5 Februari

MASJID AL FALAH YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 5 Februari 2006

BEBERAPA CATATAN TENTANG SHALAT NIKMAT DAN KHUSYU’

Oleh : Ustadz Sambo

clip_image001

Ada bebrapa catatan yang perlu diperhatikan dalam (pelatihan) shalat khusyu’ , karena banyak masalah yang muncul.

1. Shalat Lama Bukan Tujuan

Tujuan shalat itu bukan lamanya shalat. Kalau lama shalat sebagai tujuan, yang menjadi target adalah waktu. Kalau lama tetapi melamun, atau lama menunggu waktu, ngapain? Shalat lama itu adalah akibat, konsekuensi logis dari shalat yang nimat dan khusyu’. Artinya, kalau kita sudah menikmati sesuatu, kita ingin memperlamanya. Tetapi tidak berlaku sebaliknya. Kalau khusyu’ dan nikmat itu pasti lama, tetapi shalat lama itu belum tentu khusyu’ dan nikmat. Jadi, targetnya bukan waktu: sujud sekian menit, ruku’ sekian menit, duduk sekian menit; bukan begitu. Tetapi, ketika kita menikmati bacaan-bacaan, menghayati bacaan, memahami bacaan, kita memperbanyak bacaan; maka sudah tentu waktunya menjadi lama. Kalau bacaannya hanya tiga kali, itu belum cukup; itu baru syarat minimum. Coba kita tambah bacaan itu: lima-sepuluh-lima belas, dstt; pasti waktunya menjadi lama. Jadi, bukan lama karena melamun, tetapi lama karena bacaannya banyak dan memahaminya.

Ada pertanyaan, “Ustadz, sekarang saya sudah bisa shalat lama, Cuma kadang-kadang suka lupa, ini rakaat ketiga atau keempat?”. Ini yang salah, kalau tujuannya lamanya shalat, maka menjadi lupa semuanya; lagi sujuud, misalnya, ini sujud pertama atau kedua? Bukan yang demikian yang dimaksud shalat lama itu. Kalau shalat kita lama, itu karena khusyu’, memahami apa yang dibaca. Karena khusyu’, maka ingin memperlamanya. Lama itu menjadi konsekuensi logis dari shalat khusyu’ dan nikmat. Kalau kita shalatnya melamun, lama, bisa lupa ini rakaat ke berapa; karena biasanya kita shalat lima menit untuk empat rakaat, dua menit rakaat. Kini shalat sudah lima menit, misalnya, pada rakaat ke berapa sekarang? Lupa! Tetapi kalau kita berusaha menghayati, memahami bacaan itu, maka tidak akan lupa, akan selalu ingat terus kepada rakaat berikutnya.

2. Hubungan Antara paradigma dan Pelaksanaan

Bagaimana hubungan antara paradigma dan pelaksanaan shalat? Sebenarnya ini tidak sulit, kalau kita mengikuti hirarki shalat. Yang pertama, kita melakukan agar terasa nikmat adalah merubah paradigma. Setelah paradigma berubah, akan mendorong niat atau menghasilkan suatu niat, motivasi. Motivasi menjadi berbeda. Paradigma akan memnunculkan niat atau motivasi untuk melakukan sesuatu. Ketika motivasi itu sudah berubah, menjadi motivasi yang benar, maka itu akan mendorong untuk melaksanakannya menjadi lebih baik, lebih sungguh-sungguh. Dan ini akan menghasilkan perbuatan yang susuai dengan aturan. Makanya ada hadis yang menyatakan: innamal a’malu binniyat. Hadis ini sering dipahami bahwa amal itu tergantung niatnya dalam kaitannya dengan pahala. Padahal kesempurnaan kita melaksanakan sesuatu itu tergantung niat kita. Kalau niat kita betul, hasilnya akan hasilnya. Tetapi kalau niatnya tidak betul, hasilnya tidak akan sempurna. Makanya dalam ayat Al Qur’an dinyatakan bahwa orang munafiq itu karena niatnya riya’, maka shalatnya menjadi malas-malasan, berat; karena niatnya salah. Niat yang shalah akan menghasilkan suatu pengamalan yang salah.

3. Hasil yang Bermanfaat

Kalau pengamalannya sudah betul, akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Tetapi kalau pelaksanaannya tidak benar, tidak baik, maka hasilnya tidak bermanfaat. Orang bekerja juga demikian, kalau bekerjanya betul, akan mendapatkan gaji yang sesuai; tetapi kalau bekerjanya tidak betul, malas, maka orang akan berpikir untuk memberi gaji. Olah raga juga demikian, kalau tidak betul, malah tidask sehat. Bagaimana dengan shalat? Paradigma shalat yang penting kita ubah adalah pertama, paradigma wajib menjadi butuh, kedua paradigma istimewa. Artinya, kita butuh shalat, shalat itu suatu kebutuhan. Paradigma yang salah selama ini adalah kita memandang bahwa shalat itu bukan kebutuhan, tetapi shalat itu merupakan suatu kewajiban. Paradigma butuh dan wajib itu berbeda. Pertanyaan: “mengapa Bapak-Ibu makan dan minum? Mengapa mesti nikah?”. Jawabannya, “Karena itu kebutuhan manusia”. Tetapi kalau ditanya, “Mengapa shalat?”, jawabannya: “Karena itu kewajiban”. Padahal dalam Al Qur’an dinyatalan bahwa makan dan minum, serta nikah itu adalah perintah. Tidak ada orang yang mengatakan bahwa makan dan minum itu diwajibkan Tuhan.

clip_image002

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.    (Al A’raaf : 31).

Nikah itu juga diperintahkan. Tetapi tidak ada orang yang mengatakan, “Nikah itu perintah Tuhan, kewajiban”. Dikatakan bahwa nikah itu adalah kebutuhan. Padahal makan, minum dan nikah itu perintah, tetapi dipandang sebagai suatu kebutuhan, sedang shalat adalah kewajiban. Paradigma yang salah ini akan menghasilkan motivasi yang salah. Karena menganggap shalat sebagai kewajiban semata, akhirnya motivasinya menjadi lain, menjadi suatu beban, niatnya menjadi berat. Oleh karena itu, mulai sekarang paradigmanya diubah: shalat itu kebutuhan saya. Ini mesti digaung-gaungkan kepada diri kita. Kalau tidak digaungkan, itu tidak akan muncul. “Saya butuh shalat…saya butuh shalat”. Inilah merubah paradigma, mesti digaungkan, mesti dikampanyekan pada diri kita: “Saya butuh shalat, saya butuh shalat ….”. terus digaungkan. Ini akan lain hasilnya daripada diam saja.

Paradigma yang selama ini kita gunakan adalah shalat itu adalah sesuatu hal yang biasa, suatu rutinitas saja, ritual belaka. Karena shalat dianggap biasa, rutin, ritual; apa yang terjadi? Atau pertanyaan kita, sesuatu yang kita anggap biasa akan menghasilkan apa? Kalau biasa, mengerjakannya pun biasa-biasa saja; akhirnya manfaatnya pun biasa saja, tidak ada yang istimewa. Oleh karena itu paradigmanya harus diubah: shalat itu bukan hal yang biasa, shalat itu adalah istimewa, sesuatu yang spesial, sesuatu yang penting. Shalat itu suatu “pertemuan” yang luar biasa, “jamuan” yang luar biasa. Kalau kita sudah menganggap bahwa shalat itu sesuatu yang luar biasa, dampaknya nanti akan berbeda antara yang biasa dan luar biasa. Itu pasti! Berteman, misalnya, kalau itu biasa, cukup say hallo saja, salaman saja. Tetapi kalau teman yang istimewa, tidak cukup salaman saja, mungkin ditambah berangkulan dengan hangat. Pertemuan yang luar biasa akan menghasilkan dampak yang juga luar biasa. Dengan demikian paradigma tentang shalat yang selama ini kita anggap hal yang biasa perlu kita ubah adalah menjadikan shalat itu suatu kebutuhan atau bahkan menjadi sesuatu yang istimewa.

1. Paradigma Butuh

Bagaimana sih, misalnya, kalau kita butuh sesuatu kepada seseorang? Kita pasti ingin bertemu dengannya; pasti lain bertemunya bila kita tidak membutuhkan. Kalau butuh wah …. pertemuannya kalau bisa berlama-lama. Biasanya orang kalau tidak butuh sesuatu, kalau ia shalat,
ya
shalat sekedarnya, sekedar menjalankan kewajiban. Kalau ia tidak butuh Tuhan, kalau shalat, kalau shalat, ya seperti orang yang kalau meminta dengan ­ogah-ogahan. “Sukur saya minta, sukur saya shalat!”, begitu kira-kira yang terucap. Jadi, kebutuhan kebutuhan akan Tuhan akan mendorong motivasi. “Saya shalat, saya ingin bertemu Engkau ya Allah; saya lemah, saya banyak masalah, saya butuh pertolongan. Oleh karena itu saya menghadap-Mu. Saya butuh kasih sayang-Mu, saya butuh bimbingan-Mu”. Maka shalatnya akan lain. Dengan demikian, kalau paradigmanya sudah berubah, motivasinya berubah, pelaksanannya juga akan berbeda.

Tidak beda seperti kita, bagaimana kalau kita butuh kepada atasan? Butuh naik jabatan? Pasti bekerjanya dengan sungguh-sungguh. Coba kalau kita tidak butuh, mungkin bekerjanya akan seenaknya. Atau, kalau kita jualan, bisnis, kalau nggak butuh untung, pasti asal-asalan; kalau ada orang yang membeli, “Ini berapa? Tolong kirim setengah truk!”, kalau tidak butuh mungkin akan dijawab, “yah Cuma setengah truk! Kalau lima truk, boleh diantar!”. Kalau tidak butuh, bahkan pelanggannya bisa-bisa dimarahin olehnya, “Memangnya saya butuh kamu? Duit saya sudah banyak! Nggak beli juga tidak apa-apa”. Kira-kira begitu. Tetapi karena butuh, maka tanggapan kalau ada pesanan akan menjadi lain. Jadi, paradigma kebutuhan shalat akan menghasilkan niat yang kuat. Karena banyak masalah supaya diberi pertolongan, karena bodoh maka ingin diberi bimbingan, kasih sayang, dll. Nah, apabila orang butuh bimbingan, akan melaksanakan perbuatan dengan sungguh-sungguh. Pasti pekerjaannya dikerjakan dengan baik. Dengan demikian sebenarnya untuk menciptakan shalat yang khusyu’ itu tidak sulit. Karena butuh, dilaksanakan dengan baik dan lama. Mana ada orang yang butuh, memintanya buru-buru? Bagaimana sih kalau kita membutuhkans eseorang? Misalnya kita butuh, lalu kita diminta untuk menghadapnya, apa to the point saja? Pasti inginyya berlama-lama. “Bagaimana pak kabarnya? ….”. Tidak langsung saja. Dengan Allah pun begitu. Sebenarnya yang butuh itu Allah atau kita? Yang butuh itu kita, bukan Allah. Tidak ada orang yang butuh lalau cepat-cepat. Mana dikasih kalau cepat-cepat? Kita saja kalau mampir ke rumah seseorang yang sebenarnya kita tidak membutuhkannya, perlu duduk dulu, ngobrol satu dua kata, minum satu dua teguk; apalagi kalau butuh. Karena butuh, perbaiki shalat kita, bukan sebaliknya. Sebenarnya kalau kita shalat itu yang butuh Tuhan atau kita? Allah tidak butuh shalat kita.

Kalau pelaksanaan shalat sudah baik dan benar, pasti manfaatnya akan didapat. Itu konsekuensi logis. Mana ada orang yang bekerja dengan baik tidak diupah? Kalau kita sungguh-sungguh, pasti dikasih. Tuhan itu maha baik, pasti dikasih langsung! Cuma sayang, karena kita kurang memperhatikan, menjadi tidak terasa. Ibarat pimpinan perusahaan, bagaimana caranya agar anak buahnya bekerja dengan baik, loyal? Kan begitu selesai bekerja, langsung dibnayar! Begitu langsung dibayar, pasti ia akan sungguh-sungguh. Hanya saja kita ini tidak merasa kalau langsung diberi, apalagi shalat kita asal-asalan, sambilan.

Kalau sudah terasa manfaatnya, maka paradigmanya makin kuat. Paradigmanya terus meningkat. Kalau dulu kuatnya baru 4%, kini menjadi 10%, terus bertambah. Makin banyak masalah, makin kuat shalatnya. Ingin minta pertolongan, makin khusyu’, powernya makin hebat. Kebutuhan makin bertambah, shalatnya makin bertambah. Begitu sudah terasa manfaatnya, maka makin serius. Kalau orang dagang, misalnya, kalau makin gede untungnya, pasti makin serius. Coba kalau main-main, pasti untungnya akan berkurang. Ini tidak sulit, asal mau saja, pasti bisa! Ini perlu digaungkan, “Saya butuh shalat ….”.

2. Paradigma Istimewa

Ini paradigma yang lebih tinggi dari sekedar butuh. Shalat itu adalah special something, bukan biasa lagi. Kalau bertemu Tuhan kita anggap hal yang biasa, maka itu hal yang aneh. Bertemu dengan pejabat saja, kita perlu persiapan dan serius, mengapa bertemu Tuhan biasa saja? “habis, Tuhan itu tidak kelihatan sih!”, kilahnya, “kalau atasan kan jelas”. Di situlah iman berperan. Karenanya orang shalat itu harus orang yang beriman. Allah berfirman dalam surat An Nisaa’ (4) : 103:

clip_image003

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Seperti halnya orang makan, berbeda antara orang yang makan karena kebutuhan dan karena spesial. Kita, misalnya, makan di warung biasa (warteg), maka akan lain makannya dengan di Hotel Mulia. Kalau istimewa, nikmatnya juga berbeda, harganya pun berbeda. Kalau di warteg harga Rp 5 ribu – Rp. 10 ribu sudah kenyang, tetapi kalau di Hotel Mulia? Mungkin yang dimakan sama-sama, misalnya, pisang goreng; kalau di hotel disajikan dengan asesoris-asesorisnya, cara makannya pun tidak seperti di warung biasa. Begitu melihat bill-nya? Ya Allah, itu kalau dibuat pisang goreng sendiri di rumah, sudah dapat berapa? Itulah nilainya sesuatu yang istimewa itu, harganya mahal. Jadi, berbeda makan butuh dengan makan istimewa. Dinner di warteg dan tempat istimewa kan lain? Demikian halnya dengan shalat. Kalau istimewa, lebih tinggi tingkatannya. Nah, kita mungkin tarafnya baru butuh dulu, lama-lama nanti meningkat menjadi istimewa. Jadi, mulai sekarang kita ubah paradigmanya bahwa kita shalat itu suatu kebutuhan menjadi sesuatu yang istimewa, menjadi pertemuan yang istimewa. Bagaimana niatnya?

Niat shalat istimewa adalah pertemuan, menghadap. Ini berbeda dengan fenomena butuh. Kalau orang makan istimewa itu artinya apa? Berarti ia sudah bukan sekedar butuh lagi, berarti ia sudah menadapat kenikmatan. Kalau orang yang “kere”, itu orang yang butuh. Kalau kita sudah shalat istimewa, berarti itu nikmatnya sudah banyak. Makanya fenomena butuh itu disebut pula fenomena sabar, bagi orang yang kena musibah. Kalau istimewa, berarti oang yang sudah banyak mendapat nikmat. Karena sudah banyak mendapat nikmat, shalat menjadi istimewa, niat bertemu Allah secara istimewa. Bagaimana kita sekarang?

Saat ini banyak orang yang makin banyak nikmat, makin lupa Tuhan. Kalau menjadi direktur, misalnya, seharusnya makin istimewa pertemuannya dengan Allah, shalatnya tidak buru-buru. Bagaimana rasulullah shalat? Padahal rasulullah itu dosa-dosanya sudah pasti diampuni, mendapat kedudukan paling mulia, masuk surga nomor satu, semua doa dikabulkan; tetapi shalatnya sampai kakinya bengkak-bengkak, kapalan. Bengkak di sini adalah kapalan, bukan bengkanya orang kesleo. Ibarat petinju, tangannya bengkak kapalan, bukan bengkak sakit. Kalau bengkak kesleo, tidak bisa jalan. Bagaimana mungkin shalat tidak bisa jalan, bergerak? Nabi kakinya bengkat itu bukan karena sakit, tetapi karena kapalan. Makanya para sahabat itu disebutkan sebagai ‘malam bagaikan rahib, siangnya bagaikan singa’. Kalau bengkak sakit, bagaimana bisa seperti singa?

Mengapa nabi memperlama shalat? Kata nabi: afalaa akuuna ‘abdan syakuuron? (Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?) Justru dengan makin banyak, makin tinggi kedudukannya; makin lama shalatnya. Kalau kita terbalik, makin tinggi kedudukan, lupa masjid; karena banyak uang, sibuk ke mal. Baru kalau sakit, rajin berdoa. Mestinya, makin tinggi kedudukan, makin sering ke masjid juga.
Allah menyebutkan dalam surat Al Munaafiqun (63) : 9:

clip_image004

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Ini fenomena istimea, makin diberi nikmat, makin asyik shalat. Kalau kita mungkin baru level butuh. Yang sanggup mengikuti kajian shalat istimewa adalah orang-orang yang istimewa pula. Ketika niat shalat adalah bersyukur, maka pelaksanaannya akan berbeda ketika butuh. Kalau sabar, maka itu butuh; pelaksanaannya: serius, sungguh-sungguh dan akan terus memperbaiki. Kalau istimewa : lain. Laksana orang diundang jamuan istimewa, asesorisnya, suasanya; lain. Manfaat makanannya juga lain. Dengan niat istimewa, akan menghasilkan pelaksanaan yang sempurna: sujudnya sempurna, ruku’nya sempurna, duduknya sempurna. Kalau sujudnya orang yang hanya melaksanakan kewajiban, akan berbeda. Kalau sempurna, pasti serius; tetapi serius belum tentu sempurna.

Apa akibat pelaksanaan shalat yang sempurna? Manfaatnya bukan lagi “pertemuan”, tetapi “kepuasan”. Puas itu mahal harganya. Tetapi bagi orang yang butuh, mahal itu bisa membuat stress, makan menjadi tidak nikmat. Orang yang makan di hotel itu mahal, itu puas; di sini tidak berbicara masalah butuh, tetapi kepuasan. Orang yang shalatnya istimewa berarti ia sudah melupakan ujian, ia puas puas; bukan lupa. Fenomenanya sudah bermakna syukur. Allah berfirman dalam surat Ibrahim (14) :

clip_image005clip_image006

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Makin banyak nikmat, makin rajin shalatnya. Sering orang mencontoh Abdurahman bin Auf, tetapi yang dicontoh hanya pernik-perniknya saja, tidak dicontoh ibadahnya. Bagaimana ibadahnya, tidak diungkap. Kalau mencari duit, mencontoh dia, “Saya mencontoh Abdurahman bin Auf, cari harta yang banyak”. Betul! Tetapi ingat, abdurahman bin Auf itu tidak pernah tertinggal shalat berjamaah di masjid. Jadi, jangan hanya tertariik bagaimana mencari hartanya saja, ibadahnya tidak dicontoh! Abdurahman bin Auf itu kalau perang, ia ikut. Kalau kita? Akan mengatakan, “Sudahlah, kalian saja yang ikut!”. Banyak orang yang ingin mencontoh Abdurahman bin auf, tetapi dari segi nikmatnya saja, dari segi usaha-usahanya saja, tetapi dari segi ibadahnya tidak diikuti.

Mudah-mudahan kita sampai pada tipologi paradigma yang kedua ini. Sebagai manusia, memang pertama kita ikut paradigma butuh dulu, lalau memperbaiki terus hingga tercapai fenomena istimewa. Jadi benar akhirnya sabda rasul tentang shalat : Idza sholuhat sholuhat akhoru ‘amalihi wa idza fasadat fasadat akhoru ‘amalihi, apabila shalatnya benar, maka amal yang lain juga benar, dan apabila shalatnya rusak, maka amal yang lain juga rusak.

Kalau shalat kita sudah benar, insya Allah, manfaatnya akan terasa. Shalat itu akan memberikan power. Shalat yang seperti ini akan memberikan kekuatan yang dahsyat. Ini hal yang paling penting saja tidak diistimewakan, malah dikatakan, “Apa istimewanya shalat?”. Padahal shalat itu adalah pertama kali amalan yang dihisab, shalat itu menjadi tiang agama, shalat itu menjadi satu-satunya ibadah yang tidak bisa ditinggalkan dalam kondisi apa pun, termasuk perang; tetap harus shalat. Makanya ada ayat tentang shalat di waktu perang (surat An Nisaa’: 102):

clip_image007

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.

Bayangkan, perang pun harus shalat. Ayat itu turun ketika pasukan sedang berhadap-hadapan dengan musuh, pun kudu shalat. Shalat itu sesuatu yang istimewa di sisi Tuhan. Kita harus mengubah paradigma kita tentang shalat dari selama ini sekedar kewajiban, menjadi kebutuhan dan akhirnya meningkat menjadi sesuatu yang istimewa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: