11 September

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 11 SEPTEMBER 2005

   HUKUM ISLAM:

(Lanjutan)

TAHAPAN-TAHAPAN PENERAPAN HUKUM ISLAM

Oleh : Ustadz Sambo

Ada tahapan-tahapan yang mesti dilakukan dalam penerapan hukum Islam, tidak ujug-ujug dilakukan: semua pencuri dipotong tangannya, semua penzinah dijilid/dirajam.  Tidak semudah dan secepat itu .  Dalam penegakkan hukum Islam, ada tahapan-tahapannya.  Hukum Islam itu tidak diperlakukan semuanya secara sama dam satu waktu.  Seperti yang telah dibahas pada minggu yang lalu, diterangkan dalam contoh tentang pencurian dan perzinahan, digunakan kata-kata pencuri dan penzinah, tetapi kalau membunuh orang digunakan kata “orang yang membunuh” (man).  Dari kata/kalimat yang berbeda menghasilkan hukum yang berbeda pula.

Tahapan-tahapan yang perlu dilakukan adalah : (1) Dakwah (sosialisasi), (2) Pencitraan, (3) Simulasi, dan (4) Penerapan Total.

 1.  Dakwah (sosialisasi) 

Dakwah dilakukan supaya masyarakat sadar, agar mengerti tentang Islam.  Dakwah yang dilakukan adalah dakwah yang berkaitan dengan : (1) akidah, (2) ibadah, (3) akhlak, (4) muamalah, dan (5) pidana.

Pada jaman nabi, dakwah masalah akidah itu dilakukan pertama kali, sedangkan masalah ibadah adalah belakangan.  Shalat, misalnya, baru diwajibkan pada tahun ke 10 kenabian, puasa dan zakat pada tahun ke 15 kenabian.  Bahkan zakat baru ditegakkan kewajibannya 2 tahun setelah rasulullah meninggal.  Haji diwajibkan pada tahun meninggalnya rasulullah, baru dikerjakan oleh para sahabat.  Oleh karena itu disebut haji wada’.  Jadi, yang pertama dilakukan adalah dakwah yang berkaitan dengan akidah, ibadah dan akhlak lebih dulu.  Artinya, kalau orang akidahnya sudah baik, akan mudah melaksanakan yang lain-lain.  Ini akidahnya masih hancur,  ibadah masih rusak; bagaimana bisa memulai dengan yang lain?  Jangan sampai tiba-tiba diberlakukan hukum: potong tangan, prek!  Kalau akidahnya masih rusak, akhlak masih seperti ini, hukum itu belum diberlakukan secara penuh.

Ada satu cerita ketika Aisyah ditanya, “Bagaimana Islam itu datang?”.  Kata Aisyah, “Islam datang dimulai dengan masalah akidah/ketuhanan.  Kalau seandainya Islam datang dengan masalah halal-haram, tidak ada pemeluk Islam”.  Karena, masyarakat jahiliyah itu yang namanya penyakit perbuatan haram itu sudah mendarah daging.  Mabuk, riba, itu sudah biasa.  Bahkan kalau kita lihat, Umar bin Khatab itu tukang mabuk, sampai di Madinah pun ia masih menjadi tukang mabuk.  Dalam sirah disebutkan ketika diharamkan mabuk, yang paling banyak tumpahan minumannya adalah di rumah Umar bin Khatab.  Pertama kali Islam datang, yang diperkenalkan adalah Laa ilaaha illallaah.  Itu dulu yang disampaikan kepada masyarakat.  Kalau akidah sudah lurus, ketaatan kepada Allah sudah lurus, baru masalah ibadah, baru muncul hal-hal lain yang berkaitan dengan hukum.  Dakwah ini adalah masalah sosialisasi.  Yang dikedepankan adalah masalah dakwah.  Dalam fiqih, fiqhud da’wah dilakukan pertama kali daripada fiqh-fiqh yang lain. 

Kadang-kadang suatu masalah mestinya dilarang, tetapi karena masih dalam tahap dakwah, dibolehkan.  Ada orang mabuk, misalnya, tidak langsung dilarang mabuk, tetapi disuruh dulu shalat; tidak langsung “Jangan mabuk kau!”.  Suruh shalat dulu.  Ada seorang sahabat datang kepada rasulullah, “Ya rasulallah, tolong ajarkan saya Islam!”.  Dijawab, “Jangan bohong!”.  Ada lagi yang datang, “Tolong ajarkan saya Islam”.  Dijawab, “Jangan marah!”.  Bahkan ada yang datang, “Ya rasulallah, ajarkan saya Islam, tapi tolong jangan larang saya berzina, jangan larang saya mencuri, dan jangan larang saya menjalankan riba”.  Kata nabi, “Jangan bohong!”.  Ketika ia mau mencuri, misalnya, ia mikir, “Nanti kalau ketemu nabi, ditanya: ‘Habis ngapain kau?’, saya kan tidak boleh bohong”.  Akhirnya tidak jadi mencuri.  Mau zina juga demikian, takut kalau habis zina ditanya, sebab tidak boleh bohong.  Akhirnya, dengan tidak berbohong itu, perbuatan-perbuatan lain yang bertentangan dengan aturan tidak dilakukan.  Berbeda kalau langsung dikatakan, “Kau jangan mencuri, jangan berzina, …”  Lewat dia, tetap dikerjakan.  Memang itu dilarang, tetapi karena ini dakwah, maka ada yang ditunda (pending) dulu, bukan diperbolehkan.  Kalau ditanya, “Bagaimana ustadz kalau saya berzina?”, bukan dijawab, “Silahkan!”, tetapi ditunda dulu.  Prioritas pertama adalah akidah, lalu ibadah. 

Pada waktu rasulullah mengutus Mu’az bin Jabal ke Yaman, pertama yang diajarkan adalah syahadat.  Sesudah itu suruh shalat, baru suruh zakat, lalu suruh puasa.  Itu menunjukkan bahwa untuk melakukan sesuatu itu perlu tahapan-tahapan.

 2.  Pencitraan 

Setalah masyarakat sadar, akidah sudah mulai kuat, ibadah benar, akhlak baik; cepat atau lambat akan mengarah pada hukum.  Tetapi kalau akidah masih rusak, ibadahnya masih hancur, maka sulit untuk mengarahkan pada penerapan hukum.  Contoh paling konkret adalah TV, acara-acara apa yang ada di TV?  Masih banyak tayangan-tayangan yang manyangkut syirik: ‘memburu hantu’, dll.  Kini sudang mending diimbangi dengan “takdir ilaahi’, ‘astagfirullah’, dll.  Dulu, acara-acara TV didominasi acara-acara yang berbau kemusyrikan: ‘gentayangan’, ‘ada setan’, macam-macamlah.  Kini trend-nya sudah mulai meninggalkan hal-hal seperti itu.

Setelah akidah mulai baik, ibadah sudah lurus, akhlak sudah baik, mulai masuk hukum-hukum.  Ini pun baru sosialisasi dan membuat citra buruk perbuatan melanggar hukum.  Pencitraan ini menjelaskan betapa buruknya perbuatan zina, perbuatan mencuri, dll.  Bahkan dalam beberapa hukum dalam Al Qur’an, dimulai dari citranya dulu.  Sebagai contoh adalah masalah khomr (arak).  Pencitraan pertama dimulai dalam surat Al Baqarah (2) : 219:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,

Ayat tersebut mencitrakan bahwa khomr itu buruk, mulai dari pencitraan buruk terhadap perbuatan-perbuatan negatif, mulai dilakukan kampanye-kampanye, buat iklan-iklan betapa buruknya perbuatan negatif itu melalui berbagai media.

Seiring dengan itu, mulai menutup pintu-pintu masuk perbuatan yang negatif, tutup pintu-pintu maksiyat.  Contoh: pintu judi dan pencurian mulai ditutup dengan: jangan ada pengangguran, tutup pintu kemiskinan.  Untuk zina, tutup dengan suruh perempuan menutup aurat, tutup tayangan-tayangan yang bersifat pornografis.  Jangan seperti sekarang, kalau esek-esek boleh asal di atas jam 11 malam.  Kan bisa saja anak-anak nonton sampai larut malam.  Kalau di rumah TV-nya ada tiga, masing-masing kamar ada TV-nya, bagaimana mengawasinya?  Jadi, seiring dengan sosialisasi dan pencitraan buruk perbuatan maksiyat, mulai tutup pintu-pintu yang mengarah pada kemaksiyatan.  Karena, percuma kalau mau potong tangan, sementara kemiskinan merajalela.  Pasti banyak orang yang terpotong tangannya.  Bagaimana kita mau potong tangan orang yang lapar?  Padahal mereka mencuri itu gara-gara lapar.  Maka dalam Islam, sebelum hukum diterapkan, harus disiapkan dulu kondisinya.

Dalam ayat di atas, perbuatan maksiyat pertama yang pertama dicitrakan buruk adalah khomr dan judi.  Karena, dua hal tersebut adalah penyakit yang paling parah terjadi pada masyarakat jahiliyah.  Tahapan berikutnya tentang khomr ini adalah dijelaskan dalam surat An Nisaa’ (4) : 43:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

Ternyata setelah dicitrakan buruk, para sahabat masih banyak yang mabuk.  Ayat tersebut asbabun nuzulnya adalah Ali bin Abi thalib yang mabuk.  Diriwayatkan, Ali mabuk lalu menjadi imam shalat maghrib.  Yang dibaca adalah surat Al Kaafiruun (makanya sekarang banyak orang yang kalau shalat maghrib bacaan suratnya adalah surat Al Kaafiruun).  Surat itu ayatnya dibaca berkali-kali, tidak selesai-selesai, seharusnya laa a’budu maa ta’buduun dibaca menjadi a’budu maa ta’buduun.  Jadi, dibalik-balik dan putar-putar tidak selesai-selesai:

Jadi, setelah dimulai dengan pencitraan buruk mabuk, lalu dilanjutkan dengan larangan mabuk pada saat shalat.  Bukan dilarang mabuk secara total dulu, tetapi dilarang mabuk pada waktu shalat.  Ada tahapan-tahapannya.  Oleh karena itu biasanya mabuk itu dilakukan setelah shalat pada waktu antar shalat yang panjang, seperti habis shalat Isya atau habis shalat shubuh.  Sedang waktu antara ashar dan magrib lalu isya, tidak mabuk karena waktunya pendek.  Pagi-pagi mabuk atau malam hari mabuk.  Yang namanya mabuk pada waktu itu adalah suatu kebanggaan.  Bahkan seseorang dipandang hebat kalau paling banyak minumnya.  Seperti kalau di sini adalah tradisi di kampung Baliem (irian), siapa yang paling banyak minum tetapi belum mabuk, ia yang paling hebat dan ini bisa dijadikan taruhan.  Makanya melarangnya tidak gampang, karena sudah mendarah daging.

Akhirnya mabuk itu dilarang secara total dengan diturunkannya surat Al Maidah (5) : 90 – 91:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Sekarang kalau ingin menerapkan hukum, lakukan tahapan-tahapan itu: perlu dakwah dan propaganda dulu.  Untuk masalah yang baik saja bisa dipropagandakan menjadi buruk, apalagi yang buruk.  Jadi, propagandakan dulu keburukan-keburukannya.  Propagandakan juga kepada orang-orang non muslim.

Contoh lain adalah masalah riba, di mana pelarangannya juga dilakukan secara bertahap.  Pertama kali dilakukan pencitraan bahwa riba itu adalah hal yang buruk, seperti difirmankan oleh Allah pada surat An Nisaa’ (4) : 160 – 161:

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

Stelah dicitrakan bahwa riba itu adalah sesuatu yang buruk, maka tahap berikutnya adalah dilakukan pencelaan terhadap perbuatan riba.  Allah berfirman dalam surat Ar Ruum (30) : 39:

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

Setelah dicela, mulai diberitahukan betapa buruknya riba, mulai dilarang dalam arti larangan kalau banyak (Ali Imron (3) : 130 – 131) :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.  Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.

Pencitraan negatif dilakukan lalau diikuti larangan untuk yang berat-berat.  Kalau masih ringan-ringan : boleh.  Tahapan berikutnya adalah pelarangan 100% (larangan total), sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah (2) : 275 – 279:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Tahapa ini adalah larangan total, biarpun sedikit: 10%, 5%, atau 0,5%; tetap dilarang.  Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa akan dikumandangkan perang oleh rasulullah kepada orang-orang yang melakukan riba.  Mengapa ada tahapan-tahapan itu?  Karena Allah tahu masalah riba ini sudah mendarah daging yang tidak mungkin merubahnya secara mendadak.  Berapa lama waktu yang diperlukan?  Diserahkan kepada para ulama, berapa lama proses ini.  Dari penelitian bisa diketahui, misalnya, untuk sosialisasi diperlukan sekian tahun.  Jadi, mengubah kebiasaan itu tidak seperti mebalik telapak tangan. 

 3.  Simulasi 

Tahap selanjutnya adalah simulasi hukum: mulai dibuat ta’dzir (peringatan).  Seperti di Aceh, itu sudah pada tahap ta’dzir, tetapi belum hukum sepenuhnya.  Seharusnya pencuri dipotong tangan, tetapi baru dicambuk.  Kalau ada orang mencuri mengatakan/mengaku dengan sebenarnya, “Syaa baru sekali ini mencuri”, ia kena hukuman cambuk sekian kali, misalnya 5 kali cambuk.  Ini ta’dzir sebagai peringatan, yaitu hukuman tetapi belum penuh.  Kalau langsung dilakukan hukuman sepenuhnya, bisa terjadi gejolak.  Ini tidak dapat diketahui, berapa lama waktu yang diperlukan untuk simulasi ini. 

Seiring dengan itu, sistem hukum diperbaiki dan pintu maksiyat ditutup semua.  Bagaimana bisa men-ta’dzir, sementara pintu maksiyat masih terbuka.  Karena, orang kena hukum itu bukan karena keadaan, tetapi karena dasarnya/sifatnya.  Ta’dzir itu dibuat agar orang jera.  Makanya pelaksanaan ta’dzir itu dilaksanakan secara terbuka dan diumumkan, dilaksanakan di masjid jami’, setelah shalat Jum’at.  Berbeda dengan hukum positif, hukuman itu tidak boleh dinampakkan.

 4.  Penerapan Total 

Dalam penerapan hukum, tidak semua diterapkan secara total, secara bersamaan dalam satu waktu; ada yang diterapkan penuh dan ada yang belum.  Mungkin masalah pembunuhan 100%, yang lain belum 100%.  Kalau hukum Islam yang diterapkan di Aceh, misalnya, belumdapat diyakini bisa diterapkan penuh dalam waktu 10 tahun.  Apalagi di sana terjadi kekacauan.  Syukurlah sekarang terjadi kesepakatan perdamaian, sehingga sosialisasi dan simulasi hukum bisa dilaksanakan makin cepat.  Karena, hukum tidak berlaku kalau terjadi kekacauan.  Mungkin untuk khomr, memakai tahapan-tahapan seperti ayat di atas.  Demikian juga untuk riba.  Itu diserahkan kepada para ulama dan hakim yang menguasai maslah itu, mana yang harus didahulukan, mana yang harus ditunda.

Kalau orang mengetahui tentang tahapan-tahapan ini, maka tidak akan ada orang yang menolaknya, kecuali memang orang itu sifatnya suka melanggar hukum.  Mulai sekarang kita tanamkan bahwa hukum Islam harus tegak di bumi Indonesia ini, tetapi kita tidak boleh manfikan tahapan demi tahapan ini.  Kadang-kadang ada orang yang mengatakan, “ustadz, hukumislam harus ditegakkan; kalau tidak, kita termasuk golongan orang yang kafir!”.  Saya setuju!  Tetapi tahapan-tahapan itu harus dilakukan.  Orang tersebut bisa menjalaninya, tetapi masyarakatnya belum siap.  Kalau itu dilaksanakan, bisa merobohkan hukum itu sendiri.  Jangan sampai, tahapan-tahapan itu belum dilakukan, hukum diterapkan, maka kita akan merusak hukum itu sendiri.

Insya Allah, kalau kita mulai seperti ini, mulai dengan kajian-kajian melalui dakwah, maka hukum Islam akan tumbuh, ibarat tumbuhan yang sudah mulai terlihat tunasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: