4 September

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 4 SEPTEMBER 2005

  HUKUM ISLAM:

(Lanjutan)

DISPENSASI HUKUM (EKSTERNAL)  

Melanjutkan topik pada pertemuan yang lalu, yaitu tentang dispensasi hukum, banyak orang beranggapan bahwa seolah-olah hukum Islam itu begitu kaku.  Padahal sebenarnya hukum Islam itu adalah hukum yang mengandung berbagai keadilan dan hikmah.  Salah satu bentuk keadilan itu adalah adanya dispensasi hukum.  Ini yang sering dikumandangkan oleh orang HAM bahwa hukum itu diberikan sebenarnya untuk mendidik, sehingga mereka tidak setuju kalau ada orang dihukum bunuh (mati).  Mereka tidak setuju itu, sebab dengan dibunuh berarti sudah tidak mendidik lagi.  Yang jelas dalam Islam memang hukum itu mendidik, tetapi pendidikan itu diberikan dengan syarat-syarat tertentu.  Ini dinamakan dispensasi.  Seperti dicontohkan pada pertemuan yang lalu bahwa ada orang yang merampok, dan dia bertaubat sebelum ditangkap, itu akan dapat dispensasi hukum.  Syaratnya: dia belum ditangkap, dia taubat dan dia menyerahkan diri, sebagaimana dijelaskan pada surat Al Maidah (5) : 33 – 34:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,

kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Dispensasi seperti itu adalah dispensasi internal, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya.

Sekarang akan dibahas dispensasi dari sisi eksternsl, yaitu :

 1.  Terpaksa 

Dispensasi internal disebabkan oleh karena ia taubat, mengaku salah, dia minta maaf; berasal dari diri orang yang melakukan itu,   Sedang faktor-faktor eksternal berasal dari luar pribadinya.  Contohnya, orang berbuat melanggar hukum karena terpaksa.  Ini diberikan dispensasi hukum, karena terpaksa ia melanggar hukum: karena lapar ia mencuri, karena terdesak maka ia membunuh.  Misalnya, ada orang yang akan membunuh dia, dia membela diri; orang itu terbunuh.  Ini lain dari hukum biasa, ada faktor-faktor dari luar, ada faktor-faktor tertentu, sehingga ia membunuh.  Penyebab ia membunuh itu akan meringankan hukumannya, bahkan bisa dibebaskan.  Berbuat kesalahan karena keterpaksaan, itu bukan dosa.  Allah berfirman dalam surat Al Baqarah (2) : 173:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Kalau ia terpaksa melanggar hukum karena tidak ada makanan yang lain, yang ada hanya itu, kalau tidak dimakan ia mati; maka orang seperti ini akan dimaafkan.  Coba kalau sekarang, misalnya, ada orang maling ayam, tertangkap: langsung digebukin, tidak ada interogasi mengapa ia maling ayam.  Atau ia maling karena suatu keterpaksaan, tidak pernah ditanya lebih dulu, langsung digebukin.  Jadi, kalau ada faktor dari luar, bisa menyebabkan ada dispensasi hukum. 

Kata Nabi bahwa orang diangkat (dibebaskan dari hukum) itu karena tiga hal : (1)  karena terpaksa, (2) orang tidak sadar sampai ia sadar, dan (3) orang tertidur sampai ia bangun.  Ada orang tidur, penyakitnya penyakit jalan (ngelindur), lalu melanggar hukum, itu dimaafkan.  Tetapi kalau orang mabuk, nggak!  Orang mabuk memang ia membuat kesadaran itu hilang gara-gara dirinya sendiri.  Kalau berbuat salah, ia kena hukum double, satu karena mabuknya, yang kedua karena melanggar hukumnya.  Tetapi kalau dalam hukum positif tidak demikian, orang mabuk kemudian berbuat salah, ia bebas dengan alasan ia hilang akal.  Oh, enak banget itu; mabuk bunuh orang, ia bebas!  Kalau begitu, bikin mabuk saja terus agar terbebas dari hukum.  Jadi, karena terpaksa, maka ada dispensasi hukum.

   2.  Dimaafkan 

Yang berikutnya, disepensasi hukum berlaku kalau orang itu dimaafkan.  Kita membunuh, misalnya, ternyata keluarga yang dibunuh memaafkan, maka ada dispensasi.  Tentu saja membayar ganti rugi.  Atau sebelum diajukan ke pengadilan, dimaafkan.  Tetapi kalau sudah diajukan ke pengadilan, lain lagi.  Ini hanya yang berkaitan dengan hubungan antar manusia.  Tetapi kalau berzina, itu tidak bisa; siapa yang memaafkan?  Allah berfirman dalam surat Al Baqarah (2) : 178:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. 

Jadi, kalau sudah dimaafkan, sudah!  Coba, dalam hukum positif, kalau terjadi pembunuhan, seperti kasus Ibnu Sutowo itu, ternyata dimaafkan oleh ahli warisnya.  Itu sebenarnya selesai.  Tetapi ternyata orang lain yang ribut.  Orang yang dibunuh saja keluarganya memaafkan, orang lain yang tidak ada kaitannya ribut.  Apa urusannya?  Lihat surat Al Maidah (5) : 45:

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. 

Kalau sesudah melepas haknya, dimaafkan; selesai! Itulah penebus dosanya.  Ini berkaitan dengan qisas.  Ini tidak ada dalam hukum positif.

 3.  Karena adanya kekacauan 

Kalau ada orang mencuri karena paceklik, tidak bisa dilakukan pemotongan tangan.  Misalnya, penjarahan terjadi karena huru hara seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu, tidak bisa dilakukan potong tangan; karena dalam kondisi kacau, semuanya di luar kendali.  Hukum potong tangan tidak diterapkan.  Hukumnya berubah, namanya ta’dzir, keringanan hukuman. 

Yang membuat keringanan itu karena ada kekacauan itu.  Kalau kejahatan terjadi karena peluang yang terbuka, maka sebenarnya orang yang melakukan tidak terkena hukum yang semestinya.  Dia akan kena kalau peluangnya tertutup.  Orang mencuri, misalnya, yang dicurinya barang yang ada di rumah yang pintunya terbuka, maling masuk ambil barang; itu tidak boleh dipotong tangannya.  Mengapa begitu?  Dia dihukum, tetapi hukumannya bukan potong tangan, apakah cambuk berapa kali?  Karena pencurian terjadi karena kesalahan yang punya rumah: kenapa rumahnya tidak dikunci, kenapa rumahnya tidak ditutup?  Syarat agar kena hukum, ia “merusak”.  Kalau tidak?  Tidak!  Kalau masalah dosa, ia berdosa.  Tetapi ini masalah hukumannya, yaitu masalah hukum potong tangan.  Makanya seperti masalah copet itu terjadi ikhtilaf antar ulama, karena ia tidak merusak sesuatu.  Tetapi kalau ia merobek kantong, baru ia kena hukum.

Satu lagi adalah orang mencuri di kuburan.  Misalnya, kain kafannya dicuri karena mahal (dari sutera).  Itu tidak dihitung hukum potong tangan.  Karena ia dianggap tidak mencuri, karena tidak terjaga.  Jadi, kalau orang kecopetan, salahnya sendiri kenapa tidak disimpan dengan baik, tertutup.  Tetapi kalau dirobek, kancingnya dibuka; dicopet, ia kena hukum potong tangan.  Tetapi kalau tidak merobek, tidak membuka tutup, ia tidak kena hukum potong tangan, karena terbukanya peluang.  Jadi, hukum potong tangan itu tidak sembarangan. 

Dalam Islam, hukuman akan ditegakkan ketika peluang itu tidak ada.  Tetapi kalau peluang itu ada, terbuka, hukuman tidak dapat ditegakkan sebagaimana seharusnya.  Nanti kita bahasa pada topik “Proses Penegakan Hukum”.  Yang pertama syaratnya adalah perangkat hukum harus diisi dulu, kesempatan ditutup semua, baru ada hukum.  Contoh: kita akan menegakkan hukum perzinahan< yaitu jilid.  Kalau aurat terbuka di mana-mana, TV masih seperti ini, belum bisa menerapkan hukum jilid itu.  Jadi, dalam penerapan hukum itu ada tahapannya.  Tidak boleh mentang-mentang, lalu ….. prek!  Ada tahapannya.  Kita akan bahas masalah ini pada topik “Tahapan Hukum”. 

Jadi, kalau ada kekacauan, hukum tidak dapat diterapkan seperti adanya, ada dispensasi.  Contohnya adalah peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan.  Utsman terbunuhnya karena kekacauan, maka Ali bin Abi Thalib tidak menegakkan hukum.  Hal ini menjadi perselisihan, Aisyah marah, “Hukum harus ditegakkan!”, katanya.  Menurut Ali tidak, karena terjadi kekacauan.  Akhirnya terjadi perang gara-gara perselisihan itu.  Ali berpendapat: dalam kondisi kacau, hukum tidak diterapkan.  SedangAisyah berpendapat bahwa hukum harus ditegakkan.  Padahal ini yang terbunuh adalah khalifah.  Ini peristiwa sejarah.  Aisyah kalah perang dan dikembalikan ke rumahnya.

 4.  Pertama kali melanggar Hukum 

Dispensasi hukum bisa terjadi, ini tergantung hakim, yaitu kalau orang itu melanggar hukum baru pertama kalinya dilakukan.    Pada jaman khalifah Ali, ada orang yang tertangkap mencuri, ia bilang, “Saya mencuri ini baru sekali-kalinya”.  Kata Ali, “Kalau baru sekali, tidak akan tertangkap kan?”.  Kalau baru sekali-kalinya, dapat dispensasi, karena di sini mencuri itu bukan karena hobi.  Jadi, mencuri itu pun ada kaidahnya.  Lihat surat Al Baqarah (5) : 38 – 39:

Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku. 

Di sini digunakan istilah “pencuri”, artinya sudah melekat sifat itu pada orang itu.  Ini menunjukkan bahwa kejahatan itu telah dilakukan olehnya berulang-ulang.  Termasuk juga “penzinah”.  Lihat surat An Nuur (24) : 2:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. 

Ada perbedaan antara “penzinah” dan “orang berzinah”.  Penzinah berarti dilakukan berulang-ulang.  Kalau baru sekali itu diperbuat, ada dispensasi hukum.  Di sini hakim sangat berperan.  Dengan demikian yang terkena hukuman penuh itu kira-kira pelacur.  Orang yang baru pertama melakukan sulit untuk diketahui oleh 4 orang saksi mata.  Mana ada orang yang berzinah disaksikan oleh 4 orang saksi?  Ini berarti orang yang tidak tahu malu.  Kalau Cuma sekali, pastilah ia malu, tidak mungkin disaksikan oleh 4 orang.  Jadi, dalam Islam itu baru sekali berbuat salah, bisa mendapat keringanan hukuman atau diberi ta’dzir namanya.  Seperti di Aceh, itu bukan hukuman yang sebenarnya, ada dispensasinya. 

Kalau orang mengetahui tentang urutan-urutan hukum Islam seperti itu, tidak akan orang mengatakan , “Oh hukum Islam itu kejam, sadis!”.  Ada dispensasi-dispensasi.  Coba cari dispensasi hukum positif?  Tetapi ini tidak berlaku bagi pembunuhan.  Dalam Al Qur’an, ayat yang membahas tentang pembunuhan itu digunakan kata “man”, barang siapa yang membunuh, berarti perbuatan orang.  Berbeda dengan pencurian, disebut “saariqun atau “saariqot”, yang berarti pekerjaannya mencuri.  Kita lihat surat Ali Imron (4) : 93:

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. 

Jadi, kalau membunuh itu, meskipun baru sekali membunuh, ia kena hukum.  Betapa indahnya hukum Islam itu.

Yang berikutnya insya Allah kita akan membahas tentang Tahapan-tahapan, Proses penegakan hukum Islam.  Tidak ujug-ujug diberlakukan.

Wallaahu a’alm bish showab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: