8 Oktober

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 8 Oktober 2006

MENGATASI HAMBATAN BULAN RAMADHAN (Lanjutan)

Ustadz : Sambo

clip_image001

Hari ini kita melanjutan kajian pada waktu yang lalu bahwa ada tiga hambatan yang harus kita taklukkan di bulan ramadhan. Apabila di bulan ramadhan tidak bisa kita taklukkan, maka jangan pernah berharap bisa menaklukkannya di bulan-bulan yang lain. Di bulan ramadhan yang penuh dengan kekuatan saja di mana Allah memberikan segala fasilitasnya pun kita tidak bisa menaklukkannya, maka boleh dikatakan hampir mustahil bisa menaklukkannya di bulan lain; kecuali orang tersebut bertaubat dan memperbaiki diri. Ketiga hal tersebut adalah: (1) hawa nafsu, (2) mencintai kenikmatan dunia, dan (3) Syaitan. Kenikmatan dunia ini, kata Imam Ghazali, adalah awal dari kemaksiatan. Masalah atau ciri tentang hawa nafsu telah kita bahas pada kajian yang lalu. Sekarang kita bahas bagaimana cara menaklukkan hawa nafsu. Ada beberapa kiat untuk menaklukkan hawa nafsu, yaitu:

1. Dipaksa

Hawa nafsu itu harus dipaksa. Hawa nafsu itu cenderung menyimpang, maka harus dipaksa untuk lurus; cenderung berbuat buruk, paksa dia supaya baik. Hawa nafsu itu cenderung berlebih-lebihan, maka dipaksa ia supaya sederhana. Hawa nafsu itu cenderung tidak pernah puas, maka dipaksa ia supaya puas terhadap apa yang telah diberikan atau qonaah. Ia selalu ingin bebas, paksa ia supaya terikat. Tidak ada jurus lain untuk menaklukkannya, kecuali dengan dipaksa. Pemaksaan itu bisa dilakukan melalui diri kita, dari dalam (internal), atau paksaan dari luar (eksternal). Yang terbaik adalah pemaksaan dari dalam. Pemaksaan dari luar sifatnya top down, yaitu dengan peraturan-peraturan, ini ada di negara-negara yang sudah menggunakan peraturan-peraturan Islam. Tetapi kebanyakan adalah malah membuka pintu-pintu nafsu. Jadi, pemaksaan ini bisa dilakukan baik secara internal maupun eksternal. Pertanyaannya adalah: “Kalau begitu tidak enak dong dipaksa itu?!”. Iya memang tidak enak. Tentu saja pemaksaan ini harus karena Allah. Allah berfirman di dalam surat An Naaziaat : 40-41:

clip_image002

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).

Semua sifat buruk hawa nafsu itu harus dipaksa untuk dikendalikan. Hawa nafsu itu harus ditahan, tidak ada jurus lainnya. Awal pemaksaan itu memang terasa berat, tetapi lama-lama menjadi ringan. Rasulullah bersabda, “Man ra-a munkaron fayughiyyirhu biyadihi…., barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (paksaan)”. Kalau tidak bisa dengan tangan, maka lakukan dengan mulut. Tidak mampu juga, maka minimal kita tidak terlibat, dalam hati membencinya.

2. Tidak membuka pintu sehingga hawa nafsu berkembang

Jalan atau pintu hawa nafsu itu jangan dibuka. Istilahnya “jangan dekat bensin”. Jangan pernah memberi kesempatan untuk membuka pintu hawa nafsu. Sekali saja kesempatan itu diberi, sulit untuk menutupnya. Jadi, tutup pintu kesempatan itu. “Ustadz, ini hanya coba-coba….”. Oohhh, hawa nafsu itu akan menerobos. “Ustadz, sekarang saya sudah tidak minum khomr, tidak minum minuman keras, ini hanya sekedar nengok-nengok dugem saja, hanya ke night club duduk-duduk saja, yang diminum hanya orange….”. Awalnya begitu. Saat mendengar musik, mulai kepala bergoyang, mengangguk-angguk, setelah itu lama-lama ikut tepuk-tepuk, dan lama-lama melantai, joget! Jadi, jangan coba-coba, jangan membuka peluang. Begitu kita membuka peluang, habis kita. “Ustadz, ini menguji keimanan kita, dakwah di kompleks pelacuran….”. Jangan! Itu kurang pekerjaan namanya. Mungkin awalnya kuat, tetapi lama-lama: “Ibu-ibu, mbak-mbak yang manis-manis….kita harus…..”. Awalnya begitu, berdakwah menjelaskan tentang agama. Lama-lama melihat mbak-mbak yang manis-manis, terpikir olehnya “Wah, manis pula orang ini, cocoklah untukku….”. Lama-lama akan goyang iman kita. Oleh karena itu jangan membuka peluang, jangan membuka pintunya. Begitu kita membuka pintunya, langsung ia menyambar. Firman Allah dalam surat Al An’aam : 151:

clip_image003

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).

Termasuk yang sembunyi-sembunyi pun jangan didekatai. “Ah, tidak ada orang yang tahu ini….”. Jangan! Kita tidak boleh menguji keimanan kita. Yang boleh menguji iman kita itu hanya Allah. kalau Allah yang menguji iman kita, Ia tahu kadar iman kita. Tetapi kalau kita sendiri, tidak tahu seberapa besar kekuatan iman kita. Dalam ayat tersebut dinyatakan “Jangan membunuh anak-anakmu karena takut miskin”. Arti membunuh di sini bermakna dua macam, yaitu benar-benar membunuh setelah anak tersebut lahir atau menggugurkan kandungan. Membunuh itu bisa karena miskin atau membunuh karena takut miskin. Misalnya anaknya dua, hidup pas-pasan, tiba-tiba hamil lagi, “Wah, nanti kalau punya anak lagi bisa repot. Gugurin saja…”. Ini tidak boleh.

Dalam ayat tersebut juga disebutkan “Janganlah kamu dekati ….”, artinya jangan membuka-buka pintu untuk menuju kemaksiatan. Mengapa? Karena, begitu kita membukanya, hawa nafsu itu langsung menyambar. Islam itu menutup kesempatan. Hikum, misalnya, akan diterapkan penuh manakala kesempatan sudah terttutup. Hukum tidak bisa ditegakkan penuh kalau kesempatan itu ada. Misalnya hukum potong tangan, kalau peluang-peluang korupsi masih ada, peluang mencuri masih ada, hukum potong tangan itu tidak bisa diterapkan. Begitu juga orang berzina, tidak bisa kena hukuman rajam ketika peluang-peluang itu masih ada: kompleks pelacuran masih dibuka, aurat dibuka di mana-mana; kalau tiba-tiba ada orang berzina, tidak bisa dihukum rajam. Dalam Islam, hukum akan diberlakukan penuh ketika kesempatan itu tidak ada. Jadi tahapannya adalah tutup dulu kesempatan itu. Kalau kesempatan sudah tertutup lalu ada orang yang berbuat maksiat, orang ini memang dasarnya bajingan! Orang bisa saja tidak ada niat berbuat maksiat pada awalnya, tetapi karena nampak, ya apa boleh buat. Misalnya, ketika sedang berjalan-jalan di depan rumah orang, terlihat pintunya terbuka dan di dalamnya terlihat ada barang-barang berhaga, tidak ada orang di dalamnya. Maka kalau ia mencuri, orang tersebut kalau tertangk
ap tidak boleh dipotong tangannya. Walaupun ia terkena hukuman, tetapi hukuman tersebut bukan potong tangan. Salah satu syarat orang mencuri adalah ada yang dirusak, kalau tidak ada yang dirusak, maka berarti yang mempunyai barang tersebut tidak bisa menjaganya. Misalnya, orang mencopet uang yang terlihat di saku, ini tidak ada yang dirusak. Orang ini kalau tertangkap tetap dihukum, ditahan, tetapi tidak potong tangan.

Kembali kepada masalah hawa nafsu, maka hawa nafsu itu harus dipaksa, jangan diberi kesempatan. Kalau diberi kesempatan, ia akan menyambar. Kita jangan sok memberi kesempatan, menguji keimanan. Kita lihat kisah tentang Nabi Yusuf sebagaimana dikisahkan dalam surat Yusuf (12 : 32 – 34):

clip_image004

Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.”

clip_image005

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

clip_image006

Maka Tuhannya memperkenankan do`a Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Bayangkan, nabi saja yang pasti terjaga lebih memilih penjara, kalau kita? Kita ini bukan nabi, bukan sahabat, orang sholeh juga masih dipertanyakan; ini mau menguji keimanan?! Jangan sok jago! Itulah doal Nabi Yusuf agar lebih baik dimasukkan ke dalam penjara daripada terkena godaan. Yusuf yang bergelar nabi saja sebenarnya bisa cenderung kepada hawa nafsu, apalagi kita. Jadi jangan sok jago. Tutup pintu hawa nafsu itu.

Kalau kita tahu bahwa mulut kita sulit dijaga, ya jangan dekat-dekat dengan orang-orang yang suka berbicara yang tidak-tidak. Tutup pintunya. Sebab kalau tidak kita tutup, kita bisa kena. Korupsi, misalnya, apa yang menyebabkan orang korupsi? Tutup pintunya: buat aturan, pengawasan, dll. Tetapi sekarang ini tidak begitu, celah-celahnya malah dibuka. Mungkin banyak orang yang korupsi itu sebenarnya ia tidak mempunyai niat untuk korupsi. Hanya saja karena ada celah, kesempatan; akhirnya korupsi.

Kalau Bapak/ibu pernah jatuh cinta yang pertama dulu, misalnya, maka foto-foto yang dulu-dulu itu buang saja, jangan disimpan-simpan; nanti bisa kacau. Banyak kejadian gara-gara ingat yang dulu, rumah tangganya berantakan; kembali ke “cerita lama”, cintanya bersemi kembali. Oleh karena itu foto-foto, surat-surat, mislanya, buang saja, tidak usah disimpan-simpan. Sebab itu merupakan “pintu”. Tutup! Awalnya mungkin hanya kirim-kirim kabar, “Apa kabar….”, lama-lama ingat yang dulu-dulu, cintanya bersemi kembali; kacau jadinya.

3. Bergaul dengan orang sholeh

Mungkin kita sulit memaksa atau menutup pintu hawa nafsu. Maka jurus yang berikutnya adalah bergaul dengan orang-orang sholeh. Orang sholeh itu hawa nafsunya terjaga, maka minimal kita akan ikut terjaga juga. Nabi bersabda, “Carilah tetangga dulu sebelum engkau membangun rumah”. Kalau kita kan terbalik: membangun rumah dulu, terserah nanti tetangganya siapa. Jadi, bergaul dengan orang sholeh bisa menjaga hawa nafsu kita. Kata lirik lagu, “Tombo ati itu ada lima, ……, yang keempat berkumpullah dengan orang sholeh….”.

Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sembarangan, maka kita menjadi kalau, misalnya, berpakaian yang menutup aurat. Sebaliknya kalau bergaul dengan orang-orang sholeh, akan malu kalau berpakaian sembarangan. Makanya Nabi mengatakan, “Seseorang itu tergantung pada siapa kawan-kawannya; maka perhatikanlah kepada siapa dia mencari kawan”. Kalau mau melihat seseorang, lihat siapa kawannya. Kalau kawannya sholeh, insya Allah, ia akan sholeh. Tetapi kalau kawannya berandalan, sulit untuk menyatakan ia adalah orang baik. Jadi, yang dilihat adalah siapa teman baiknya. Teman baik itu adalah teman tempat ia curhat, tempat bersama-sama dalam kesusahan dan kesukaan, mempunyai visi dan perasaan yang sama. Maka, kalau orang rajin ke masjid bergaul dengan orang yang rajin ke diskotik, misalnya, itu tidak nyambung. Oleg karena itu memilih dan mencari kawan itu penting. Kerusakan anak, misalnya, itu gara-gara kawannya. Orang tuanya sudah bagus mendidiknya, begitu bergaul dengan kawan yang brengsek, maka akhirnya menjadi tidak baik. Misalnya, anak kita tidak merokok, sedang kawan-kawannya merokok, maka aneh kalau tidak ikut-ikutan merokok. Lama-lama mencoba dulu satu, temannya bilang, “Wah hebat lu….”, akhirnya merokok juga. Kalau kawan-kawannya menonton film BF, misalnya, apakah ia akan merem saja? Kan tidak. Ikut nonton. Jadi, perhatikan anak-anak kita siapa kawannya di rumah dan di luar. Bisa jadi di depan orang tuanya terlihat baik, tetapi di baliknya rusak.

Pada bulan ramdhan ini, misalnya, orang mudah untuk beribadah; itu karena memang lingkungannya rajin beribadah. Coba kalau kita hidup bermasyarakat sebagai minoritas? Sulit untuk melaksanakan puasa dengan baik. Tantangannya besar. Yang paling enak itu memang berjamaah, mudah mengendalikan hawa nafsu. Kalau kita ini sering terbalik: kalau berbuat baik inginnya sendirian, tetapi kalau berbuat jahat inginnya rame-rame: korupsi rame-rame. Tetapi kalau ibadah inginnya sendirian. Ini salah. Seharusnya kalau ibadah itu rame-rame. Kalau maksiat? Jangan maksiat! Kalau maksiat sendirian , dosanya sendirian; tetapi kalau rame-rame dosanya ditanggung yang paling besar oleh yang mengajak. Kata Nabi, “Barang siapa yang menunjukkan jalan kejahatan, maka sama dengan yang melakukannya”. Orang yang mengajar mencopet, ia menanggung dosanya pencopet itu pula. Jadi, dengan berjamaah, orang akan lebih mudah mengendalikan hawa nafsunya.

4. Memperbanyak Ibadah/dzikir dengan ikhlas dan harus tahu ilmunya

Makin banyak kita berdzikir, maka makin sedikit peluang hawa nafsu. Makin sedikit dzikirnya, makin besar peluang hawa nafsu itu. Hawa nafsu itu sendiri bisa menunggangi ibadah. Dalam hadits diceritakan, ada tiga orang sahabat bertanya kepada Aisyah bagaimana Nabi beribadah. Mendengar penjelasan bagaimana nabi beribadah, maka ketiga orang tersebut bersumpah. Yang satu bersumpah, “Saya bersumpah tidak akan tidur malam, akan shalat malam terus”. Sedang yang kedua berkata, “Saya bersumpah tidak akan lupa berpuasa, kecuali di hari raya”. Dan yang satunya lagi besumpah, “Aku bersumpah tidak akan menikah dan akan beribadah terus”. Karena dianggapnya menikah itu membuat dia berkurang ibadahnya. Percakapan itu terdengar oleh Nabi. Ka
ta Nabi, “Aku adalah orang yang paling takwa di antara kalian. Aku shalat, tetapi aku juga tidur. Aku berpuasa, tetapi aku juga berbuka. Aku juga menikahi beberapa wanita”. Jadi, bisa saja hawa nafsu itu menunggangi ibadah. Misalnya, ingin di masjid seharian penuh, tidak bekerja; anak-anaknya terlantar, ke mana-mana dakwah. Orang lain didakwahi tetapi keluarganya tidak. Syaitan bisa saja menggoda dengan menyuruhnya jor-joran dalam beribadah, tetapi sebenarnya inginnya dipuji orang. Atau, berkunjung ke makam-makam orang sholeh, di sana minta berkah. Yang seperti ini malah menjerumuskannya. Nafsu itu cenderung menyesatkan. Karenanya dalam beribadah itu perlu keikhlasan dan harus tahu ilmunya. Dengan begitu akan mempersempit jalan hawa nafsu. Firman allah dalam surat Al Kahfi : 28:

clip_image007

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Kita disuruh bergabung dengan orang baik-baik dan jangan gara-gara kenikmatan dunia, lalu ditinggalkannya ibadah. Jangan mengikuti orang-orang yang melalaikan ibadah, jangan mengikuti hawa nafsu. Hawa nafsu itu bertempat di orang-orang yang lalai. Kalau kita selalu berdzikir, ingat Allah, dan berbuat baik, insya Allahn akan terjaga hawa nafsu kita. Insya Allah di bulan puasa ini di mana ibadah banyak dilakukan, maka tidak akan ada yang korupsi atau berkurang korupsinya (baru bulan depan korupsinya, setelah puasa). Ramadhan ini adalah kesempatan untuk vaksinasi hawa nafsu.

GEMERLAP/KENIKAMATAN DUNIA

Hal yang dipandang manusia enak-enak, asyik-asyik, itu adalah dunia. Ada lirik lagu, “Mengapa yang enak-enak, itu yang dilarang…..? Mengapa yang asyik-asyik itu yang dilarang…..?”. Ciri-ciri kenikmatan dunia:

1. Indah, asyik

2. Bagaikan minum air laut

Kalau dinikmati, makin merasa kurang, makin haus. Tidak ada puas-puasnya, makin kurang.

3. Menipu

Kita berpikir itu baik, ternyata tidak baik, Kita pikir itu buruk, malah itu yang baik. Ini namanya menipu. Kalau ini digabung dengan hawa nafsu, cocok, harmoni. Makanya kita harus hati-hati terhadap dunia ini. Orang yang tergantung pada dunia, pasti ia tertipu.

4. Bukan kenikmatan sempurna

Artinya, kalau kita menikmati yang enak-enak, itu bukan kenikmatan yang sempurna. Dunia itu mebuat kita betah di dalamnya sehingga lupa terhadap akhirat, lupa Allah. Siapa pun yang menikmatinya, akan betah di dalamnya. Makanya jangan menikmati dia. Maksudnya dalam menikmati itu ada batas-batasnya. Jangan kejar dunia, maka dunia akan mengejar kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: