7 Mei

MASJID AL FALAH YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 7 Mei 2006

PROSES PEMBELAJARAN SHALAT KEPADA KELUARGA

Oleh : Ustadz Sambo

clip_image001

Sebelum kita mengajarkan shalat kepada keluarga, kita mesti sudah mengamalkan shalat itu sebagaimana yang telah kita pelajari pada waktu-waktu yang lalu. Secara umum, hadirin rahimakumullaahi, tingkatan shalat seperti yang telah kita pelajari bahwa ada 4 tingkatan shalat, yaitu: (1) shalat ikut-ikutan, (2) shalat sebagai kewajiban, (3) shalat sebagai kebutuhan, dan (4) shalat sebagai rasa syukur. Sebenarnya kalau kita kaji, tingkatan-tingkatan shalat itu adalah hirarki berdasarkan umur. Karena ini berdasarkan umur, maka ini kita praktekkan di dalam memberikan pelajaran kepada anak-anak kita sesuai dengan tahapan umurnya.

1. Shalat Ikut-ikutan (5 – 10 tahun)

Proses ikut-ikutan ini biasanya untuk anak-anak usia kira-kira mulai 5 tahun. Mulai umur itu anak-anak mulai diajar shalat. Mulai umur 7 tahun, anak-anak sudah mulai diperintahkan untuk shalat. Tetapi shalatnya masih ikut-ikutan. Kalau kita perhatikan, pada waktu kita shalat, anak-anak itu suka mengadakan investigasi. Awalnya lari ke sana ke mari di sekitar orang shalat, naik tangga, masuk kolong, dsb. Itu sebenarnya adalah proses investigasi. Itulah investigasi dalam bahasa anak-anak. Anak-anak tidak bisa melakukan investigasi seperti orang dewasa, memperhatikan dengan serius. Dengan lari-lari itu ia berpikir, “Ini bapak-ibu saya, nenek-kakek saya sedang ngapain sih?!” saat kita sedang shalat. Kadang-kadang ia ngelendot, naik ke punggung, dsb. Nabi, kalau ada anak memanjat badannya ketika beliau sedang shalat, tidak dilarangnya; kecuali kalau ia melintas di depan tempat shalat, di tempat sujudnya, itu dilarangnya. Bahkan nabi pernah menggendong anak kecil ketika shalat. Ketika ruku’ dan sujud, diletakkannya anak itu.

Ketika anak sudah mulai berakal, mulai mengerti, ia ikut berdiam shalat, ikut mengucapkan “Allaahu akbar”. Ketika kita sujud, ia sujud. Ketika kita ruku’, ia pun ikut ruku’, dst. Kalau tadinya ia lari-lari, sekarang sudah mulai ikut shalat. Ini sampai umur 10 tahun. Seperti itu ia melakukan shalat, ikut-ikutan. Kata nabi bahwa kalau anak sudah mulai mengerti mana tangan kanan dan kirinya, maka harus diajarkan ia shalat, ajarkan bacaannya: al fatihah, allaahu akbar, dsb. Ajari bacaan-bacaan yang sederhana. Ajari untuk menghafalkan ayat-ayat pendek. Ini terus diajarkan sampai anak umur 10 tahun, sampai ia bisa membacanya. Sampai umur 10 tahun ini, shalatnya masih belang-bentong, kadang shubuh saja, kadang maghrib dan isya’ saja. Ini masih bisa ditoleransi. Kalau sudah lebih dari 10 tahun, tidak ada toleranasi.

2. Shalat sebagai Kewajiban (10-17 tahun)

Mulai umur 10 tahun, anak sudah mengerti. Maka shalat menjadi wajib baginya. Kalau anak lalai terhadap shalatnya, tidak shalat; pukul ia agar shalat. Walaupun ia belum balig, sudah masuk proses kewajibannya, berlaku hukuman. Proses hukum itu menunjukkan bahwa ia harus mengerjakannya. Kata nabi bahwa anak umur 10 tahun tidak shalat, pukul! Pada tahap ini shalat itu menjadi kewajiban. Wajib bagi anak untuk mengerjakannya, dna wajib bagi orang tua untuk mengajarkannya dan mengawasinya. Karena, setiap ia tidak shalat, orang tua wajib untuk menyuruhnya shalat. Kalau tidak mau, pukul, hukum! Tetapi memukulnya ya jangan sampai knock outlah, pukulan kasih sayang. Kalau jaman dulu, orang tua biasa menggantung alat pukul itu untuk pendidikan, “Tuh, kalau tidak shalat, alat pukulnya sudah siap, menggantung tuh”. Ada yang berkilah, “Oh, sekarang pendidikan itu tidak boleh memukul, tidak boleh memaksa anak”. Untuk hal-hal yang prinsip, anak kalau tidak dipaksa, bisa kacau. Awalnya mesti dipaksa. Itu untuk yang prinsip. Tentu saja harus diajarkan dulu, tidak bisa langsung pukul kalau tidak mengerjakannya. Kalau belum diajar, ya ajarkan dulu, tidak bisa dipaksa dengan pukulan seperti itu.

Proses belajar itu kan ada 3, yaitu: (1) memberi tahu, (2) memberi contoh, dan (3) melatih. Kalau memberi tahu tidak, memberi contoh juga tidak, dan melatih pun tidak, lalau kalau anak tidak shalat digebukin, itu kan tidak benar. Orang tua harus memberi tahu dulu, harus memberi contoh dulu, baru melatih. Setelah dilatih sampai umur 10 tahun, tidak juga shalat atau shalatnya masih belang bentong, harus dipaksa untuk shalat, harus lima waktu ia kerjakan semua. Kalau tidak mau, pukul!

Mulai umur 10 tahun sampai masa akil balig ini shalat itu menjadi kewajiban bagi dia. Akil balig ini kira-kira umur 12 tahun untuk perempuan dan 14-15 tahun untuk anak laki-laki. Ketika anak-anak itu mulai menginjak dewasa, mulai menginjak remaja, sampai akil balig, kira-kira sampai ia kuliah; mulai harus ditanamkan keajiban shalat. Inilah level shalat sebagai kewajiban.

3. Shalat sebagai Kebutuhan (18-40 tahun)

Kalau shalat sudah mulai bisa dicerna, kira-kira umur 17 atau 18 tahun, anak sudah dewasa, sudah mulai bertanggung jawab terhadap dirinya (menurut pandangan Barat, anak dewasa itu mulai umur 18 tahun), maka shalat yang tadinya menjadi kewajiban, diajarkan kini sudah bukan wajib lagi, tetapi shalat itu suatu kebutuhan. Kalau kita kan tidak demikian, mulai umur 7 tahun sampai 70 tahun, shalat itu wajib terus, tidak ada perubahan atau peningkatan paradigma, shalatnya “bayar hutang” terus. Shalat bayar hutang itu hanya sekedarnya saja. Bagaimana sih kalau orang bayar hutang? Pas-pasan saja, tidak ada lebihnya. Bayarnya kapan? Tidak ada orang yang bayar hutang itu segera, kalau bisa diundur, ya diundur. Kalau boleh dikurangi, ya dikurangi. Shalat yang hanya sekedar bayar hutang ya seperti itu, cepat-cepat, diundur-undur waktunya, pas-pasan.

Mulai umur 17-18 tahun mestinya sudah mulai diajarkan bahwa shalat itu adalah kebutuhan. Ajarkan manfaat-manfaat shslat kepada anak, karena pada umur ini akal sudah mulai terbuka. Yang bisa mengubah paradigma itu ada 3, yaitu: (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan sekitarnya, dan (3) ilmunya. Kalau keluarganya salah paradigmanya, lingkungan juga salah paradigmanya, terus ilmunya salah juga, maka hingga kakek-kakek paradigma shalatnya tidak berubah. Makanya sebagai orang tua, mulai anak umur 17-18 tahun, ubah paradigmanya bahwa shalat itu bukan sekedar kewajiban, tetapi adalah suatu kebutuhan. Beri tahu, misalnya, manfaat shalat terhadap kesehatan. Anak umur 17 tahun ini sudah terbuka akalnya, bisa mengerti nilai-nilai shalat. Pengaruh shalat dan nilai-nilainya kita ajarkan, “Nak, kalau ruku’nya benar, maka akan begini…, kalau sujudnya benar akan begitu…”. Sekarang shalat sudah tidak 5 menit lagi, minimal 15 menit. Ini perlu proses. Sebagai orang tua kita wajib mengajarkannya kepada anak.

Shalat sebagai kebutuhan ini diajarkan kepada anak mulai umur 17-18 tahun sampai umur 40 tahun. Makin tua, seharusnya makin tinggi levelnya. Anak sudah mulai ada perubahan, mulai berinteraksi dengan orang lain. Pada umur-umur ini, ia mulai punya masalah. Yang banyak masalah seperti ini, mulai diajarkan mengamalkan nilai-nilai shalat. Makin banyak masalah, makin nikmat shalatnya, sesuai dengan kebutuhannya. Sampai umur 40 tahun, kebutuhan makin meningkat, makin kuat shalatnya.

4. Shalat sebagai Rasa Syukur (mulai 40 tahun)

Begitu sampai usia 40 tahun, sampailah pada puncaknya, shalat itu bukan kebutuhan lagi, tetapi sudah meni
ngkat menjadi rasa syukur. Ini proses pembelajaran bagi orang tua juga. Mulai umur 40 tahun itu nilai shalat adalah sangat tinggi. Allah berfirman di dalam surat Al Ahqaaf (46) : 15:

clip_image002

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo`a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Pada umur 40 tahun, nilai syukurnya akan keluar, akan muncul. Pada ayat itu diterangkan doa orang yang bersyukur. Pada umur 40 tahun, nilai shalatnya sudah sangat tinggi. Tetapi kalau umur 40 tahun shalatnya masih wajib juga, ini perlu ditinjau paradigmanya. Inilah proses pembelajaran, mulai dari ikut-ikutan, kewajiban, kebutuhan, baru tingkat rasa sykur. Ini tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk mengajarkan itu kepada anak-anak kita. Oleh karena itulah nabi ngotot sekali bahwa anak umur 10 tahun itu harus shalat. Karena, kalau tidak shalat, akan rusak. Terjadinya kerusakan mental, spiritual, emosional, intelektual, sosial dan fisik; itu semua gara-garanya bermula dari shalat. Sebab, shalat itu adalah alat untuk memelihara baik jiwanya maupun fisiknya. Makanya kalau shalatnya benar, dalam hadis dikatakan, seluruh amal yang lain akan baik. Tetapi kalau shalatnya rusak, seluruh amal yang lain juga rusak.

Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran itu? Kita ajarkan teorinya, prakteknya pelan-pelan, bertahap. Orang tua mesti mengamalkan dulu level-level yang telah dipelajari. Jangan sampai bapaknya baru level dua, mau mengajari level empat. Bapaknya dulu donk yang mengamalkan level empatnya. Bagaimana mengajarkan level kekhusyu’an kepada anak? Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah:

a. Membuka akal

Tahap pertama adalah membuka akal anak. Anak umur 10 tahun sudah mulai paham atas apa yang dijelaskan, misalnya, “Nak, tubuh kita itu ada dua unsur, ada unsur fisik dan ada unsur non fisik. Kita ini datang dari tanah dan akan kembali ke dalam tanah. Kita ini datang dari Allah. Dialah yang menciptakan ruh”. Anak-anak dengan penjelasan ini sudah bisa menerima. Terangkan kepada anak-anak bahwa kita ini kebutuhannya dicukupi dari tanah: buah-buahan, sayur-sayuran, makanan, dsb; semuanya berasal dari tanah. Kebutuhan fisik kita dipenuhi dengan makan makanan. Rohani pun kudu diberi makan. Bagaimana kalau tidak makan? Lama-lama kalau tidak makan ya mati, seperti halnya fisik. Kebutuhan non fisik, ruh, juga harus diberi makan. Apa makanannya? Shalat! Rohani itu makannya adalah shalat.

b. Mengajarkan Manfaat

Pada tahap berikutnya, setelah membuka akal, adalah mengajarkan manfaat atas apa yang dilakukan dalam shalat. Ajarkan manfaat mengapa ruku’ itu punggung harus lurus, mengapa lutut harus ditekan. Ajarkan apa manfaat dari semua itu, mengapa sujud itu yang menjadi poros adalah kening. Itu ajarkan kepada anak. Selama ini orang sujud itu porosnya adalah tangan. Oleh karena itu yang gede adalah tangannya. Yang benar tekanan itu adalah di kening. Mengapa selama ini porosnya di tangan? Karena sewaktu sujud, jarak antara kening dan perut sangat dekat, hampir bersatu. Kalau seperti ini, tidak ada tekanan pada kening. Coba kalau jarak antara perut dan kening cukup panjang, pasti tekanan secara otomatis ada di kening. Ajarkan pula mengapa kalau sujud kepala harus ditekan. Ajarkan pula apa manfaat sujud dengan menekan kepala itu. Semua manfaat terangkan kepada anak. Ajarkan juga kepada ibu-ibu di rumah. Kalau ibu-ibunya pegel-pegel, suruh shalat yang benar, akan segar lagi.

c. Mengajarkan Cara Curhat dengan Shalat

pada tahap ini, anak mulai menghadapi masalah, mulai menghadapi tantangan, mulai menghadapi tantangan, mulai menghadapi tekanan-tekanan kehidupan, goncangan-goncangan. Ajarkan ia shalat dengan benar, mintalah pertolongan dengan shalat, sebagaimana firman Allah:

clip_image003

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (Al Baqarah : 45)

Ketika ia mendapat benturan, shalat dengan benar. Ini perlu dilatih. Selesai shalat, tadinya emosinya goncang, menjadi tenang. Mulai ajarkan bagaimana cara curhat, minta tolong kepada Allah. Orang banyak yang kurang paham bahwa shalat itu dipandang hanya sebatas kumpulan doa-doa yang kita juga tidak tahu maknanya. Akhirnya shalat itu hanya formalitas saja. Kita ajarkan pada posisi mana ia harus meminta, bisa berdoa dengan sembarang doa. Nanti akan terasa betul auranya. Nanti ia akan paham, “Oh, kalau saya punya masalah, shalat”. Untuk sampai di sini, tidak secara otomatis; perlu tahapan-tahapan belajar. Anak-anak sekarang kalau dulu waktu kecil ada masalah mengadunya kepada orang tua, kini diajarkan untuk minta atau curhat kepada Allah.

d. Mengajarkan Penghayatan Nilai-nilai Shalat

Sekarang mulai diajarkan bagaimana menghayati nilai-nilai shalat. Ini adalah pengamalan apa yang dibaca dalam shalat. Kalau dalam shalat diucapkan “Allaahu akbar”, di luar shalat pun “Allaahu akbar”. Power shalat itu bukan di dalam shalat, tetapi justru di luar shalat. Orang yang biasa mengamalkan “Allaahu akbar” di dalam shalat dan di luar shalat, maka power “Allaahu akbar” itu akan besar. Pantas saja kalau dulu sahabat bilang, “Allaahu akbar”, musuh gentar. Nabi dulu pernah lehernya ditempeli pedang oleh musuh, nabi ditanya, “Siapa yang bisa menyelamatkan kamu, wahai Muhammad?”. Dijawab, “Allah!”. Pedang jatuh! Kalau kita dibegitukan? Dijawab, “Allah”, leher kita yang putus. Mengapa? Karena tidak ada power pada diri kita, karena tidak mengamalkan “Allaahu akbar”.

Kalau nilai-nilai shalat itu diamalkan di luar shalat, maka baru keluar power itu. Umar bin Khatab tidak perlu membaca ayat kuri, berhadapan dengan syaitan, dari jauh syaitan akan kabur. Kalau kita berhadapan dengan syaitan? Membaca ayat kursi sampai mulut berbuih, syaitan tertawa saja, “Eeehhh… eehhh … eehh, gua juga hafal ayat kursi”. Power akan terasa jika kita mengamalkan nilai-nilai itu. Itu yang harus diajarkan kepada keluarga kita. Kalau di dalam shslat membaca: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”, maka di luar shalat pun “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”. Kalau di dalam shalat membaca “Ihdinash shiroothal mustaqim”, di luar shalat pun demikian, mengamalkan “Ihdinash shiroothal mustaqim”. Jangan sampai di dalam shalat membaca “Ihdinash shiroothal mustaqim”, tunjukkan kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan yang dilalui oleh para nabi, para siddiq, para syuhada dan orang-orang sholeh, tetapi di luar shalat bergaul dengan orang-orang “maghdhubi” yang dimusuhi oleh Allah
. Artinya, di luar shalat kita ini harus bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Kan aneh, kalau di dalam shalat minta jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat (para nabi, para siddiq, para syuhada dan orang-orang sholeh), tetapi di luar shalat berkumpul dengan orang-ornag yang dimurkai. Ajarkan ini semua, maka akan muncul powernya.

Jadi, kekuatan shalat itu bukan terletak pada shalatnya, tetapi justru ketika di luar shalat. Di sinilah karomah itu akan muncul. Pada saat kritis, shalat itu akan membantu. Umar bin Khatab ketika terjadi paceklik, ia mengirim surat kepada Sungai Nil, “Wahai Sungai Nil, kau adalah hamba Allah dan aku juga hamba Allah; meluaplah”, suratnya dilemparkan ke Sungai Nil. Sungai Nil pun meluap. Tetapi kalau kita bikin surat seperti itu? Akan ditertawakan, “Memangnya loe siapa?”. Ada lagi orang sholeh yang dimasukkan penjara, diastukan dengan ular. Ia mengajak ngobrol ular itu. Itu sebenarnya bukan hal yang aneh. Ular itu hamba Allah, kita juga hamba Allah, sama-sama punya hubungan hamba. Binatang itu juga shalat, seperti difirmankan oleh allah di dalam surat An Nuur: 41:

clip_image004

Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Sesama orang shalat “dilarang saling mendahului”. Cacing itu juga shalat. Ayat itu dimulai dengan kata “alamtaro”, (tidakkah kau tahu?). kalau dalam Al Qur’an dijumpai ayat dengan diawali “alam taro”, hal itu menunjukkan bahwa setelah itu ada peristiwa besar. Seperti dalam surat Al Fiil:

clip_image005

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

Setelah “alam taro” itu ada peristiwa besar yang seringkali kita tidka tahu, luput dari kajian kita, tidak diperhatikan.

Masing-masing makhluk ada caranya sendiri untuk shalat. Artinya, semua yang ada di langit dan di muka bumi ini mengerjakan shalat: cacing shalat, kambing juga shalat, ular juga shalat, dsb. Hanya saja kita tidak tahu bagaimana shalatnya. Kalau ada kucing meong-meong, jangan-jangan dia sedang shalat! Dzikirnya mungkin dengan cara seperti itu, tasbihnya begitu. Kalau dia shalat, kita shalat, berarti sama-sama shalat, tidak akan saling mengganggu. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau ada orang bisa “menundukkan” ular seperti itu. Pertanyaannya, dari mana ia mendapatkan keyakinan seperti itu? Itu gara-gara shalat. Kalau kita dimasukkan satu ruang dengan ular? Kita akan mengatakan, “Jangan mengganggu donk”, tetap saja ular menggigit, karena kita tidak mempunyai power shalat. Makanya amalkan nilai-nilai shalat itu. Itulah yang diajarkan kepada keluarga. Tetapi sebelum mengajarkan semua itu, amalkan dulu.

Mudah-mudahan kalau kita sudah belajar seperti ini, bisa mengamalkan dan bisa mengajarkan kepada keluarga. Kalau bisa begitu, hubungan dengan keluarga menjadi dekat. Kalau ia punya masalah, tidak segan-segan untuk curhat. Kalau anak sekarang punya masalah, larinya ke amana? Ke geng-gengnya, jarang yang curhat kepada orang tuanya. Kita berusaha pelan-pelan bagaimana mengamalkan shalat itu kepada diri kita dan mengajarkannya kepad aorang lain, khususnya kepada keluarga kita.

Iklan

2 responses to this post.

  1. Artikel yang menarik, untuk itu saya ada tulis ulang dan persingkat artikel ini di blog saya dengan mancantumkan alamat website Anda sebagai sumbernya. Karena postingan artikel tersebut saya kebetulan mendapat pertanyaan dari salahseorang pengunjung di blog saya dibahagian kerohanian/agama tentang cara mendidik anak shalat yang saya tidak tahu untuk memberikan jawaban yang tepat. Sudi kiranya bapak/ibu dari manajemen shalat ini untuk bisa memberikan jawaban atas pertanyaan pengunjung saya ini secara langsung di forum.acepsudrazat.com

    Terima Kasih,

    Balas

  2. Silahkan forward pertanyaan-pertanyaan ke alamat email : ustadsambo@gmail.com. Syukron

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: