28 Agustus

MASJID AL FALAH – TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 28 AGUSTUS 2005

  

HUKUM ISLAM

  

Untuk hal yang sifatnya pribadi, kita sebenarnya tidak perlu perangkat hukum, cukup diri kita melakukan, selasai!  Misalnya, shalat, puasa, zakat, haji, perkawinan, keluarga, hukum waris, dll.  Itu semua, kalau pribadi kita melaksanakannya, tidak ada masalah.  Justru  yang menjadi masalah adalah yang berkaitan dengan publik.  Karena, di situ perlu proses atau perangkat hukum, seperti mesti dibuktikan di pengadilanlah, mesti ada aparat hukumnyalah, mesti ada hakimnya, mesti ada undang-undangnyalah, mesti ada mesti ada berita acaranya/KUHAP; dsb.  Itu adalah perangkat hukum.  Tidak bisa kita lakukan sembarangan.  Dalam kondisi negara seperti ini, maka banyak hukum yang bersifat pidana belum dilaksanakan, kecuali sebagian kecil yang dilaksanakan di wilayah Nangroe Aceh Darussalam, seperti yang baru lalu dilaksanakan, yaitu hukum cambuk.  Dan, itu masih banyak pro dan kontranya.  Dalam kajian ini kita akan membahas bagaimana hukum Islam itu.

Dalam hukum Islam, ada dua pendekatan yang digunakan sebagai landasan pelaksanaannya, yaitu pendekatan filosofis dan pendekatan praktis.  Pendekatan filosofis didasarkan pada aspek keimanan (aspek imani) seseorang.  Tinjauan filosofis ini berkaitan dengan masalah keimanan.  Artinya, hanya orang yang beriman yang meyakininya, sedang orang yang tidak beriman mungkin tidak meyakininya.  Lain halnya dengan tinjauan praktis di mana semua orang bisa mencernanya.

 I.  Tinjauan Filosofis 

Tinjauan filosofis terbagi atas 5 (lima) hal, yaitu bahwa dengan menegakkan hukum Islam itu: (1) Merupakan sebagian dari keimanan, (2) Menjalankannya adalah ibadah, (3) Salah satu bentuk penebus dosa, (4) Mati dalam menegakkan hukum adalah mati syahid, dan (5) Orang yang rela dihukum merupakan salah satu bentuk taubat.

1.      Sebagian dari keimanan

Menegakkan hukum Islam, bagi orang yang beriman menunjukkan kualitas  keimanan seseorang.  Orang yang imannya lemah, akan enggan menegakkannya.  Sebaliknya orang yang imannya kuat, ia akan takut untuk melanggarnya, dan akan menjalankan segala ketentuan yang digariskan.

 2.  Menjalankannya adalah Ibadah 

Bagi orang mukmin, menjalankan hukum Islam merupakan salah satu bentuk ibadah, sebagai salah satu ketaatannya kepada Allah SWT.  Dalam surat Al An’am (6) : 162-163 dinyatakan: 

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. 

Dalam surat Adz Dzaariat (51) : 56 disebutkan:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. 

3.  Penebus Dosa 

Orang yang beriman itu kalau menjalankan hukum Islam dipandangnya sebagai salah satu bentuk penebus dosa, penghapus kesalahan(kaffaro).  Kalau sudah menebus dosanya, di akhirat ia sudah tidak kena hukuman  lagi.  Allah berfirman dalam surat Al Maidah (5) : 89:

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). 

Kalau sudah menebus dosanya, maka di akhirat ia sudah tidak kena hukuman lagi.  Ini harus diungkapkan kepada umat, seperti inilah hukum Islam itu.  Hanya orang Islam yang paham.  Kalau tidak Islam, ya tidak mengerti.  Ini mesti kita yakini bahwa menjalani hukum Islam itu bukti dari keimanan.  Sementara kalau tidak menjalankannya itu bukti dari kekufuran.

 4.  Mati Syahid 

Bagi orang yang beriman, mati dalam keadaan menjalani hukum Islam sama dengan mati syahid.  Orang yang tidak beriman tidak bisa mencerna ini.

 5.  Bentuk Taubat 

Orang yang rela dihukum merupakan salah satu bentuk taubatnya.  Kalau di dunia sudah kena hukum, di akhirat sudah tidak kena lagi.  Hanya orang yang beriman yang yakin bahwa hukuman itu ada di dunia dan ada di akhirat.  Di dunia mungkin bisa tidak mendapatkan hukuman, tetapi di akhirat ia tidak akanlolos.  Menjalani hukum di dunia, supaya nanti di akhirat sudah tidak kena lagi.  Kita selesaikan urusan di dunia, supaya di akhirat terbebas.  Kalau ada perselisihan atau permusuhan, diselesaikan di dunia, daripada nanti diselesaikan di akhirat.  Allah berfirman dalam surat An Nisa’ (4) : 92:

Dan tidak layak bagi seorang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

 II.  Tinjauan Praktis 

Sekarang kita bahas tinjauan praktis hukum Islam.  Tinjauan ini yang harus kita kembangkan kepada seluruh umat manusia.  Melalui tinjauan praktis ini kita tunjukkan kepada umat Islam atau yang bukan Islam.  Tinjauan ini bisa dibuktikan, sedang tinjauan filosofis tidak bisa dibuktikan.  Bagi orang yang imannya lemah pun sulit kita buktikan tinjauan filosofis ini.  Tetapi praktisnya bisa kita buktikan.  Masalah praktek ini mesti kita nampakkan dalam kehidupan kita sehari-hari, biar semua tahu inilah hukum Islam itu.  Apa saja tinjauan praktis itu?  Ada 5 (lima) tinjauan praktis, yaitu : (1) Adil, (2) Penuh Hikmah, (3) Efektif dan Efisien, (4) Dispensasi, dan (5)  Proses dan Tahapan Penegakkan.

 1.  Adil 

Ada dua makna berkaitan dengan adil ini.  Yang pertama adalah seimbang, pantes.  Yang kedua adalah adil itu menempatkan sesuatu sesuai dengan fungsinya.  Hukum Islam itu adalah adil, fair, seimbang.  Harus kita buktikan bahwa hukum Islam itu seperti itu.  Sebagai contoh: hukum qisas.  Hukum qisas itu fair: ditonjok orang, tonjok lagi.  Fair hukum Islam itu.  Tanggalkan gigi sebelah, balas tanggalkan gigi sebelah!  Tidak cukup dengan, “Wah minta maaf saja”.  Itu tidak cukup.  Lain halnya kalau dimaafkan.  Ini yang tidak ada dalam hukum positif.  Artinya, hukum bisa dihapuskan dalam kasus-kasus tertentu.  Orang yang mencuri bisa tidak dipotong tangannya, bebas, kalau ada sebab-sebab tertentu. Adilnya hukum Islam itu harus kita buktikan dan kita ungkapkan ke publik.  Betapa adilnya hukum Islam itu.  Kita  cari ayat-ayatnya, kita cari hadis-hadisnya, kita pelajari prakteknya bagaimana di jaman Nabi.  Kalau bisa, dibuat penelitian-penelitian praktek hukum Islam di negara-negara yang sudah menerapkan hukum Islam.  Ini mesti kita ungkapkan bagaimana adilnya hukum Islam.  Ambil saja contoh tentang mencuri, kita lihat bagaimana adilnya hukum Islam itu.  Harus kita ungkap baik yang bersifat pidana maupun yang tidak bersifat pidana.

 2.  Penuh Hikmah 

Hukum islam itu adalah penuh hikmah.  Artinya, di balik hukum itu, sangat jauh pandangannya ke depan.  Sebagai contoh, hikmah orang membunuh, hukum qisas; apa hikmahnya?  Salah satu hikmahnya adalah impas.  Demikian juga, yang lain, misalnya kalau kita menonjok orang, maka akan ditonjok kembali; kan mikir!  Kalau kita membunuh orang, hukumannya adalah dibunuh!  Kan mikir.  Sekarang ini pembunuhan terjadi di mana-mana, karena mungkin hukumannya hanya sekian tahun, dikasih makan lagi!  Kalau dibunuh lagi, ia jadi mikir.  Bahkan pelaksanaannya dinampakkan di depan publik, tidak dilaksanakan sembunyi-sembunyi.  Orang jadi ngeri untuk melakukan pembunuhan.  Kita lihat surat Al Baqarah (2) : 178 :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. 

Demikian juga surat An Nuur (24) : 2:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. 

Penegakan hukum itu disaksikan oleh publik, agar ada efek jera.  Kalau dilaksanakan sembunyi-sembunyi, tidak nampak; orang tidak jera.  Coba kita nampakkan, maka orang untuk berbuat seperti itu akan ngeri.  Ini perlu dilakukan penelitian.  Di negara Islam yang menegakkan hukum Islam bagaimana intensitas orang yang berbuat salah dibandingkan dengan negara yang tidak melaksanakan hukum Islam.  Coba dicek, berapa banyak terjadi pembunuhan, berapa banyak terjadi pencurian, berapa banyak terjadi perzinahan?  Secara statistik dapat dibuktikan.  Cob, di Amerika, berapa banyak terjadi pembunuhan, berapa banyak terjadi perzinahan, berapa banyak terjadi pencurian; dibandingkan dengan Saudi Arabia, misalnya.  Ini dapat dibuktikan secara statistik.  Kalau kita lakukan penelitian itu, pasti sangat jauh perbedaannya.  Bahkan pelaksanaan hukuman itu diumumkan, misalnya untuk Kelurahan A, biasanya dilaksanakan di masjid jami’, dan diumumkan; biasanya diumumkan di hari Jum’at.  Sebelum shalat Jum’at diumumkan di mana-mana.  Makanya itu perlu kita buktikan.

Jadi, pada tataran praktis ini, tataran ilmiah, bisa kita buktikan di lapangan.  Tetapi kalau tataran fiilosofis, itu bukan ilmiah.  Itu masalah keimanan, hanya orang-orang yang beriman yang meyakininya.  Tetapi kalau tataran praktis, siapa pun bisa membuktikannya.  Hikmah dari pelaksanaan yang terbuka, diumumkan itu, bukan hanya jera saja, banyak yang lainnya.

 3.  Efektif dan Efisien

Hukum Islam itu efektif dalam memberantas kejahatan dan sangat efisien dalam pelaksanaannya.  Hukum positif itu sangat tidak efisien, sangat boros.  Efektif ini bagian pula dari hikmah.  Contoh: kalau ada orang membunuh, ia dibunuh.  Ini sangat efektif dan sangat efisien.  Coba tengok hukum positif kita: orang membunuh, 4 tahun dipenjara; sangat tidak efektif.  Berapa uang yang dikeluarkan  untuk ngasih makan?  Berapa biaya penginapannya?  Kan sangat besar.  Kalau hukum Islam, tidak perlu penjara; kita hukum tahanan, begitu selesai, eksekusi.  Makanya di negara kita ini sepertiga budget Departemen Kehakiman itu buat penjara: buat makannya, buat sipirnya, dll.  Berpa milyar yang harus ditanggung?  Orang mikir, “Ah daripada gua di luar tidak makan, lebih baik maling, kalau tertangkap, makan di penjara”.  Di penjaran gratis lagi penginapannya.  Kalau di luar?  Jadi gelandangan dia.  Bahasa prokemnya: menginap di hotel prodeo.  Dalam Islam tidak perlu penjara, yang ada hanya tahanan.  Kalau hukum sudah diputuskan, selesai!  Sangat efektif.  Coba, kalau dalam hukum positif, orang dihukum seumur hidup, misalnya.  Bayangkan, betapa sangat tidak efektif dan tidak efisiennya:  ngasih makannya, ininya-itunya; berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan?  Itu baru secara materi. 

Bagaimana efek psikologisnya?  Ini perlu diberitahukan, bagaimana efek psikologis orang yang dipenjara?  Penjara itu menciptakan orang-orang pemalas, pengangguran; sangat tidak efektif.  Orang dipenjara itu tidak kerja, walau dilatih ini-itu di penjara.  Berapa banyak efek psikologis orang yang menganggur?  Dalam Islam tidak demikian.  Mencuri?  Potong tangan.  Setelah itu?  Selesai!  Bebas dia, bisa mencari makan, bisa bekerja.  Yang dipotong itu adalah tangan yang tidak aktif.  Kalau ia mencuri, tangan yang aktif kanan, maka tangan kiri yang dipotong.  Kalau mencuri lagi, potongannya naik ke atas.  Tiga kali mencuri: ya sudah potong saja; itu keterlaluan.  Satu kali, dua kali, tiga kali; kalau keempat kali mencuri?  Lebih baik tidak usah punya tangan lagi.  Efektif dan efisien.  Tidak perlu ngasih makan dan penginapan.  Kalau di sini tidak demikian, orang di penjara, sudah jadi kebiasaan, hidup enak, jadi malas.  Coba hitung, berapa efek psikologis orang yang keluar dari penjara?  Berapa banyak orang yang menganggur?  Di penjara, polisi-polisi sering melepaskan tahanan, karena nggak ada duit untuk ngasih makan.  Pernah ada orang mencuri dan diproses ke polisi, dilepas lagi.  “Pak, orang ini kita tangkap dan diserahkan ke polisi, koq Bapak lepaskan?”.  Jawabnya, “Kalau ia tidak dikasih makan, mati dia!  Memangnya bapak mau bertanggung jawab?  Nanti kalau kami mengompas, wah masyarakat marah? Ia kan perlu makan?  Dari mana dananya?”.  Maling-maling itu kalau tidak disorot oleh media, dilepasin, paling dipenjara cuma sebentar saja.  Bikin jeranya maling, paling mukanya bonyok dipukulin orang.  Ini, ngasih makannya?  Ya kalau proses pengadilannya cepat, ia ditahan polisi, tapi kalau lama?  Siapa yang ngasih makan?  Kita pernah bertanya dan diberi jawaban seperti itu.  Akhirnya mikir juga kita.  Efek psikologis yang timbul itu baru dari segi pribadinya.  Sekarang dari sisi keluarga yang ditinggalkan bagaimana?  Pertanyaannya, kalau orang masuk penjara, siapa yang ngasih makan keluarganya?  Bagaimana efek psikologis keluarganya?  Kalau dalam hukum Islam, selesai diputus, sudah!  Ia bisa cari makan.  Kalaupun hilang tangan sebelah, masih ada tangan yang satu yang aktif untuk mencari makan.  Ya kan?  Masalahnya selesai. 

Ini harus kita buktikan, kita bikin tulisan, kita bikin penelitian; berapa banyak efek psikologisnya, berapa banyak pemborosannya?  Kita tulis semuanya, kita ungkap.  Orang jadi mengerti, “Oh ya, bernar!”.  Dampaknya besar sekali. Jadi, hukum Islam itu efektif dalam memberantas kejahatan dan efisien dalam pelaksanaannya, tidak perlu biaya besar.  Ini logikanya sudah bisa kita terima, Cuma mesti dalam bentuk penelitian-penelitian, biar ilmiah.  Kalau ada Fakultas Hukum Islam, coba teliti, jadikan disertasi atau yang lain; bisa diungkap ke publik.  Dengan tulisan-tulisan itu, orang jadi ngeh, betapa pentingnya hukum Islam itu.  Hanya saja penelitian-penelitian itu sekarang ini sifatnya normatif semuanya.  Lakukan penelitian, sehingga orang  berkesimpulan, “Oh ya, hukum Islam itu ternyata efektif”.

 4.  Dispensasi Hukum

Dispensasi hukum bisa diberikan karena sebab-sebab pribadinya atau juga karena sebab-sebab di luar pribadinya.  Ada sebab-sebab internal dan ada sebab-sebab eksternal. 

 a.  Sebab Internal

Sebab-sebab internal yang membuat dispensasi hukum adalah:

 1)  Mengaku dan Taubat

Mengaku dan taubat ini syaratnya adalah sebelum ditangkap.  Kalau sudah ditangkap, ngaku dan taubat itu tidak dihiraukan.  Sebelum menyerahkan diri, ia mengaku dan taubat, maka ia kena dispensasi hukum.  Dispensasi ini juga tergantung hakim, apakah hukumannya bebas atau dikurangi.  Biasanya dilepas.  Ini kebijakan qodhi, seroang hakim.  Bagaimana dispensasi itu?  Apakah semuanya?  Kita ambil contoh:  misalnya tentang perampokan.  Lihat surat Al Maidah (5) : 33 – 34:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,

kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Jadi, dispensasi itu bagi yang bertaubat dan menyerahkan diri sebelum ditangkap, nggak boleh ia dihukum, nggak boleh dipancung.  Mana ada hukum positif yang model begini?  Boro-boro, ngaku malah bonyok!  Dalam Islam, orang yang gentlemen, mengakui kesalahannya dan ia benar-benar taubatnya, ia bebas dari hukuman.  Bahkan pada jaman Nabi, ada seorang perempuan yang belum menikah telah berzina, “Ya rasulallah, saya telah berzina, ini buktinya: saya telah hamil”.  Dijawab oleh rasul, “Sudah, pulang sajalah, tunggu nanti kalau sudah melahirkan”.  Itu sebenarnya adalah bentuk tijaroh.  Sesudah ia melahirkan, dibawanya anaknya kepada rasulullah, “Ya  rasulullah, saya telah melahirkan, ini anak saya”.  Dijawab, “Sudah, kamu pulang, susui anakmu dulu”.  Sebenarnya kalaupun ia tidak melapor, ia tidak apa-apa, rasulullah memberi dispensasi.  Setelah anaknya besar, ia datang lagi kepada rasulullah, lalu rasulullah melaksanakan hukumannya.  Salah seorang sahabat mengolok orang itu karena telah berbuat zina.  Rasulullah sangat marah dan berkata, “Ia ini taubatnya mencukupi seluruh penduduk negeri ini, kalau dibagikan taubatnya”.  Jadi, kalau ia mengaku dan berserah diri, sebenarnya ia bebas.  Tetapi kalau ketangkap duluan, tidak bisa dispensasi, “Oh, saya sekarang taubat”.  Tidak bisa seperti itu.  Dispensasi ini tergantung pula hakimnya, bagaimana ia meyakini taubatnya itu: sungguh-sungguh atau tidak? 

 2)  Dimaafkan

Contoh lagi: masalah qisas, membunuh, hukumannya adalah dibuh kembali.  Selesai urusan.  Lihat surat Al Maidah (5) : 45:

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. 

Jadi, kalau dimaafkan, sudah.  Selesai! Ia paling membayar denda: untuk rumah sakitnyalah, untuk berobat kalau ia memukul morang, kasih uang berobatnya.  Kan fair, enak model seperti itu.  Hukum mana yang ada seperti ini?  Bahkan kalau membunuh, dendanya 100 unta.  Kalau sekarang nilainya berapa?  Tergantung hakimnya.  Kalau ada orang membunuh dan ia dimaafkan, ia bayar ganti rugi, 100 unta untuk memberi makan keluarga yang ditinggalkan.  Tetapi kalau dipenjara?  Yang masuk penjara rugi, anaknya nggak makan, dianya jadi orang pemalas, keluarga yang dibunuhnya rugi juga: siapa yang menanggungnya?  Dengan dia bebas, dia bisa cari makan untuk anak isterinya, dia bisa kasih makan keluarga yang dibunuhnya.  Ternyata dengan begini, bisa mempererat persaudaraan.  Membunuh suami orang, misalnya, isterinya jadi janda dan ada anak yatim.  Karena ia taubat, dimaafkan; bayar ganti rugi.  Kalau tidak bisa bayar sekligus, ia cicil bayarannya, tanggung biaya anak-anaknya: ya sekolahnya, ya makannya.  Melihat baik seperti ini, mungkin anaknya bilang, “Mak, lebih baik kawin saja sama Bapak itu, orangnya baik!”.  Nah ……… , kan jadi persaudaraan.  Tadinya permusuhan yang timbul, akhirnya yang terjadi adalah persaudaraan.  Anaknya disekolahkan, nampak betul ia menyesal.  Coba: hubungan jadi baik.

Oleh karena itu, buatlah cerita di TV, misalnya, seperti “Takdir Ilaahi”, ceritanya tidak harus yang seram-seram seperti yang ada selama ini.  Buat cerita terkait dengan hukum Islam.  Ceritakan: membunuh, dimaafkan, kasih makan keluarga yang dibunuh, menyesal, tanggung seluruhnya.  Ini tugas produser-produser/sutradara.  Lihat surat Al Baqarah (2) : 178.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.

Dalam ayat tersebut digunakan kata “saudara”, bukan yang terbunuh.  Permusuhan biasannya terjadi antara orang yang membunuh dengan saudar-saudara orang yang terbunuh.  Kalau saudara-saudara itu sudah memaafkan, berarti tidak ada dendam permusuhan.  Yang memaafkan itu harus dengan cara yang ma’ruf, yang layak, yang pantas.  Artinya, kalau minta denda, mintalah yang pantas, yang layak, sesuai dengan kemampuan si pembunuh.  Tetapi sebaliknya bagi yang diberi maaf, harus memberikan yang terbaik, berikan yang lebih baik.  Kira-kira orang yang dibunuh itu gajinya berapa, sehingga dendanya itu pantaslah untuk menghidupi keluarga.  Kalau sudah dimaafkan, berikan yang lebih baik dari itu.  Misalnya, dendanya Rp. 100 juta, maka bayralah Rp. 200 juta atau lebih.  Jadi, memintanya yang layak, berikan lebih dari yang dituntut.  Jangan sampai nanti setelah minta denda, masih ada ekses-ekses yang lain.  Kalau sudah saling memaafkan, selesai!  Jangan ada dendam lagi, jangan ada permusuhan lagi. 

Kalau kita lihat hukum positif, mana ada yang seperti itu?  Kalau membunuh, masuk penjara; rugi semua: anak terlantar, yang terbunuh masih dendam; apa yang didapat dari penjara?  Masuk penjara 4-5 tahun, misalnya, apa yang berikutnya setelah keluar dari penjara?  Berbahaya.  Kalau tidak dimaafkan, bisa-bisa keluar dari penjara, diancam oleh keluarga yang dibunuh.  Kecuali kalau dimaafkan.  Ini salah satu bentuk dispensasi.  Tetapi syaratnya: taubat dan ngaku serta dimaafkan.  Memang ia sungguh-sungguh bertaubat.  Hakim yang akan menilai kesungguhan taubatnya.  Hakim yang mencoba untuk mendamaikan, sehingga bisa dimaafkan.  Tetapi kalau keluarga menyatakan tidak memaafkan, maka hukum harus dilaksanakan.  Kalau dimaafkan, bayar denda.  Bahkan dalam Islam, kalau ia tidak mampu bayar denda, maka yang menanggung adalah negara.  Coba, sudah membunuh, tidak masuk penjara, dendanya ditanggung. 

Ada suatu cerita pada jaman Nabi.  Seseorang datang kepada rasulullah, “Ya rasul, celaka, saya telah berhubungan suami-isteri pada siang hari di bulan ramadhan”.  Maka kata rasul, “Bebaskan budak!”.  Ia jawab, “Bagaimana kami bisa, sedang kami tidak punya harta untuk itu?”.  Jawab nabi, “Sudah, puasa dua bulan berturut-turut!”.  Tukasnya, “Ya Nabi, jangankan dua bulan berturut-turut, satu hari saja sudah tidak tahan”.  Lanjut Nabi, “Beri makan 60 orang miskin!”.  Jawab orang itu, “Saya tidak mampu ya rasulallah”.  Kata Nabi, “Ambil barang ini, kasih orang miskin di sekitarmu”.  Lanjut orang itu, “Di sekitar kami tidak ada orang miskin ya rasulullah, kecuali saya ini”.  Kata Nabi, “Ya sudah, ambil barang itu untuk keluargamu”.  Coba, hukum mana yang seperti itu?  Ia bisa mendapatkan dispensasi itu karena ia datang dan mengaku. 

Ini maksudnya adalah ibroh, untuk diambil pelajaran bahwa dispensasi hukum itu ada, tetapi dengan syarat-syarat tertentu.  Ini yang tidak ada dalam hukum positif.  Ini semua bisa karena taubat, bisa dibebaskan dari hukuman.  Ini yang harus kita ungkapkan.  Jangan-jangan karena orang tidak tahu hukum Islam ia menolaknya.  Orang-orang non muslim itu kalau tahu seperti itu, ia lebih senang hukum Islam diterapkan. 

b.  Sebab Eksternal

Beberapa hal yang menyebabkan dispensasi yang bersifat eksternal adalah:

 1)  Terpaksa

Contohnya adalah maling karena terpaksa atau membunuh karena terpaksa atau karena tidak disengaja.  Maling karena terpaksa itu bagaimana?  Karena kondisinya miskin atau kondisinya paceklik.  Dalam surat An Nisa’ (4) : 16, Allah berfirman:

Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Jadi, kalau ia bersalah dan bertaubat, maka hukumannya tergantung keyakinan hakim.  Jangan tiba-tiba ngaku “Saya taubat …..”.  Hakim akan menilai benar atau tidaknya taubat itu.  Kalau ia taubat dan memperbaiki  diri, baru ada dispensasi.  Kebanyakan orang kan membayangkan hukum Islam itu potong tangan, jilid, rajam; yang seram-seram saja, tidak diungkap bagaimana ada dispensasi.  Maling yang karena terpaksa, bebas ia.  Dalam cerita pada jaman Umar bin Khatab menjadi Khalifah, ada seorang pembantu mencuri, tetapi yang dihukum adalah tuannya.  Mengapa?  Karena ia tidak mendapat gaji.  Pembantunya maling, tertangkap, ia mengadu, “Saya tidak diberi gaji, saya kan perlu makan!”.  Yang kena hukum adalah tuannya.  Ia melakukan itu karena terpaksa.  Dalam Islam, kalau ada maling karena lapar, maka yang pertama dicek adalah daerah tempat tinggalnya, lihat tetangganya bagaimana.  Tetangganya bisa kena.  Jadi, hukum Islam itu bukan seperti yang kita bayangkan: sadis, kejam!  Ada dispensasi-dispensasi tertentu.  Tidak ada hukum positif seperti itu.  Ini yang perlu kita ungkap.  Ini masalah praktis, buktikan dengan penelitian, kemudian dipublished, sehingga orang menjadi tahu.

Pertanyaan:

Hukum kita kebanyakan warisan dari jaman Belanda.  Kalau kelompok ahli hukum islam berkumpul memberi masukan dalam membentuk RUU, semua hal dapat diakomodir sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum Islam.  Mohon tanggapannya.

Tanggapan:

Permasalahannya adalah di kalangan DPR sendiri belum banyak yang mengerti tentang hukum Islam, demikian juga masyarakat.  Kalau sudah tahu, melalui penelitian-penelitian tentang hukum Islam, akan mendorong anggota DPR untuk merumuskan hukum-hukum yang berdasarkan ketentuan Islam.  Makanya kita mulai dengan membangun kesadaran seperti ini.  Penelitian-penelitian dan pengungkapan serta sosialisasi adalah bertujuan untuk itu juga.  Lakukan penelitian-penelitian tentang praktek hukum Islam, mungkin di Arab Saudi, Iran, dsb. 

Proses sosialisasi, penyadaran kepada masyarakat itu sangat penting.  Tetapi kadang-kadang yang tampil bukan orang yang menguasai hukum Islam.  Serperti acara dialog di TV, misalnya, satu orang sebagai penyaji dan yang dipilih orang yang tidak menguasai hukum Islam, “dikeroyok” oleh tiga orang pembahas; moderatornya ikut-ikutan lagi mengeroyok.  Jadinya hukum Islam itu tidak dapat diungkap secara utuh, sehingga orang menjadi tidak paham terhadap hukum Islam yang sebenarnya.

Pertanyaan:

Kendala terhadap penerapan hukum Islam bisa datang dari kalangan Islam sendiri.  Kalau orang Islam saja sudah menolaknya, bagaimana dengan umat yang lain atau awam?  Penerapan hukum Islam, seperti qisas, bagaimana kalau ternyata ia tidak terbukti bersalah, padahal qisas telah dilaksanakan?

Tanggapan:

Untuk penerapan hukum ini, nanti dibahas pada butir selanjutnya, yaitu bagaimana pembuktian perkara.  Dalam hukum Islam ada kaidah yang diadopsi dalam hukum positif, yaitu bahwa satu persen saja ragu atas kesalahan seseorang, orang itu tidak boleh dihukum.  Lebih baik membebaskan orang yang bersalah daripada menghukum orang yang benar.  Ini ada kaidahnya dalam hukum Islam.  Satu persen saja ragu, tidak boleh dihukum.  Zina, misalnya, saksinya mesti 4 orang, dan mesti melihat langsung.  Kalau yang melihat langsung hanya 3 orang, batal!  Padahal kejadian itu betul-betul disaksikan oleh 3 orang tersebut, tetap batal!  Tidak boleh menuduh sembarangan.  Kenapa 4, koq tidak 3 orang saksi?  Itu jangan kita bahas.  Jadi, dalam memutus itu harus yakin bahwa orang itu bersalah.  Dan, saksi itu itu ada syaratnya, di antaranya adalah ia harus adil, tidak boleh sembarangan, tidak boleh orang fasik menjadi saksi.  Lihat surat Al Hujurat (49) : 6:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. 

Saksi itu tidak boleh sembarangan dan tidak semudah yang kita bayangkan.  Dari ayat itu bisa diambil kesimpulan bahwa tidak boleh ada keragu-raguan sedikit pun: harus adil saksinya, jumlahnya harus empat, harus tabayyun; harus yakin.  Dalam memutus perkara, hukum Islam itu tidak sesederhana apa yang kita bayangkan, ada tahapan-tahapannya, yang akan kita bahas pada pertemuan mendatang.

Wallaahu a’alm bish showab.

  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: