20 November

MASJID AL FALAH YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 20 Nopember 2005

 BEBERAPA CATATAN TENTANG

 I’TIQAF 

Oleh : Ustadz Sambo  

Hadirin rahimakumullah, pada kesempatan kali ini kita isi untuk sekedar silaturahmi saja, kita belum masuk ke materi pokok, kita isi dengan berbincang-bincang tentang ramadhan yang lalu dan i’tiqaf yang kita lakukan, karena kondisi masih belum fit, masih jet-lag.  Jadi, pada kesempatan kali ini kita berbagi pengalaman dan ada beberapa informasi yang akan disampaikan, mudah-mudahan bermanfaat.

 Bagaimana pelaksanaan i’tiqaf yang lalu?  Perlu kita syukuri bahwa sudah ada yang memulai i’tiqaf, meskipun mungkin itu baru yang pertama; istilahnya baru mengatasi rasa bosan.  Sebab ada orang yang mengatakan, “Ah, i’tiqaf itu kan hanya begitu-begitu doang, tidur; paling dzikir, ngaji.  Apa susahnya sih?”.  Wow, justru itu sulitnya.  Kalau tidak percaya?  Coba saja!.  Kalau itu mudah, pasti masjid penuh.  Yang sulit itu adalah mengatasi rasa bosan: selesai mengaji, ngapain lagi? Tidur lagi.  Selesai baca buku? Tidur lagi.  Itu membosankan, dan waktu terasa lama.  Kalau pulang kampung, waktu 10 hari itu terasa sebentar, tetapi kalau di masjid, satu hari itu terasa dua tahun.  Ini bukan perkara gampang.  Yang sulit itu adalah mengatasi rasa bosan.  Kalau itu bisa diatasi, itu baru level satu, baru mengatasi rasa bosan doang; belum level dua, level tiga, empat, dst.  Level-level itu itu harus kita lewati, nggak mungkin ujug-ujug baru pertama i’tiqaf langsung level berapa begitu!  Tidak bisa seperti itu, melompat.  Kita mesti lewati fase-fase itu, dan jangan diputuskan.  Memang, kali pertama i’tiqaf itu nikmatnya belum terasa.  Saya baru merasakan nikmat itu setelah atau pada tahun kelima i’tiqaf.  Jadi, ibarat tanaman, tidak langsung tumbuh.  Pada 10 hari pertama tidak langsung tumbuh.  Tahun depan mulai disirami dan tumbuh, tahun depannya disirami lagi, mulai agak besar tumbuhnya.  Nah, tahun kelima nanti baru tahu terasa buahnya.   Kadang-kadang orang mengatakan, “Ah, ternyata i’tiqaf itu tidak ada nikmatnya, sama saja!”, akhirnya diputus, tahun depannya tidak lagi.  Namanya pohon, tidak mungkin begitu ditanam langsung berbuah.  Pohon apa yang seperti itu?  Untuk para muttaqifin, baik yang ketengan maupun yang borongan; ketengan beberapa jam di waktu malam, tahun depan ditambah ketengannya; biar bisa dirasakan nikmatnya.  Kita bersyukur sudah ada niat i’tiqaf pada tahun ini, jangan diputuskan; tahun depan dicoba lagi.  Bagaimana menceritakan nikmatnya i’tiqaf?  Itu seperti kita menceritakan manisnya gula; dengan bertebal-tebal buku diceritakan, orang sulit merasakannya.  Untuk tahu manisnya gula, beri ia gula, “Nih rasakan manisnya gula”.  Itu baru terasa manisnya gula.  Kalau diceritakan dengan berbab-bab, berbuku-buku, manisnya gula juga tidak terasakan.  Jadi, tahun depan diprogramkan lagi untuk i’tiqaf; kalau hanya sekali tahun ini saja, itu belum lulus.  Ibu-ibu juga demikian, suami agar didorong untuk memprogramkan i’tiqaf.  Kalau kita lihat dalam Al Qur’an, dari rangkaian puasa itu, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Baqarah : 183 – 187, ujung ayat 187 itu berbicara tentang i’tiqaf:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma`af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

  Oleh karena itu diharapkan tahun depan kalau bisa jumlahnya bertambah.  Sekarang kita bersyukur, sudah ada ustadz yang mendampingi.  Memang, enaknya i’tiqaf itu ada pembimbingnya, sehingga banyak hal yang bisa kita lakukan.  Kalau tidak ada pembimbing susah.  Inilah catatan pertama yang ingin disampaikan.

Hadirin sekalian, level pertama i’tiqaf itu adalah baru mengatasi rasa bosan.  Kalau bisa mengatasi rasa bosan, insya Allah lulus.  Level kedua baru mulai mengisinya.  Pada level pertama mungkin pekerjaan kita lebih banyak tidurnya, itu tidak mengapa.  Tetapi ya jangan tidur melulu, jangan!  Itu adalah suatu proses, jangan langsung diforsir; tahun berikutnya mulai kita isi dengan yang lebih baik, mulai lebih banyak ngajinya.  Bahkan pada level-level yang lebih tinggi, malam ramadhan lebih hidup daripada siangnya.  Kalau tujuan sudah hampir tercapai, keluar dari i’tiqaf, memandang dunia itu “kecil”.  Ini adalah salah satu indikator keberhasilan.  “Kecil” itu bukan dalam artian seperti “Ah, kecil itu!”, sedikit-sedikit “kecil”; bukan begitu!.  Salah satu tujuan i’tiqaf itu kan agar kita tidak terkuasai dunia, tetapi juga bukan meninggalkannya. 

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumuah: 10). 

Dalam Islam tidak ada rahib, tidak ada pendeta, tidak ada biksu, tidak ada biarawan-biarawati.  Yang ada ya seperti itu, i’tiqaf.  Itu pun tidak lama-lama, hanya 10 hari.  Kalau biarawan mungkin satu tahun penuh, tidak berhenti-henti, bahkan bertahun-tahun.  Dalam Islam tidak ada seperti itu.  Juga tidak seperti agama Buddha: biksu, bertahun-tahun ada dalam tenpat ibadahnya.  Dalam Islam cukup 10 hari.  Karena, dalam Islam, kenikmatan ibadah itu bukan kenikmatan yang sifatnya pribadi.  Kita kadang-kadang terjebak bahwa ibadah itu seolah-olah kalau ibadah itu sudah terasa nikmat, maka itulah ending-nya.  Nikmatnya ibadah itu bukan ending, itu baru tahap permulaan.  Seandainya nikmatnya ibadah itu adalah puncak segala-galanya, kita sudah merasa hebat kalau sudah ibadah; maka Nabi Muhammad SAW, ketika peristiwa Isro’-Mi’roj, tidak mau kembali lagi; kalau itu puncak kenikmatan ibadah.  Begitu rasulullah Isro’-Mi’raj, beliau bertemu Allah, itu adalah kenikmatan, maka nabi tidak mau turun lagi ke bumi; karena sudah nikmat, apalagi yang diinginkan?  Di sana beliau bisa bersama Allah, bisa berdialog dengan Allah, bisa bertemu dengan Allah; sehingga nabi bisa saja tidak mau turun turun lagi, ngapain ngurusin kita?!  Bikin pusing saja! Itu kalau seandainya bertemu Tuhan itu merupakan kenikmatan yang paling tinggi.  Tetapi tidak demikian, malah rasulullah ingin cepat-cepat turun.  Mi’roj itu hanya satu malam doang.  Rasulullah ingin segera bertemu umatnya.  Justru kenikmatan ibadah itu bukan terletak pada saat kita melakukannya, tetapi ketika kita mengamalkannya.  Itulah puncaknya, di situlah kenikmatannya.

Bapak/Ibu sekalian, kenikmatan ibadah itu sama seperti kalau ada orang yang menyanyi dengan suara yang sangat merdunya dan menghayati benar lagu tersebut tetapi sendirian, maka itu bukan suatu kenikmatan.  Yang nikmat itu kalau bernyanyi juga bertemu dengan penggemarnya, didengarkan oleh orang lain.  Ada suami yang mengatakan kepada isterinya, “Aku cinta padamu” berpuluh-ratus kali.  Apakah seperti itu nikmatnya cinta?  Itu belum hebat.   Nikmatnya adalah kalau dalam kehidupan sehari-hari dibuktikan cintanya itu dengan perbuatan.  Itu baru betul-betul cinta.  Kita shalat pun demikian.  Ada orang shalat sampai bergetar, wah sampai bermacam-macam ceritanya, menganggap itu sudah selesai.  Itu salah!  Kalau seandainya nikmatnya shalat seperti itu, kita shalat saja dari pagi sampai malam, tidak berhenti-henti, terus.  Nagapain bertemu dengan orang lain?  Tidak demikian.  Shalat (wajib) tidak boleh lama-lama.  Shalat wajib lima waktu itu tidak boleh lama-lama, kecuali shalat malam, itu baru lama.  Yang wajib tidak boleh lama, cut, karena harus mengerjakan pekerjaan yang lain.

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumu’ah : 9).

Amalkan apa yang dibaca dalam shalat di dalam kehidupan sehari-hari.  I’tiqaf juga demikian, cukup 10 hari, jangan ditambah lagi satu bulan.  Setelah i’tiqaf, kembali ke kehidupan seperti biasa.  Kalau mau tambah, nanti 10 hari lagi di tahun berikutnya.  Jangan i’tiqaf 10 hari, tambah lagi dua bulan.  Oleh karena itu, nikmatnya i’tiqaf itu manakala begitu kita selesai i’tiqaf, dunia menjadi kecil. 

Catatan yang kedua adalah bahwa kesuksesan suatu ibadah atau kenikmatan suatu ibadah tidak terletak pada saat kita mengerjakannya saja, tetapi justru setelah itulah baru kesuksesan itu bisa kita ukur.  Keberhasilan shalat, misalnya, bukan ketika sedang mengerjakannya saja, tetapi setelah shalat: what’s next?  Keberhasilan puasa juga demikian, bukan ketika kita sedang mengerjakan puasa, what’s next setelah puasa?  Termasuk menilai keberhasilan I’tiqaf, bukan pada saat I’tiqaf, tetapi what’s next?  Begitu juga sedekah atau zakat, begitu juga haji.  Orang berhaji begitu terasa nikmatnya, tetapi setelah haji, selesai!  Bukan begitu.  Setelah sedekah bagaimana?  Banyak orang sedekah dan zakat, tetapi selesai memberikan, selesai!  Padahal hikmah zakat itu bukan sekedar ngasih doang.  Kalau sekedar ngasih doang, itu tidak banyak manfaatnya.  Contoh: kasus bantuan tunai langsung (BTL), yaitu kompensasi kenaikan harga BBM yang Rp. 100.000 per bulan; harusnya bukan hanya sekedar memberi lalu selesai.  Banyak orang yang merasa bahwa sedekah itu kalau sudah memberi, selesai; tidak melihat hikmah memberi: apakah cukup hanya memberi?  Apalagi memberinya hanya satu tahun sekali.  Memangnya laparnya orang itu hanya satu tahun sekali?  Banyak orang yang sedekah, zakat juga dilaksanakan, ngaji juga, dan merasa nikmat dan merasa enak kalau itu semua sudah dilaksanakan, dan merasa sudah selesai kewajiban ditunaikan.  Bukan begitu makna ibadah yang sebenarnya. 

Ibadah satu bulan selama ramadhan yang lalu itu ibarat training, sedangkan 11 bulan berikutnya adalah prakteknya.  Keberhasilan training itu bukan dilihat bagus tidaknya waktu training.  Yang namanya sekolah, misalnya, bukan sekedar memperoleh nilai A semuanya, tetapi begitu masuk dunia kerja apa yang bisa dikerjakan.  Kalau nilainya semua A, tetapi tidak bisa ngapa-ngapain?  Ada orang mungkin nilainya C, B, ada A; tidak 4,0-lah, tetapi begitu ia bekerja, ia berkembang, ia menjadi leader.  Jadi, yang diperlukan bukan sekedar nilai bagus, tapi yang penting adalah bagaimana ia masuki dunia nyata?  Kalau ditanyakan kepada yang mempunyai perusahaan, ada orang IP-nya 4,0 tetapi tidak bia apa-apa dalam dunia kerja, tidak bisa ngapa-ngapain di masyarakat, bagaimana pendapatnya?  Apakah akan dinilai baik?  Sama halnya orang berpuasa, dapat nilai 4,0, cum laude; gitu selesai puasa tidak bisa ngapa-ngapain, puasanya tidak bisa diamalkan di tengah-tengah masyarakat.  Ini dikatakan puasanya tidak berhasil.  Banyak kini sarjana menganggur, bahkan IP-nya tinggi, ada yang 4,0, kan aneh itu.  Sama halnya orang yang berpuasa: ia bisa menahan hawa nafsu, shalat malamnya mendapat nilai A, baca Qur’annya dapat A, semuanya mendapat A, begitu selesai ramadhan, yang A semuanya itu tidak bisa diterapkan.  Jadi, keberhasilan suatu ibadah tidak hanya ditentukan ketika sedang mengerjakannya, tetapi termasuk yang menentukan adalah what’s next?

Catatan yang ketiga adalah bahwa yang namanya ibadah itu bukan hanya ritual belaka.  Pertanyaannya: mengapa shalat itu dari dulu begitu-begitu saja?  Mengapa puasa itu dari dulu begitu-begitu saja?  Mengapa sedekah/zakat itu dari dulu begitu-begitu saja?  Mengapa shalat tidak ada variasinya, tidak ada variasi bacaan, tidak ada variasi gerakan?  Dari dulu begitu saja?  Kan lebih enak kalau ada variasi?  Mungkin kalau shalat ada variasinya seperti yang ada di depan ruko (senam pagi!), mungkin shalatnya jadi ramai.  Maksudnya adalah bahwa dalam shalat itu, mestinya antara shalat yang satu dengan shalat berikutnya, ada perbedaan nuansa.  Yang menjadi pertanyaan, apakah shalat shubuh hari ini sama dengan shalat shubuh kemarin?  Dengan dua rakaat yang sama, bacaan yang sama, gerakan yang sama, di waktu yang sama?  Apakah sama dengan shubuh besoknya lagi?  Apakah sama dengan shubuh bulan depannya lagi?  Apakah sama dengan tahun depan?  Demikian juga puasa, apakah puasa tahun ini sama dengan puasa tahun kemarin?  Apakah puasa tahun ini sama dengan puasa tahun depan?  Sama-sama menahan lapar dari pagi sampai maghrib?  Kalau semua itu sama, tidak ada perbedaan, pasti yang muncul adalah kebosanan. 

Kalau kita mengerjakan sesuatu sehari-hari itu-itu saja, tidak ada perbedaan, pasti akan timbul kebosanan.  Itu sama dengan robot, tidak ada variasinya.  Yang menjadi pertanyaan kita adalah mengapa selama ini kita banyak beribadah, tetapi setelah itu hanya begitu-begitu saja?  Apakah shalat kita ketika di SD dengan sekarang ada perbedaan?  Apakah puasa kita ketika di SMP dan sekarang ada perbedaan?  Mengapa kaum muslimin menjalankan ibadah  hanya sebatas rutinitas, artinya dari hari ke hari hanya itu-itu saja?  Seharusnya ada perbedaan, ada peningkatan, ada penghayatan, ada grafik yang menaik.  Shalat yang satu berbeda nuansanya dengan shalat yang lain.  Kalau terjadi perbedaan, maka shalat-shalat itu menjadi nikmat.  Begitu juga ramadhan, mestinya ada perbedaan, terjadi peningkatan, penghayatan, baru terasa nikmatnya ibadah ramadhan; selalu ada pengalaman baru, the new experience. 

Selama ini kita tidak merasakan pengalaman baru setiap mengulangi ibadah.  Mestinya seperti membaca Al Qur’an, dari dulu Qur’an itu sama, 114 surat tidak nambah-nambah.  Tetapi setiap kita mengulang membacanya, selalu ada nuansa baru.  Makanya Al Qur’an itu tidak pernah kering; padahal bacaannya itu-itu saja.  Kita mengaji sudah tamat (khatam), diulangi lagi ada sesuatu yang baru.  Oleh karena itu tidak sedikit para sahabat yang khatam dalam seminggu, ada yang 10 hari, dsb.  Pertanyaannya: mengapa mereka tidak bosan-bosan dengan bacaan yang itu-itu saja?  Karena mereka selalu mendapatkan nuansa yang baru setiap mengulanginya.  Ini yang membuat ibadah itu nikmat, harus ada nuansa yang baru.  Kalau ingin ibadah itu terasa nikmat, harus ada nuansa yang baru.  Kalau dari dulu begitu-begitu saja, akan terjadi rutinitas.  “Kenapa kau shalat?”, dijawab, “Habis itu kewajiban sih!”.  Selalu jawabannya begitu, dari SD sampai kakek-kakek, bahwa itu adalah kewajiban.  Kalau ada seorang kakek ditanya, “Mengapa kakek shalat?”, jawabannya, “Habis wajib sih!  Kalau tidak shalat nanti masuk neraka”.  Selesai!  Ketika SD jawabannya seperti itu, sesudah kakek-kakek jawabannya begitu juga.  Seharusnya berbeda dong!  Jawaban anak SD tidak sama dengan jawaban orang dewasa.  Tetapi faktanya banyak kaum muslimin ketika SD menjawab begitu, anak-anak menjawab seperti itu, sesudah tua pun jawabannya seperti itu, “Wajib sih!  Kalau nggak puasa, nggak shalat, nanti masuk neraka”.  Jawaban itu tidak salah, tetapi tidak tepat.  Kalau jawabannya itu-itu saja, berarti tidak ada perbedaan.

Hadirin rahimakumullah, saya ingin menyampaikan pengalam pada waktu i’tiqaf yang lalu.  Mungkin ini nanti bisa kita terapkan di masjid ini, yaitu semacam pelatihan “Pengantar Menuju Shalat yang Khusyu’ dan Nikmat”, bukan pelatihan “Menjadi shalat Khusyu’”; karena shalat khusyu’ itu bukan sesuatu yang ujug-ujug kita dapatkan, melainkan melalui proses yang cukup panjang.  Makanya disebut pelatihan menuju shalat khusyu’ dan nikmat.  Waktu yang dibutuhkan kira-kira 1,5 jam dalam 8 kali pertemuan.  Ini adalah hasil renungan ketika i’tiqaf.  Dan ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi hasil dari renungan selama 11 kali/tahun i’tiqaf.  Selama 11 kali i’tiqaf itu ada nuansa yang berbeda setiap tahunnya.  Pada tahun ke lima, terasa nikmatnya, tahun ke-8 muncul BUROQ, tahun ke-11 ini muncullah pelatihan ini.

Yang dinamakan shalat khusyu’ itu seperti apa?  Pertanyaan itu mungkin selalu menyeruak dalam diri kita.  Selama ini yang saya baca dan pelajari, yang namanya shalat khusyu’ itu tidak pernah ada yang bisa mendefinisikannya.  Dan, tidak pernah ada yang bisa memberi tahu ukuran khusyu’itu.  Coba definisikan, apa shalat khusyu’ itu?  Jelaskan bagaimana ukuran kekhusyu’an itu!  Mungkin ada yang mengatakan, “Shalat khusyu’ itu adalah shalat yang seolah-olah kita melihat Tuhan”.  Seolah-olah melihat itu seperti apa sih?  Tidak terjawab.  Mungkin ada pula yang menjawab, “Ya pokoknya seperti melihat Tuhan!  Selesai”.  Mungkin ada pula yang mendefinisikan, “Shalat khusyu’ itu kita konsentrasi sehingga tidak mendengar apa-apa”.  Ini membingungkan.  Kalau tidak mendengar apa-apa, kita sedang shalat atau tidur?  Bagaimana mungkin shalat tidak mendengar apa-apa?  “Shalat khusyu’ itu adalah kalau kita tidak merasakan apa-apa, seperti kena panah pun tidak terasa (seperti yang dialami oleh sahabat)”.  Pertanyaannya: itu tidak terasa atau tidak dirasa-rasa?  Kan berbeda antara tidak terasa dengan tidak dirasa-rasa.  Kalau tidak terasa berarti tidak punya saraf, mati rasa.  Kalau mati rasa, lalu kena tusuk panah, ya tidak terasa.  Ada orang mati rasa, kena tusuk duri tidak sakit; itu tidak hebat.  Yang hebat itu bagaimana kita terasa, tetapi kita tahan.  Orang buta, misalnya, tidak terpengaruh oleh wanita seksi; itu tidak hebat.  Tetapi kalau punya mata yang bisa jelalatan, kemudian bisa menahan hawa nafsu; itu baru hebat.  Mengapa Nabi tidak pernah mengajarkan shalat khusyu’?  Itu tidak ada pelatihannya.  Padahal itu sangat penting, tetapi mengapa tidak pernah di-training?  Ternyata shalat khusyu’ itu bukan bersifat ending, tetapi merupakan tahapan.  Tidak ada yang pernah selesai dalam shalat khusyu’ itu, selalu ada tahapan.  Mungkin khusyu’ I, khusyu’ II, II, dst; tidak ada ujungnya.  Karena, masing-masing tingkatan berbeda-beda.  Sama seperti takwa, apakah ada ending-nya?  Apakah ada ujungnya?  Takwa itu tidak ada ujungnya, selalu saja ada tahapan untuk menuju kepada kesempurnaan, proses menuju kepada perbaikan.  .  Mungkin di antara kita ada yang khusyu’nya 1%, khusyu’ 2%, 10%, dst.  Mudah-mudahan pelatihan “menuju shalat khusyu” ini bisa dipraktekkan.  Saat ini sudah disusun buku-bukunya, paket-paketnya; dibuat makalah-makalahnya.  Pelatihan ini tidak dikatakan bahwa inilah shalat khusyu’ yang sesungguhnya; bukan itu, tetapi merupakan pengantar.  Kita hanya mengantarkan saja.  Bagaimana shalat khusyu’ yang sesungguhnya, hanya Allah yang tahu.  Namanya pengantar, mungkin tidak akan ada ending-nya.

Untuk mencapai bagaimana khusyu’ yang sesungguhnya, bisa sampai kita tua.  Setelah itu program ini kita coba tawarkan ke masjid-masjid supaya shalat bisa menjadi lebih khusyu’.  Renungan ini termasuk pula saya rasakan mengapa Nabi Muhammad dan para sahabat bisa tahan shalat selama 4 jam kalau shalat malam.  Pemahaman kita dulu bahwa mereka bisa shalat 4 jam itu karena kekuatan imannya.  Tetapi ternyata setelah diperhatikan dan dirasakan, itu bukan urusan iman saja; ada mekanisme yang Allah susun dalam gerakan-gerakan shalat itu sehingga tahan selama 4 jam.   Artinya, sekalipun kita tidak beriman, kasarnya, kalau mekanisme itu kita jalani, kita bisa tahan berdiri 4 jam, apalagi ditambah dengan iman, power-nya lebih besar lagi.    Kenapa sahabat bisa tahan 4 jam, padahal fisiknya tidak jauh berbeda dengan kita?  Mungkin sahabat kalau kita ajak bermain bulu tangkis akan kalah (tidak tahan).  Kita main bulu tangkis 2 jam tahan, tetapi shalat malam 15 menit letoy.  Ini kan menjadi pertanyaan, kenapa kita tahan main bulu tangkis?  Ternyata kuncinya: ada mekanismenya.  Dalam gerakan shalat, bagaimana berdirinya, ruku’nya, i’tidalnya, sujudnya, duduk di antara dua sujud; ternyata ada ritmenya.   Kalau ritme gerakannya seperti shalat kita selama ini, sulit kita tahan untuk waktu 4 jam.  Empat jam itu kalau kita hitung berarti satu rakaat kira-kira setengah jam: berdiri 20 menit, non berdiri 10 menit.  Pertanyaan:  bisakah kita berdiri 20 menit?  Bisa!  Buktinya, ketika kita naik KA, dari Bogor ke Jakarta, satu jam berdiri tahan.  Tetapi shalat 20 menit tidak bisa!  Aneh!  Kenapa shalat tarawih membaca “sabihisma” saja sudah terlalu panjang?  “Lama amat sih!”.  Kalau membaca qulhu, demen.  Kuncinya untuk tahan lama, sekali lagi adalah mekanisme.  Kalau ruku’nya tidak betul, sujudnya tidak betul, duduk di antara dua sujud tidak betul; pengaruhnya pada waktu berdirinya.  Kalau ruku’nya betul, sujudnya betul, duduk di antara dua sujud betul; berdiri 20 menit itu tidak ada masalah. 

Selama ini kita tidak memperhatikan gerakan dan posisi-posisi ketika kita sedang shalat; itu yang membuat kita tidak kuat.  Mungkin sanggup satu jam untuk dua rakaat pertama, tetapi rakaat berikutnya tumbang.  Nabi dan shabat shalat selama 4 jam itu stabil: satu jam pertama stabil, satu jam kedua stabil, dst; bahkan pagi harinya masih segar.  Kalau kita mungkin bisa tahan 4 jam, tetapi pagi harinya teler.   Dalam hadits dikatakan bahwa pada malam hari mereka bagaikan rahib, pagi harinya bagaikan singa.  Kalau kita: malam bagaikan rahib, siangnya bagaikan “mayat bergelimpangan”; tidur pulas.  Mereka shalat biasanya mulai tengah malam, minimal sepertiga malam.  Firman Allah:

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (Al Muzamil: 1 – 4). 

Shalat itu separoh malam atau kurang sedikit dari separoh (sepertiga); atau tambah dari separoh itu menjadi dua per tiga malam.  Berarti mereka shalat mulai dua per tiga malam, biasanya setengam malam, sampai seper tiga malam.  Bayangkan: dua per tiga malam itu berapa jam?  Kalau malam itu pukul 9 – 10 jam, setengah malam berarti 4,5 jam; sepertiga malam sama dengan 3 jam (minimal), biasanya 4 jam.  Pertanyaan kita: mengapa paginya mereka masih kuat bagaikan singa?  Fenomena apa yang terjadi?  Masalah keimanan jelas, tetapi ternyata ada hal lain yang membuat tahan dan badan tetap fit.  Sebagai catatan, katanya, nabi pernah “menggilir” istrinya yang 9 orang itu dalam waktu satu hari.  Bayangkan: “menggilir” 9 orang dalam satu hari!  Dan, sahabat pun tidak jarang melakukan yang demikian, istrinya 4 orang di-“gilir” dalam waktu satu hari.  Ternyata salah satu rahasianya adalah karena mereka sering shalat malam dalam waktu yang lama.  “Satu istri kekeuatannya setara dengan satu jam shalat malam”.  Kalau ada orang yang shalat malamnya baru satu jam, istri cukup satu saja, tetapi kalau sudah 4 jam, boleh “nambah”.  Ini memang perlu diteliti, katanya begitu.  Memang ada hadisnya bahwa nabi pernah “menggilir” istrinya dalam waktu satu hari.  Kenapa bisa demikian?  Kenapa mereka bisa “sekuat” itu?  Padahal mereka rajin berpuasa, fisiknya biasa-biasa saja, minumannya juga biasa saja (tidak pakai extra joss, tidak pakai hemaviton jreng, tidak ada M150 bisa).  Ternyata rahasianya adalah di shalat malam.  Jadi, kalau belum shalat malam, satu istri pun sudah “kelebihan”.  Inilah yang menjadi pertanyaan, mengapa shalat malamnya 4 jam, tetapi mereka tidak mengantuk?  Tidurnya berarti kira-kira 3 jam, dan pagi harinya segar.  Fenomena apa ini? 

Ternyata setelah dipelajari, gerakan shalat itu yang membuat tetap segar.  Makanya istilah sempurnakan ruku’, sempurnakan sujud; itu adalah salah satu bentuknya.  Insya Allah ini akan kita bahas pada waktu pelatihan “Pengantar Menuju Shalat Khusyu’ dan Nikmat”.  Ada yang berkilah, “Oh ustadz, sahabat itu ‘hafalannya’ banyak, misalnya surat Al Baqarah sejumlah 286 ayat; ya mereka bisa lama”.  Kita hafal berapa ayat?  Dua puluh ayat?  Ya ulang-ulang saja sebanyak 14 kali.  Oh ustadz, bosan atuh”.  Nah, kenapa bosan?  Karena bacaannya serupa, selalu nuansanya sama.  Coba nuansanya dibuat berbeda?  Kita ini kalau shalat kan membaca qul huwallaahu ahad …  dibaca cepat-cepat.  Coba nuansanya dibuat berbeda-beda antara qulhu yang datu dengan qulhu yang kedua, ketiga dan seterusnya; maka tidak terasa dan menjadi tidak membosankan.  Jadi, mengulang sesuatu itu jangan sampai nuansanya sama.  Jadi, tidak ada masalah, kalau hafalannya sedikit, ulang-ulang saja.  Tidak ada alasan bahwa sahabat “hafalannya” banyak, sedangkan kita tidak; karena dalam Al Qur’an disebutkan:

karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an (Al Muzamil : 20)

 Bacalah apa yang paling mudah menurut kita.  Sahabat membaca surat Al Baqarah, karena itu mudah bagi mereka.  Kita Cuma bisa qulhu hingga alhakumut, itu saja diulang-ulang beberapa kali.  Mudah-mudahan masjid ini bisa menjadi tempat yang pertama untuk pelatihan nanti.  Insya Allah.  Mudah-mudahan ilmu yang sedikit ini bisa bermanfaat.  Kalau ilmu ini bisa diperoleh, mudah-mudahan shalat kita menjadi lebih khusyu’, bukan sekedar shalat-shalatan.  Mengapa shalat kita terasa gersang?  Mungkin karena banyak hal yang harus dikoreksi. 

Wallaahu a’lam bish showwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: