16 Oktober

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 16 OKTOBER 2005

  MANFAAT BULAN RAMADHAN (LANJUTAN) 

Oleh : Ustadz Samboo  

Ramadahan itu menciptakan tiga karakteristik manusia yang sangat dipuji oleh Allah sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an.  Ini penjabaran dari takwa sebagaimana dijelaskan pada pertemuan sebelumnya.  Takwa itu sifatnya sangat umum.  Setiap orang sebagai hasil ramadhan ini diharapkan menjadi orang yang takwa.  Tetapi takwa itu mempunyai spesifikasi tersendiri.  Ibarat kita masuk perguruan tinggi, takwa itu universitasnya.  Ia punya jurusan-jurusan, misalnya Jurusan Pertanian, Basaha, dll.  Tetapi intinya ia sudah masuk dalam universitas itu.

Ramadahan itu menghasilkan manusia-manusia pilihan, manusia-manusia unggul.  Sebagaimana kita ketahui bahwa daam diri kaum muslimin ini penuh dengan berbagai macam gelar-gelar yang baik.  Ramadhan ini akan menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai gelar yang baik tadi, yaitu: (1) Umatan wasathan, (2) Khoiru ummah, dan (3) Umat yang mulia atau umat yang tinggi.

 1.  Umatan wasathan 

Umatan wasathan artinya umat pilihan, pertengahan, penengah atau adil dan pilihan.  Tetapi ini bukan hanya sebatas status, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan status itu.  Hal ini dijelaskan dalam surat al Baqarah (2) : 143:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Ayat ini dapat dipahami sebagai ukuran atau tolok ukur bagi manusia lainnya.  Kalau dalam olah raga, kita ini adalah wasit (wasathan = wasit).  Kalau wasitnya tidak ada, maka permainan akan kacau.  Demikian pula dunia ini, kalau umat Islam nggak ada, umat Islam nggak punya kekuatan apa pun (wasit itu kalau tidak punya kekuatan, tidak dihargai orang lain, mripit-mripit orang santai saja), “permainan” jadi kacau jalan terus.  Kalau wasit tidak ada, dunia kacau terus.  Sekarang ini terjadi kekacauan karena umat Islam yang seharusnya menjadi wasit, sekarang menjadi penonton, “permainan” menjadi kacau.  Karena wasit tidak ada, duni kacau.  Makanya Amerika seenaknya, Australia seenaknya; semua seenaknya.  Mengapa?  Karena yang mripit-mripit sudah tidak ada lagi.  Jadi, mengapa umat Islam itu harus kuat, karena kita ini wasit, “Hai jangan macam-macam kau, nanti saya pripit kau!”.  Tentu saja model wasit seperti ini haru punya kekuatan.  Jadi, wasathan itu diterjemahkan sebagai penengah, adil dan pilihan.

 2.  Khoiru ummah 

Artinya umat Islam yang terbaik.  Yang namanya terbaik pun bukan hanya sebatas status semata, tentu saja ada syaratnya.  Allah berfirman dalsm surat Ali Imron : 110:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Wasit itu kalau ada kebaikan, ia menyeru, kalau ada kemunkaran, maka ditindak.  Tetapi faktanya sekarang wasitnya lemah, akhirnya menjadi penonton.

 3.  Umat mulia (umat yang tinggi)

Kemuliaan itu letaknya buka pada banyaknya harta, juga bukan pada kekuasaan, bukan pada popularitas; tetapi kepada keibadatan dan ketakwaan.  Allah berfirman dalam surat

Ali Imron (3) : 139:

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Itulah posisi umat Islam.  Hanya saja posisi itu saat sekarang amat sangat jauh dari harapan.  Justru sekarang ini posisi umat Islam sedang di bawah.  Makanya di ayat 140 dijelaskan:

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,

Makanya, hadirin sekalian, ramadhan ini adalah untuk menciptakan kembali generasi-generasi yang seperti ayat di atas, yaitu yang membawa kemuliaan tadi.  Hanya sayangnya ramadah ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya.  Akhirnya nanti di akhirat jangan menyalahkan Tuhan, kan aturan sudah diberikan.   Kenapa kalian tidak memakai aturan-aturan itu?  Sudah diberi Al Qur’an sebagai pedoman, sudah diberi berbagai macam ibadah yang menciptakan manusia-manusia unggulan, tetapi mengapa tidak kalian pahami?  Hukum aturannya sudah diberi, sanksi pastinya juga sudah diberi, dan jurus-jurusnya juga sudah dikasih, tetapi tidak digunakan.

Kalau kita mau, bangsa kita bisa menjadi bangsa yang paling besar, asal mengikuti aturan-aturan.  Yang lalu dibahasa bahwa kualitas itu bisa diukur: ikut pengajian, misalnya, kita bisa lihat sebagai tolok ukur, bagaimana nanti setelah ramadhan?  Apakah masih seperti ini?  Yang ikut pengajian hari minggu dan yang ikut senam, mana yang lebih banyak?  Bukan berarti senam itu tidak boleh, yang baik nagji dulu, setelah itu senam.

Bagaimana menciptakan genarasi-generasi unggulan tersebut?  Sebenarnya semua ibdah-ibadah kita itu adalah usaha untuk menghasilkan generasi seperti mitu.  Cuma sayang ibadah itu hanya dipakai sebatas vertikal saja; itu pun masih tidak benar.  Dalam bahasa filosofisnya, ibadah  itu adalah kita menyerap energi.  Setelah energi didapat, sebarkan ke segala penjuru.  Ini tidak, eenergi tidak diambil, dan tidak disalurkan.  Ramadhan adalah sarana untuk menciptakan tiga karakteristik manusia di atas.

Apa yang dihasilkan dari ramadhan?  Manusia unggul yang dihasilkan oleh ramashan adalah sebagai berikut:

 1.  Pemimpin yang berkulaitas, adil 

Pemimpin di sini bukan hanya laki-laki, ibu-ibu juga pemimpin.  Nabi bersabda, “Kullukum raa’in, wakullukum masu’ulun ‘an raa’iyatihi, Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian”.  Suami memimpin keluarga, isteri menjadi pemimpin dalam rumah tangga, pembantu pemimpin dalam rumah majikannya.

Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang bertakwa.  Syarat umumnya adalah takwa.  Tidak ada pemimpin yang mencapai keadilan tanpa melalui ketakwaan.  Allah berfirman dalam surat Al Maidah : 8:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Tidak ada orang yang tidak takwa berlaku adil.  Dalam ayat itu disebut bertakwalah dan dan berbuat adillah.  Jadi pemimpin yang adil itu syaratnya adalah takwa.  Ibaratnya, universitasnya adalah takwa, jurusan pemimpin yang adil.  Tidak mungkin menjadi pemimpin yang adil tapi tidak bertakwa.

  2.  Manusia Pejuang 

Ramadhan menghasilkan para pejuang.  Kalau ia seorang ibu, menjadi ibu pejuang.  Kalau ia seorang bapak, menjadi bapak pejuang.  Kalau ia sebagai pekerja, menjadi pekerja pejuang, dll.  Para pejuang itu juga orang yang bertakwa, yang membela kebenaran.  Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 146:

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

Orang yang berjuang membela kebenaran itu orang yang bertakwa, hanya orang-orang yang bertakwa yang mampu.  Kalau tidak bertakwa, ia tidak mampu perang. 

 3.  Manusia yang sukses dunia dan akhirat 

Allah berfirman pula dalam surat Al Baqarah : 189:

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

Beruntung itu sama dengan sukses.  Kalau bertakwa, pasti sukses (tuflihuun).  Seandainya ramadhan itu benar puasanya, akan menghasilkan manusia yang bertakwa.  Ketakwaan inilah yang mengantar kesuksesan.  Bayangkan, setiap tahun ada ramadhan, berarti menghasilkan sekian banyak orang yang sukses.  Tetapi faktanya tidak demikian.  Terjadi gan antara kenyataan dengan yang seharusnya, antara das solen dan das sein.  Berarti ada sesuatu yang salah dan berarti ada yang tidak memanfaatkan ramadhan ini, dan faktanya memang demikian.  Tidak usah jauh-jauh, mestinya kalau ramadhannya benar, orang itu di kantor semangat, tetapi pada kenyataannya tidak demikian.  Bagaimana di msajid?  Coba cari masjid, makin hari, makin mendekati 10 hari terakhir, makin sedikit jumlah orangnya.  Ini bisa menjadi tolok ukur bagaimana ramdhan itu dilaksanakan dengan benar atau tidak.  Jamaah sepi, karena bikin kue, misalnya, “ustadz, bikin kue itu kan ibadah juga, untuk menyuguhi tamu”.  Betul, itu ibadah niatnya, nilainya ibadah, hanya saja itu cemen!  Masa cari yang cemen?  Oh mudik, Ustadz, silaturahmi”.  Betul, tetapi itu di bulan ramadhan, cemen nilainya.  Kalau mudik itu setelah ramadhan atau sebelum ramadhan.  Ini mudik, macet, I’tiqafnya di mobil.  Akhirnya bukan la’alakum tattaquun yang didapat, tetapi la’alakum lebaran, targetnya dalah lebaran.  Bukannya mudik dilarang, pulang kampung dilarang, tetapi ibarat kita diberi uang kaget Rp 100 juta, yang dibelanjakan hanya: sandal jepit, beras, yang cemen-cemen saja.  Mestinya yang dibeli yang gede-gede, mobil, rumah, dll.  Mengapa?  Karena di bulan ramadhan itu ada nilainya yang sangat besar, seperti ‘tiqaf, adanya hanya di bulan ramadhan, lailatul qadr adanya hanya di bulan ramadhan, shalat tarawih hanya di bulan ramadhan.  Sayang kalau kita tidak mendapatkannya. 

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ini tidak pernah terjadi? Mengapa yang tiga karakteristik itu tidak muncul?    Penyebabnya adalah:

 1.  Kurang kuatnya niat 

Ini tidak dikatakan kurang ikhlasnya niat, tetapi kalau diibaratkan ikhlas itu 100 persen, maka ini kurang dari 60 persen.  Niat ini akan menentukan sukses tidaknya ramdhan.  Nabi bersabda, “Innamal a’malu binniyat…. , sesungguhnya segala amal itu tergantung niatnya”.  Amal itu diterima berdasarkan niatnya.  Artinya, kualitas amal itu tergantung niatnya.  Jadi, semua amalan termasuk bulan ramadhan, ditentukan oleh niatnya.

Kalau urusan akhirat, semangatnya biasanya ditekan, tetapi kalau urusan dunia, semangatnya biasanya tetap, stabil, bahkan meningkat.  Misalnya, kita bekerja, dijanjikan gaji dinaikkan; maka makin semangat bekerjanya.  Tetapi kalau Tuhan menjanjikan menaikkan pahala?  Kita jadi biasa saja.  Niat itu tergantung pada keimanan.  Makanya puasa itu diawali dengan yaa ayyuhaladziina amanuu, makin kuat imannya, makin kuat niatnya.  Makanya kata Nabi< “Man shooma ramadhaana imaanan wahstisaaban ghufira lahu maa taqoddamaa min dzanbihi.  Di sini tidak ada orang yang ikhlas kecuali orang yang beriman.  Coba kalau untuk urusan dunia, misalnya ibu-ibu akan diberi gaji Rp 20 juta per bulan untuk mengurus rumah tangga yang baik; maka yakin akan bekerja dengan semangat, servis beres, masak beres; semua beres!  Memuaskan semuanya.  Ibu-ibu masak sambil terbayang uang Rp, 20 juta…. Biar capek-capek, dikerjakan untuk mendapatkan Rp. 20 juta.  Coba kalau Tuhan menjanjikan surga?  Ini dikasih surga, lemes, mestinya dikasih surga itu tambah semangat.  “ustadz, habis surga itu tidak nyata sih, kalau Rp. 20 juta kan nyata!”  itu berarti tidak ada iman.  Kalau surga tidak nhyata, itu tidak benar.  Surga itu nyata!  Kalau mengatakan kurang nyata, berarti kurang imannya.

 2.  Kurang memahami ilmunya 

Kita kurang memahami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan akhirat.  Tetapi kalau ilmu dunia, sangat menguasai.  Nabi bersabda, “Man araada dunya fa ‘alaihi bil ‘ilmi, wa man araada aakhirah fa ‘alaihi bil ’ ilmi wa man araadahuma fa ‘alaihi bil ‘ilmi”.  Istilahnya tak cinta maka tak sayang.  Demikian juga ilmu.  Makin kenal kita, makin tahu kita; makin tambah kecintaannya.  Makin tahu ilmu tentang ramadhan, makin lain.  Baca Qur’an orang yang sudah paham, akan lain dengan orang yang belum paham, akan beda kenikmatannya, lain rasanya.  Shalat bagi orang yang memahami maknanya, lain nikmatnya dengan orang yang tidak paham.  Pengetahuan terhadap sesuatu membuat kita lebih asyik, lebih mudah.

 3.  Kurang merasakan manfaat dalam berbagai macam ibadah 

Karena dianggapa akhirat itu jauh, sementara penyakit manusia itu senang yang nyata, dekat, maka semangat untuk menjalankan ibadah menjadi kurang.  Padahal akhirat itu nyata, tetapi dipandang jauh.  Shalat, puasa, haji, dll, kalau kita mengetahui manfaatnya, akan lain dengan orang yang tidak mengetahui manfaatnya.  Manfaat bertambahnya iman itu abstrak.  Masalah ibadah itu masalah ketenangan hati, ketenangan batin, kejernihan berpikir.  Allah berfirman dalam surat Ath thalaq (65) : 2:

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.

Yang dimaksud jalan keluar itu bukan berarti langsung terbuka, bukan begitu, tetapi melalui proses.  Ada proses sehingga ia bisa menemukan jalan keluarnya, bukan sim salabim abra kadabra.  Orang yang bertakwa itu hatinya lapang, pikirannya lapang, sehingga mudah cari solusi.  Orang yang bertakwa itu tidak mau neko-neko, jalan yang lurus, sehingga ia mudah mendapatkan jalan keluarnya.  Meraskan ibadah itu bisa dilakukan dimulai dengan niat dan ilmu: rasakan manfaatnya.  Kalau terasa manfaatnya, penuh masjid ini.  Terasa manfaat shalat, maka setiap shalat akan penuh isi masjid.  Bagaimana menerangkan nikmatnya ibadah, bagaimana nikamtnya i’tiqaf?  Ini tidak bisa diterangkan, tetapi langsung dirasakan.  Ibarat bagaimana menerangkan manisnya gula?  Tidak dapat didefinisikan atau dijabarkan, tetapi untuk menerangkannya, “Ini gula, rasakan manisnya”.  Makin tahu manfaatnya, makin terasa nikmatnya, makin semangat melaksanakannya.

 4.  Kurang memasang target urusan akhirat 

Dalam kehidupan akhirat, kita itu seadanya, tidak memasang target.  Tetapi kalau urusan dunia, selalu punya target.  Misalnya saja, saya kerja satu tahun, minimal harus bisa beli mobil, kerja dua tahun beli rumah, dst.  Dalam berbisnis juga begitu, ada target.  Kalau orang pasang target, ia berusaha untuk memenuhi target itu.  Sekolah juga begitu, ada target, 6 tahun lulus SD, 3 tahun berikutnya lulus SMP, dst.  Tetapi untuk urusan akhirat, adakah kita punya target?  Misalnya, dalam satu tahun harus bisa baca Qur’an, tahun depan khatam, tahun depannya khatam terjemahannya, tahun depannya paham dan tafsirnya.  Adakah seperti itu?  Dalam ibadah shalat, misalnya, adakah targetnya?  Dalam infak, adakah targetnya?  Tahun ini sekian persen, 2,5%, tahun depan 10%, tahun depannya 20%, dst.  Dalam dunia barat, ini dinamakan pajak progresif, makin tinggi penghasilan, makin besar pajaknya; makin besar penghasilan, makin besar infaknya dan sedekahnya.

Insya Allah kalau seperti ini, semangat ibadah  kita akan lain.  Tetapi kalau tidak pasang target, “Ya sudah nggak apa-apa, asal masuk surga”.  Akhirnya tidak punya target, akhirnya malas, ibadah seadanya.  Coba di kantor tidak dipasang target, bekerja akan malas, pimpinan pusing.  Tetapi kalau ada target, akan semangat bekerjanya.  Jadi, kalau untuk akhirat kita punya target, maka semangat juangnya akan beda.  Tetapi target itu harus sesuai dengan kemampuan kita.  Buat target yang kita bisa mencapainya, misal: tahun depan saya hafal setengah jus, tahun depannya satu jus, tahun depannya satu jus lagi, dst.  Jangan targetnya: tahun depan harus hafal 30 jus.  Allah berfirman:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Nabi menyatakan bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin.  Tetapi kalau tidak punya target, akan sama saja.

 5.  Kurangnya semangat keberjamaahannya 

Kita itu kurang dalam semangat keberjamaahan.  Kita punya jamaah, bukan jamaah yang sebenarnya.  Istilah jamaah itu berbeda dengan kumpul-kumpul yang dalam bahasa Arab disebut tajamu’, belum jamaah.  Kalaun jamaah itu ada segi-segi positifnya.  Kita ini belum jamaah, tetapi kumpul-kumpul; ibarat naik bus bareng, turunnya masing-masing.  Ini hanya sekedar kumpul-kumpul.  Memang mungkinmereka saling kenal, tetapi pertemuan itu tidak ada artinya.  Kalau jamaah bukan sekedar berkumpul dan saling kenal, lebih dari itu; saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  Allah berfirman:

dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ada temannya yang imannya mulai turun, drop, ditarik lagi.  Tetapi sering kali antara kita bahkan tidak saling kenal, meskipun sering bertemu pada shalat, pengajian, dll.  Selesai, terus pulang, tidak saling kenal.  Padahal dalam shalat berjamaah, dilaksanakan dengan tubuh/bahu yang saling menempel.  Oleh karena itu imam dalam shalat berjamaah menyuruh makmum agar merapatkan barisan “Showwuu shufuufakumi …..”.  tetapi hanya sekedar itu, tidak tahu maknanya.  Bahkan dikiranya itu doa sebelum shalat.  Bahkan ada yang shalat sendiri membaca “Showwuu shufuufakum…”.  Ini karena tidak tahu maknanya.  Demikianlah, karena kita kurang memahami kamna jamaah, maka rasa keberjamaahan kita belum muncul.  Padahal rasulullah berhasil itu karena berhasil dalam membangun jamaah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: