3 September

 

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 3 September 2006


SHALAT SEBAGAI OBAT PENYIMPANGAN SPIRITUAL:

PENYAKIT EMOSIONAL

Ustadz : Sambo

clip_image001

Hari ini kita akan mengkaji penyimpangan spiritual: Penyakit Emosional dan kita rinci satu per satu serta kita cari terapinya dalam shalat. Kita ketahui bahwa shalat itu adalah alat yang Allah berikan kepada kita untuk memelihara diri, memperbaiki diri, dan juga alat untuk penguat kalau jiwa kita lemah, penyehat kalau jiwa kita sakit, dan penyuci kalau jiwa kita kotor. Kita juga mengetahui bahwa penyakit yang lain-lain itu bersumber dari penyakit spiritual. Kalau penyimpangan spiritualnya sudah jauh, akan berakibat pada penyimpangan-penyimpangan yang lain; akan terjadi penyimpangan emosional, penyimpangan spiritual, penyimpangan intelektual, dan akan terjadi juga penyimpangan fisik, dan akhirnya terjadi penyimpangan sosial.

Pada intinya, kalau spiritualnya sudah sehat, dalam artian keimanan, maka yang lain akan sehat. Spritual di sini dalam arti keimanan, karena spiritual dalam pandangan Barat berbeda dengan spiritual dalam pandangan Islam. Spiritual dalam pandangan Islam pasti orang beriman, pasti orang Islam. Kalau tidak beriman/Islam, maka spiritualnya tidak ada. Kalaupun ada, itu hanyalah semu. Misalnya, seseorang membantu/menolong orang lain, sementara ia tidak beriman; itu dikatakan olehnya sebagai dorongan spiritualitas. Kalau spiritualitas dalam arti umum, mungkin ya. Tetapi kalau dalam arti khusus, itu bukan spiritual. Karena, bisa saja orang yang memberi pertolongan orang lain itu, ia tidak mempunyai niat apa-apa, sekedar membantu; sedangkan orang Islam membantu orang lain itu niatnya adalah mencari pahala, kembali kepada Allah. Kalau orang tidak beriman, tidak ada harapan pahala itu. Kalaupun ada kemiripan, itu tetap tidak sama. Misalnya, orang bersedekah, walaupun itu mirip dengan membantu orang lain, tetapi hakekatnya adalah berbeda. Yang mirip itu belum tentu sama.

Orang Barat, misalnya, sekarang sudah banyak yang mulai mengkaji tentang “spiritualitas”, seperti SQ (spiritual qoutient). Mereka mengatakannya sebagai God Spot, yang entah di mana letaknya mereka sendiri tidak tahu, tetapi diyakini keberadaannya. Apa pun spiritualitas yang dikaji oleh mereka, pendekatannya adalah empirik, dalam pendekatan fisik. Sprititualitas menurut Islam, pusatnya ada pada Allah, dan dalam diri manusia itu alatnya adalah ruh. Kita tahu bahwa ruh itu tidak bisa dijelaskan kecuali oleh Allah sendiri, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Isro, : 85:

clip_image002[4]

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Kalau manusia sudah mulai masuk wilayah-wilayah spiritualitas, maka berdasarkan ayat itu, tidak akn bisa sampai. Kembalikan saja kepada Allah, karena manusia itu tidak diberi ilmu kecuali hanya sedikit. Urusan ruh itu dikembalikan kepada yang mempunyai ruh. Jadi, bagaimanapun ceritanya tentang penelitian spiritualitas, yang ada dalam teori-teori Barat, itu semua dalam konteks fisik, empirik. Mereka tidak akan sampai, karena yang paling mengetahui tentang ruh itu adalah Allah SWT. Karenanya kalau mau tahu tentang itu, kembalikan kepada wahyu, apakah itu Al Qur’an atau itu berupa keterangan-ketrangan nabi. Kalau orang Barat mengatakan bahwa spiritualitas itu bisa diteliti, keimanan kita menyatakan: ‘Tidak”. Kita harus mengembalikannya kepada Al Qur’an.

Telah kita bahas bahwa manusia itu mempunyai ruh. Salah satu sebutan Al Qur’an juga adalah ruh, yang membawanya juga adalah ar ruh (malaikat Jibril). Spiritualitas orang Barat bisa saja gejalanya sama, mungkin saja luarnya sama, tetapi di dalamnya berbeda. Gejala boleh sama, tetapi akibatnya, efeknya berbeda. Misalnya, kita menyembelih hewan. Orang mengatakan, “Sama saja antara membaca bismillah dan tidak”. Menyembelih binatang antara yang memakai bismillah dan tidak, secara fisik sama, tidak ada bedanya, tidak berubah darahnya, tidak berubah yang lain-lainnya. Apakah ini hakekatnya juga sama? Tidak! Yang satu halal, yang satunya lagi haram. Yang seperti ini hanya bisa diterangkan oleh keimanan. Ini tidak bisa dilacak, misalnya, “Oh, kalau memakai bismillah akan ada yang berubah”. Sama saja, tidak ada yang berubah. Keimananlah yang membedakannya. Sesuatu yang nampak secara fisik sama, belum tentu hakekatnya sama, serupa tetapi tidak sama. Ini yang perlu kita pahami.

Kembali kepada permasalahan yang akan kita kaji: permasalahan yang ada pada diri kita itu dimulai dari permasalahan spiritual. Kalau ruhnya/spiritualnya sudah bermasalah, maka yang lain juga akan bermasalah. Shalat itu adalah pengobatan yang bersifat spiritualitas. Telah kita bahas, mulai dari : adzan, wudhu, dst. Kini kita breakdown satu per satu penyakit-penyakit/penyimpangan-penyimpangan emosional itu dan kita cari penyelesaiannya dalam shalat, yaitu: (1) Marah, benci, dendam, tidak mau memaafkan; (2) Takut, pobi, trauma, paranoid. Kalau takutnya kepada Allah, maka itu baik. Ada yang namanya takut thobi’i (takut yang wajar), itu bukan penyimpangan; seperti: takut kepada ular, takut kepada harimau. Ini takut yang wajar. Tetapi kalau takut kepada syaitan, takut miskin, takut tidak makan; ini bermasalah, karena ini adalah takut yang tidak wajar. Takut tidur sendirin, takut ditinggal suami, takut mati, itu juga bermasalah, karena kematian itu adalah sesuatu yang wajar. Kalau takut kepada Allah, takut neraka; itu bagus. Tetapi takut kepada masa depan, itu tidak wajar. Yang akan kita terapi adalah takut yang tidak wajar. (3) Gelisah, resah, tidak bisa tidur, stress, depresi. (4) Iri, dengki. Tetapi ini iri yang tidak baik, sebab ada pula iri itu yang baik. Kata Nabi bahwa tidak boleh ada hasad pada diri seseorang, kecuali dalam dua hal, yaitu iri kepada orang yang mempunyai harta tetapi hartanya itu disedekahkannya. Yang kedua adalah iri kepada orang yang mempunyai ilmu dan mengamalkannya. Iri ini dalam bahasa gaul kita namanya “sirik”. (5) Cepat putus asa, lemah semangat, dll. Penyimpangan-penyimpangan itu ada yang tingkatannya sedang, berat dan parah.

1. Marah, benci, dendam, tidak mau memaafkan, dll.

Termasuk penyakit dalam kelompok ini adalah ngomel. Ada pertanyaan, “Apa bedanya ngomel dan memberi tahu/nasihat?”. Kalau ngomel itu tidak ada ujung pangkalnya, biasanya tidak terkontrol. Biasanya kalau ngomel itu merembet ke mana-mana, tetapi kalau nasihat itu fokus. Kalau ngomelnya jarang-jarang, ya penyimpangan yang ringan. Tetapi kalau sudah berat, itu berbahaya. Bagaimana terapinya?

a. Wudhu

Kita tahu bahwa marah itu secara umum datangnya dari syaitan, seperti: tidak mau memaafkan, dendam, dll. Biasanya kalau marah (dalam tingkatan rendah), sifatnya spontan. Yang seperti ini dikatakan cepat marah, tetapi cepat pula redam. Ada orang yang cepat marah, tetapi cepat pula redam. Ada lagi yang cepat marah, lama redamnya. Ada yang lama marah, lama pula redamnya. Yang baik adalah lama marah, dan cepat redam. Mar
ah itu datangnya dari syaitan, sedang ketenangan itu datangnya dari Allah. Syaitan itu diciptakan dari api. Api itu takutnya kepada air. Makanya kalau sedang marah dianjurkan untuk berwudhu. Tentu saja wudhu yang dimaksud di sini adalah wudhu dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekedar membasuh. Kita sudah belajar bahwa kalau berwudhu itu sambil berdoa, “Ya Allah, hapuskanlah dosa-dosa tanganku, dosa-dosa wajahku, dosa-dosa kepalaku, dosa-dosa telingaku, dosa-dosa kakiku…”. Dengan begitu kita merendahkan diri kita, maka marah pun akan redam. Jadi, orang yang rajin wudhu tidak akan lama bermarah-marah

b. Gerakan dalam Shalat

Dari segi gerakan shalat, yang bisa menjadi terapi adalah saat sujud. Orang yang rajin sujud akan teredam amarahnya. Kata rasul bahwa syaitan itu takut dan benci kepada orang yang sujud. Syaitan akan menggoda manusia dari berbagai macam penjuru, kecuali dari bawah dan atas. Kita lihat firman Allah dalam surat Al A’raaf : 16-17:

clip_image003[4]

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

clip_image004[4]

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at).

Ini menunjukkan bahwa kalau mau melawan syaitan itu, lakukan dengan sujud. Marah itu datangnya dari syaitan, maka dengan sujud syaitan akan pergi. Di samping sujud, dari segi gerakan yang bisa dijadikan terapi adalah duduk. Dengan duduk ini rasa marah akan teredam. Nabi mengatakan, ‘Kalau kau marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Kalau duduk masih marah juga, maka berbaringlah”. Dengan duduk, secara fisik bisa meredam marah.

c. Bacaan shalat

Bacaan dalam duduk di antara dua sujud bis ajuga dijadikan terapi, seperti bacaan “wa’fu’anny”, Ya Allah maafkan aku. Sebagaimana telah kita kaji bahwa kita harus pula mengamalkan kalimat/bacaan itu. Kalau kita minta untuk dimaafkan, maka kita harus mencari bagaimana agar Allah memaafkan kita. Di luar shalat, dalam mengamalkan “wa’fu’anny” ini kita juga harus bisa memaafkan orang lain. Jangan sampai dalam shalat membaca “wa’fu’anny… wa’fu’anny”, tetapi di luar shalat tidak mau memaafkan orang lain. Apa yang kita lakukan terhadap orang lain, begitulah Allah melakukan kepada diri kita. Kalau kita menutup aib orang lain, maka Allah menutup aib kita. Kalau kita membantu orang lain, Allah akan membantu kita. Kalau kita tidak memaafkan orang lain, maka Allah juga tidak akan memaafkan kita. Kalau kita tidak menutup aib saudara kita, maka Allah kelak di akhirat tidak akan menutup aib kita. Jadi, kalau kita mengatakan “wa’fu’anny… wa’fu’anny…wa’fu’anny” dalam shalat, maka di luar shalat harus diamalkan; memaafkan orang lain. Kalau lagi sebel atau marah, dalam shalat baca “wa’fu’anny”, maka marah itu akan cair. Apalagi ditambah dengan sujud dan wudhu, marah itu makin hilang. Itulah alat untuk meredam kemarahan. Kalau setelah shalat masih marah, berarti shalatnya tidak benar. Kalau setelah shalat masih gemes, benci; berarti shalatnya tidak beres.

Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada diri kita itu hanya sebentar saja, setelah shalat penyimpangan itu lurus lagi. Sehingga kalau ada penyakit, itu tidak akan menjadi parah. Selalu ada waktu untuk memperbaiki, yaitu shalat. Tetapi ini kalau shalatnya benar. Makanya kalau ada orang yang sampai parah emosionalnya, berarti shalatnya kacau.

c. Kekhuyu’sn

Kekhusyu’an sebagaimana telah kita bahas ada beberapa tingkatan, yaitu khusyu’ persiapan, khusyu’ gerakan, khusyu’ bacaan, khusyu’ pikiran, dan khusyu’ perasaan. Penyimpangan-penyimpangan emosional itu sebenarnya bisa diselesaikan dengan khusyu’ perasaan. Tetapi tentu saja kita tidak bisa sampai kepada khusyu’ perasaan kalau tidak dimulai dari awal.

Salah satu puncak khusyu’ perasaan adalah seolah-olah kita bertemu dengan Allah. Kalau kita bertemu dengan Allah, maka hati ini sudah tidak ada perasaan marah, sebel, dsb. Sama halnya seperti kalau kita bertemu dengan orang yang kita cintai, hati yang sebel menjadi senang. Kalau bertemu lalu hati masih sebel, berarti orang itu tidak kita cintai. Sesebel apa pun, begitu bertemu Allah, akan hilang. Benci, dendam, dsb, sudah tidak ada lagi. Jangankan dengan Allah, dengan anak-anak kita saja di mana kita bisa bermain-main dengannya, bisa memeluknya; hati ini bisa menjadi tenang, rasa marah bisa hilang; apalagi bertemu dengan Allah. Kalau bertemu dengan Allah masih sebel juga, maka ini ada yang menyimpang, syaitan temannya. Jadi, puncaknya itu adalah khusyu’ perasaan. Kalau sudah sampai di situ, apapun penyakit emosionalnya, akan hilang. Tentu ini perlu proses.

2. Takut

Takut itu bermacam-macam. Takut tentang apa dulu? Kalau takut rejeki, maka pada waktu duduk di antara dua sujud, perbanyak bacaan “warjuqny…warjuqny”. Kalau takut suami kawin lagi, untuk ibu-ibu, maka perbanyak bacaan “warhamny…warhamny”. Kalau Allah sudah sayang kepada kita, maka mau apa lagi? Yang lain-lain tidak ada artinya. Takut aib kita? Perbanyak bacaan “wajburny…wajburny”. Takut direndahkan orang lain? Perbanyak bacaan “warfa’ny…warfa’ny”. Takut kita menyimpang dari jalan Allah? Baca “wahdiny…wahdiny”. Kalau takut gangguan-gangguan pikiran/syaitan? Disantet? Bacalah ta’awudz, pada rakaat pertama baca surat Al Falaq, dan pada rakaat kedua baca surat An Naas.

Kalau takut mati, apa obatnya? Takut mati itu berarti kita takut bertemu dengan Allah. Takut mati itu ada dua kemungkinan. Yang pertama, karena banyak dosa. Maka caranya adalah perbanyak bacaan “rabbighfirly…rabbighfirly”. Yang kedua adalah karena kurang amal. Perbaiki dengan amalan-amalan. Kalau itu sudah diperbanyak, sudah diperbaiki, tidak akan takut bertemu Allah. Orang-orang yang takut mati itu kalau kita perhatikan shalatnya tidak benar. Tetapi kalau shalatnya benar, begitu adzan langsung bergegas; tidak ada rasa takut.

Kita tahu bahwa amal yang paling sempurna itu adalah shalat. Dalam hadits dinyatakan, “Afdholu a’mali ash sholaatu ‘ala waqtiha”, yang paling baik amal itu adalah shalat di awal waktu. Bahkan jihad fii sabiilillaah itu kalah. Kalau kita sudah berusaha memperbaiki amal kita, khususnya shalat, maka yang lain akan kita dapatkan, penyakit takut mati akan hilang. Kalau sudah berusaha menyempurnakan amalnya, apa lagi yang ditakutkan? Apalagi kalau sudah masuk pada tingkat khusyu’ perasaan, bertemu dengan Allah; maka tidak ada ketakutan lagi. Jadi, shalat itu sangat efektif untuk memperbaiki ketakutan terhadap apa saja. Makanya kita sangat bahagia diberi shalat ini. Sayang sekali ada orang yang menyia-nyiakan shalat, padahal dalam shalat itu semuanya ada dan bisa kita dapatkan; istilahnya “You can get all from shalat” atau “One stop shopping” dalam shalat. Mau perlu apa saja, ada dalam shalat Makanya nabi itu kalau menghadapi masalah apa pun, beliau shalat. Bersyukur pun dengan shalat. Makanya ada hadits yang menyatakan bahwa s
halat itu lebih baik dari mati syahid. Diceritakan ada dua orang bersaudara, yang muda lebih dulu mati, mati syahid. Setahun kemudian baru kakaknya mati. Kedua-duanya masuk surga, tetapi kakaknya lebih dulu masuk surga. Sahabat bertanya, “Mengapa bisa begitu?’. Jawab Nabi, “Amal yang paling afdhol itu adalah shalat”. Mati syahid itu hebat, masuk surga. Tetapi ketika dihitung amalnya, amal shalat itu lebih besar, sehingga kalah. Tetapi ya jangan “Kalau begitu tidak usah mati syahid saja!”. Jangan begitu. Yang bagus adalah mendapatkan kedua-duanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: