah-olah Tuhan ada di hadapan kita. Tetapi jangan dibayangkan dzat-Nya, kita tidak mampu; kita tidak boleh membayangkan dzat-Nya. Hati kita merasa dekat dengan-Nya. Allah berfirman di dalam surat Al Baqarah : 45-46:

clip_image016

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Artinya, curhatlah kalian kepada Allah. Memang shalat model begini ini sulit, kecuali orang yang khusyu’, yaitu orang yang yakin ketika shalat itu Allah mengdengarnya. Kalau shalat khusyu’, kita merasa Tuhan ada di dekat kita. Kata nabi, “An ta’budallaah ka-annaka taroka, fain lam takun fainnallaaha yaroka”, kalau engkau beribadah, maka seolah-olah engkau melihat Tuhan, kalau engkau tidak bisa melihat Tuhan, maka sesungguhnya Tuhan melihatmu. Tuhan jadi terasa dekat. Kalau sudah sampai tingkat ini, maka shalat itu lezat sekali. Ini perlu pelatihan, bagaimana caranya Tuhan itu “dihadirkan”.

Kalau kita ngobrol dengan kawan, itu dilakukan dengan lirih suaranya. Makanya dalam shalat pun juga demikian, seolah-olah kita ngobrol dengan Tuhan, “Inna sholaati wa nusuki wamahyaya wamamati liallaahi rabbail ‘alamiin”, dibaca dengan pelan dan lirih. Mungkin pada tingkat ini belum nyambung, nyambungnya nanti pada saat berdoa, pada waktu kita minta, pada waktu mengaggungkan Tuhan. Baca dengan pelan, “rabbighfirly”, ampunilah aku, dst… Dalam hadis qudsi dinyatakan bahwa terhadap apa yang kita baca itu Allah menjawab permintaan kita itu, terjadi dialog, tetapi kita tidak sadar. Kita ngomong ini, Allah membalasnya, teruuusss begitu. Ada yang mengatakan, “Lho, kalau Tuhan nyahutin saya, siapa yang nyahutin yang lain-lain?” Jangan seperti itu berpikirnya. Tuhan itu tidak seperti kita. Ini tidak bisa kita kaji, tidak bias kita logikakan. Jadi, minimal kita harus merasa dekat dengan Tuhan pada waktu berdoa. Kalau itu sudah matching, maka nanti mulai takbir dan bacaan lainnya, Tuhan terasa dekat dengan kita; minimal pada waktu berdoa, pada waktu kita membaca doa: iftitah, al fatihah, dll. Makanya bahasa doa itu adalah bahasa orang pertama dan orang kedua, kita sebagai orang pertama dan Tuhan sebagai orang kedua. Apa artinya bahasa orang pertama dan orang kedua? Berarti itu dilakukan oleh dua pihak yang sedang berhadap-hadapan. Semua doa bahasanya adalah bahasa orang pertama dan kedua. Tetapi kalau pujian, semua menggunakan bahasa ketiga. Bismillaahir rahmaanir rahiim, misalnya, itu pujian, menggunakan bahasa orang ketiga. Al hamdulillaahirabbil ‘aalamiin, itu pujian, bahasa orang ketiga. Arrahamaanir rahiim, pujian, bahasa orang ketiga. Maaliki yaumid diin, pujian juga, menggunakan bahasa orang ketiga. Tetapi, iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan, menggunakan bahasa orang pertama dan kedua, berisi permohonan, doa. Dengan menggunakan kata “Engkau”, berarti itu dilakukan dengan jarak dekat. Tetapi kalau menggunakan bahasa orang ketiga, dia, berarti itu jauh. Demikian juga kita melakukan dalam shalat. Makanya shalat itu hebat! Dahsyat! Dilanjutkan, ihdinash shiroothol mustaqiim, tunjukilah kami ke jalan yang benar. Ini menggunakan bahasa orang pertama, bahasa doa, permohonan.

Masalah seperti ini mesti dilatih, minimal saat berdoa. Kalau pada saat berdoa Allah sudah terasa ada di situ, nanti yang bukan doa bisa masuk. Kalaupun menghadirkan Tuhan pada saat doa juga tidak bisa, maka berdoalah dengan menggunakan bahasa sendiri, di dalam hati. Kapan itu dilakukan? Di waktu sujud ata di waktu duduk sebelum salam atau di waktu i’tidal pada rakaat terakhir (makanya doa qunut itu terletak di situ). Allah ada di dekatnya,mendengarkannya. Kita bisa berdoa dalam hati, “Ya Allah, hutangku banyak sekali, tolong ya Allah lunaskanlah….”, misalnya. Tidak apa-apa doa sambil menangis dan terdengar tangisnya, tetapi doanya jangan terdengar, cukup dalam hati. Kalau terdengar doanya dalam bahasa sendiri, shalatnya menjadi batal. Yang seperti ini tidak pernah kita lakukan, meminta kepada Tuhan dalam bahasa kita, tetapi di dalam hati dalam shalat. Di sinilah makna ayat, “Minta tolonglah kepada-Ku dengan shalat”. Kapan itu dilakukan? Pada saat membaca doa dalam shalat. Kalau diperdengarkan, gunakanlah bahasa Al qur’an atau dari hadis. Kalau Bapak Ibu di Mekah, misalnya, bisa mendengarnya pada saat shalat setelah tarawih, yaitu saat rakaat terakhir pada saat i’tidal shaalt witir, doanya bermacam-macam: doa dari hadis dan dari ayat Al qur’an, dan doanya panjang sekali, sampai menangis-nangis.

Bacaan minimal yang harus kita tahu artinya adalah bacaan-bacaan wajib di dalam shalat: 1) takbir, 2) al faatihah, 3) subhana rabbiyal az
him
, 4) sami’a Allaahu liman hamidah beserta rabbana lakal hamdu ….., 5) subhana rabbiyal a’la, 6) rabbighfirly warhamny …., 7) attahiyaatul ….. sampai allaahumma sholli ‘alaa muhammad, karena ini bacaan wajib, dan 9) salam.

Bagaimana kalau doa-doanya tidak hafal? Boleh menggunakan bahasa sendiri, tetapi jangan diucapkan , cukup dalam hati. Allah mendengar apa yang kita ucapkan dalam hati. Fasilitas meminta ini selama ini tidak pernah kita gunakan. Mulai sekarang, gunakan! Kita lebih suka berdoa di luar shalat daripada berdoa dalam shalat. Mengapa ini bisa terjadi? Karena yang kita pakai adalah yang standar-standar saja, itu pun tidak mengerti apa yang dibacanya. Saat duduk akhir sebelum salam, gunakan untuk berdoa, meminta kepada Allah. Kalau yang hafal hanya artinya, lupa ayatnya, boleh dibaca dalam hati. Sekarang ini orang banyak berdoa, tetapi tidak mengerti apa yang dimintanya. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah : 86:

clip_image017

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Mengapa Allah menurunkan ayat ini? Ini berkaitan dengan permohonan atau doa bahwa Allah itu tidak jauh, dekat. Oleh karena itulah maka mintalah. Kata Allah, “Mengapa kalian tidak tidak mau meminta?”. Mintalah, tetapi jangan membayangkan dzat-Nya, kita tidak akan pernah sampai, tetapi merasakan bahwa Ia dekat. Bahkan Allah itu lebih dekat dengan urat leher kita. Allah berfirman di dalam surat Qaaf (50): 16:

clip_image018

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,

Tetapi dalam meminta, jangan membayangkan dzat-Nya. Karena dekatnya dengan kita, maka suara hati kita pun Ia dengar, ia ketahui. Makanya, ngomonglah, mintalah. Kalau paham seperti ini, shalat kita akan semakin lama Berdoa, misalnya, “Ya Allah, uang belanjaku tidak cukup, suamiku cemberut terus ya Allah, dari tadi marah-marah terus….”. Pakai doa itu untuk memohon dalm shalat. Ini tidak pernah dipakai dalam shalat, sehingga menjadikan shalat kita gersang, karena diberi fasilitas tidak pernah digunakan, yang dipakai yang formal-formal saja, tidak mengerti pula artinya. Kalau ini dipakai? Shalat kita bisa setengah jam. Makin banyak masalah, makin lama shalatnya. Ini tidak pernah dipakai. Sekarang coba cari pempimpin mana, presiden mana yang punya hotline seperti ini? Atau tidak perlu presiden, camat atau lurah saja misalnya, apa ada yang punya hotline, atau ustadz, apa ada yang punya hotline seperti ini? Kan katanya kalau sudah ngomong dengan ustadz menjadi enteng. Coba cari, apa ada ustadz yang punya hotline? Tidak ada! Allah menyediakan hotline ini melalui shalat. Mengapa hotline ini tidak dipakai?!

Mulai sekarang, gunakan, pakai doa dalam bahasa sendiri, minta apa pun, tetapi dalam hati. Kalau mengerti bahasa arabnya, pakai! Memang lebih mantap kalau kita ikut ngomong, tidak dalam hati. Mengapa nabi shalatnya lama? Nabi setiap ada masalah selalu ngomong dengan Tuhan. Hanya saja kalau ngomong nabi memakai bahasa Arab, kalau kita kan tidak begitu. Karena itu gunakan bahasa sendiri, cukup dalam hati. Allah mengerti bahasa Sunda, Jawa, Batak, dsb. Kita ini kalau setelah selesai shalat baru minta, mengapa tidak pada saat shalat, sat bertemu memintanya? Ini aneh kan? Bukan tidak boleh berdoa di luar shalat, hanya saja ada fasilitas yang lebih baik lagi untuk meminta, yaitu saat shalat , tetapi mengapa tidak meminta?

Kalau kita sudah yakin Allah menilah dan mendengar, apa yang dilakukan yang formal-formal itu, maka akan merasuk dan akhirnya diimplementasikan di luar shalat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: