11 Desember

MASJID AL FALAH YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 11 Desember 2005

TAFSIR SURAT AL BAQARAH : 53

 Oleh : Ustadz Sambo  

Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.

Ayat 53 Surat Al Baqarah adalah lanjutan cerita tentang Bani Israil yang dijelaskan mulai dari ayat 42, baik Bani Israil sebelum jaman Nabi dan Bani Israil pada jaman Nabi, bahkan sifat-sifat tersebut masih terwariskan sampai sekarang. 

Israil itu adalah Nabi Ya’qub.  Ia mempunyai 12 anak, anak pengais bungsu namanya Yusuf, yang paling akhir namanya Bunyamin.  Ada yang di tengah-tengah, namanya Yehuda.  Dialah yang keturunannya paling banyak dan paling dominan, menjadi keturunan Yahudi.  Jadi, Yahudi itu adalah bagian dari Bani Israil, merkea menjadi keturunan yang dominan.  Kalau bangsa Indonesia ini kita anggap sebagai suatu keturunan, maka mungkin Bangsa Jawa-lah padanannya (kira-kira begitu).  Ayat ini menceritakan bagaimana nikmat Allah yang begitu banyak telah diberikan kepada Bani Israil.

Salah satu nikmat terbesar yang diberikan kepada Bani Israil adalah bahwa para nabi turun kepada mereka dan jitab suci terbesar itu juga pada mereka.  Kitab suci itu kan ada empat, yaitu: Taurat, Zabur, Injil, dan Al Qur’an.  Sebagian besar nabi (lebih dari 70 nabi) diturunkan untuk mereka.  Padahal untuk kaum yang lain hanya satu nabi.  Tiap satu kaum, satu nabi.  Bangsa Indonesia ini mungkin dulu ada nabinya, kita tidak tahu, wallaahu a’lam.  Jadi, untuk satu kaum satu nabi, kecuali untuk Bani Israil satu kaum tetapi nabinya banyak banget, beih dari 70 orang.  Setiap tahun dulu nabi diturunkan kepada mereka.  Kita tahu bahwa tugas nabi adalah sebagai pemberi kabar gembira kepada umat manusia, setiap nabi untuk satu kaum.  Tetapi khusus untuk Nabi Muhammad SAW, ia bukan untuk satu kaum, tetapi untuk seluruh umat manusia.  Oleh karena itu untuk Bani Israil ini spesial, khusus, banyak nabi yang turun kepada mereka.  Kitab suci pun banyak yang turun kepada mereka.

Pada ayat 49 diceritakan tentang nikmat Allah yang diberikan kepada mereka.  Nikmat yang pertama yang diberikan kepada mereka adalah berkaitan dengan lolosnya mereka dari kepungan Fir’aun.

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Bani Israil itu ditindas oleh Fir’aun.  Kalau kita membaca sejarah, Israil itu kan di Palestina (Nabi Ya’qub di Palestina), punya anak bernama Yusuf.  Yusuf dibawa ke Mesir, lalu ia menjadi penguasa di Mesir, menjadi “Menteri Pertanian”.  Kita mengetahui bagaimana ia dimasukkan ke dalam sumur dan diselamatkan oleh kafilah lalu dijual di Mesir.  Setelah ia menjadi penguasa di Mesir, 12 orang saudaranya itu dibawanya ke Mesir, mereka menjadi imigran di Mesir.  Karena penguasanya pada waktu itu adalah Nabi Yusuf, tidak ada masalah mereka menjadi Imigran di Mesir.  Akhirnya, mereka beranak pinak, kemudian muncullah raja yang paling berkuasa ketika itu, sangat dominan dan kejam, yaitu Fir’aun.  Pada jaman Fir’aun (Ramses II) ini, mulailah penindasan-penindasan dilakukan terhadap Bani Israil.  Mereka dianggap kelas “dua” (mungkin kalau di Amerika, Bani Israil itu ibarat negronya), mereka dijadikan budak.

Ayat 49 menerangkan pula bahwa mereka membunuh anak-anak laki-laki dan menghidupkan anak-anak perempuan.  Ada yang menyatakan bahwa kata “yustahyuuna” pada ayat tersebut bukan “menghidupkan”, tetapi “mempermalukan (dari kata istahya = malu) perempuan-perempuan.  Artinya apa ?  Perempuan itu dijadikan pembantu, ibarat sekarang TKW-TKW-nya Bani Israil.  Karena ditindas itu, Allah menyelamatkan mereka dari cengkeraman Fir’aun.  Fir’aun dan bala tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah.  Laut merah itu menghubungkan Mesir dan Palestina. 

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.

Setelah mereka selamat, ayat 51-nya menceritakan tentang nikmat bahwa Nabi Musa mendapat wahyu.  Selama 40 hari ia mendapat wahyu Taurat. 

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.

Kita tahu bahwa Taurat itu turunnya sekaligus.  Semua kitab suci itu turun sekaligus, kecuali Al Qur’an yang tidak turun sekaligus.  Karena, semua nabi itu pandai membaca.  Nabi Musa itu pandai membaca, karena dididik oleh Fir’aun.  Hanya Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca.  Makanya turunnya Al Qur’an itu lain, bertahap.  Kalau kitab suci yang lain sekaligus turun, berupa catatan-catatan, lembaran-lembaran: shuhuf Musa, shuhuf Ibrahim, dll.  Tetapi kalau Al Qur’an tidak dibaca, tetapi dihafal.  Lagi-lagi, celakanya Bani Israil, sudah diberi nikmat begitu banyak: diselamatkan dari Fir’aun, setelah Nabi Musa pergi menghadap Allah untuk mendapat Taurat, mereka menyembah anak sapi.  Pada waktu itu yang tinggal adalah Nabi Harun.  Ada orang yang bernama Samiri yang mengajarkan mereka (Bani Israil) untuk menyembah anak sapi itu.  Anak sapi itu terbuat dari emas dan ia pandai ngomong.  Itu yang mereka sembah.  Setelah Nabi Musa kembali, ia marah karena umatnya menyembah anak sapi itu.  Ia marah sampai menarik jenggot Nabi Harun, “Mengapa kau biarkan orang-orang menyembah anak sapi?”.  Nabi Harun mengatakan bahwa ia khawatir kalau dilarang akan terjadi perselisihan.

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”.

  Karena baiknya Allah, meskipun mereka menyembah anak sapi, masih dimaafkan. 

Kemudian sesudah itu Kami ma`afkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur.

Dosa-dosa mereka karena menyembah anak sapi dimaafkan oleh Allah supaya mereka bersyukur. 

Ayat ke-53-nya membahas tentang ahli kitab supaya mereka mendapat petunjuk.

Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.

Kata yang digunakan dalam ayat tersebut adalah “Kami berikan”, artinya kitab suci itu datang dalam bentuk “utuh”.  Kalau “diturunkan”, memakai kata “anzala” atau “unzila”.  Tetapi untuk ini digunakan kata “aatainaa”.  Dari sini kita tahu bahwa kitab Taurat itu “diberikan” kepada Nabi Musa dalam bentuk sekaligus.  Tetapi kalau Al Qur’an tidak dengan kata “aatainaa”, tetapi selalau dengan kata “anzalnaa”, artinya “Kami turunkan”.

Fungsi Al Kitab

Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa fungsi Al Kitab itu banyak.

 1.  Pelajaran (mau’idhoh)

Sebagai pelajaran, Al Kitab dijelaskan dalam surat Yunus (10) : 57:

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Semua kitab suci fungsinya adalah sebagai pelajaran bagi manusia.  Apa maksudnya sebagai pelajaran?  Artinya, cara Allah mengajari manusia itu melalaui kitab suci.  Jadi, kalau mau “berguru” langsung kepada Allah, maka pelajarilah kitab suci.  Dengan kitab suci itu Allah mengajari manusia.  Makanya salah satu nama Allah adalah rabb, yang salah satu artinya adalah pendidik, atau istilah lainnya murobbi, artinya yang pengajar.  Jadi, kalau mau “berguru” langsung kepada Allah, pelajarilah Al Qur’an.  Tentu saja tidak ujug-ujug langsung kita mengerti, tetapi bertahap, melalui tahapan-tahapan, mulai dari yang ringan-ringan dulu (BUROQ), kemudian tata bahasanya, belajar tafsirnya, belajar balaghohnya, belajar hukum-hukum yang ada di dalamnya; masih banyak lagi dan panjang ceritanya.

 2.  Obat 

Fungsi kitab suci yang kedua adalah sebagai obat (syifa).  Yang dimaksud di sini adalah obat penyakita hati.  Obat di sini bukan dalam arti “obat yang diminum”, bukan!  Kadang-kadang orang mengartika syifa ini serba diminum: ayat suci ditulis di kertas, dibakar, lalu diminum; atau ditulis di kain ditaruh di atas suatu tempat sebagai “obat”.  Obat bagi penyakit hati itu maksudnya adalah obat rohani yang berbeda dari obat yang biasa diminum.  Kalau Al Qur’an itu tidak diminum, tetapi pertama dipelajari dulu, baru kemudian diamalkan.  Kalau semua isinya diamalkan, maka hati itu akan sembuh dari berbagai macam penyakit.

Al`Qur’an itu sebagai pelajaran, kalau kita amalkan pelajaran itu, baru ia menjadi obat.  Kalau tidak dipelajari dan tidak diamalkan, tidak akan menjadi obat.  Kalau sekedar dibaca saja, artinya tidak dipahami dan diamalkan, tidak menjadi obat!  Ia menjadi obat kalau dipelajari dan diamalkan.  Sama seperti obat biasa, kalau tidak diminum, hanya dibaca saja, ditengok saja bagaimana caranya memakai obat: sehari sekian kali, itu saja yang dibaca, tetapi tidak diminum, ya tidak akan sembuh.  Demikian pula Al Qur’an, kalau hanya dibaca, tetapi tidak diamalkan, ya tidak akan menjadi obat.

Banyak orang berpikir bahwa namanya obat penyakita hati itu adalah “obat santet”.  Ya, ada memang hadis yang menyatakan demikian, seperti surat Falaq-bin naas, ayatul kursy, ayat ashabul kahfi, dll.  Memang ada dalilnya, tetapi itu fungsi obat yang sangat kecil, cemen; dibandingkan fungsinya yang lain yang besar.  Obat santet itu hanya seuprit-nya dari fungsi obat yang lain.  Cuma kadang-kadang kita memandang yang seuprit itu jadi besaaaarrr…, seolah-olah hanya itu fungsi Al Qur’an.  Coba lihat di TV-TV, cerita-cerita tentang bagaimana memperagakan pengusiran jin/setan dengan menggunakan ayat-ayat, wah …. dengan gerakan-gerakan dan raut muka yang dibuat menyeramkan.  Coba periksa, berapa persen sih orang yang kena santet itu?  Kita jauh lebih takut disantet daripada kufur.  Disantet itu paling banter kan mati, sama dengan sakit biasa.  Umpamanya kita sakit terkena santet, apa sih yang dirisaukan?  Paling Cuma mati.  Dan, tidak ada orang masuk neraka gara-gara disantet, “Kenapa kau mati?”.  “Disantet”.  Lalu dikatakan, “Masuk neraka kau!”.  Tidak ada yang seperti itu.  Yang menyantet ya memang masuk neraka, tetapi yang disantet?  Banyak orang yang menganggap bahwa fungsi Al qur’an itu hanyat itu, sudah direduksi.  Banyak orang yang lebih takut santet, daripada setan yang menggoda.  Padahal yang paling berbahaya adalah setan yang menggoda, bukan santet!  Santet itu sebenarnya masalah cemen, dibanding yang lain (kekufuran).  Sebenarnya setan sendiri itu lemah, yang membuat ia kuat itu adalah antek-anteknya.  Antek-anteknya itu yang menakut-nakuti kita.  Setan itu sebenarnya “kecil”.  Antek-anteknyalah yang membuat provokasi bahwa setan itu hebat.  Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 175:

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

Setan itu menakut-nakuti kita melalui perantara pengikut-pengikutnya.  Jadi, yang membuat kita takut itu bukan setannya, tetapi pengikut-pengikutnya; dibuatnya acara TV bahwa setan itu mempunyai kekuatan sehingga kita takut.  Itu pengikut setan!  Dibuatnya buku-buku misteri, majalah, dll; itu semua pengikut setan!  Orang menjadi takut.  Setan itu hanya bisa (innamaa) menakuti kita melalui bala tentaranya atau pengikut-pengikutnya; ia tidak bisa menakuti kita secara langsung.  Ia menakuti kita melalui antek-anteknya bahwa setan itu mempunyai kekuatan begini-begitu.  Kalau ada orang yang menceritakan kehebatan setan, ia itu kawan setan!  Kalau orang itu musuh setan, ia akan bilang bahwa setan itu cemen!  “Tetapi ustadz, ia bisa begini-begitu!”.  Nah, “Kau kawan setan juga!”.  Pada ayat itu dilanjutkan dengan “jangan takut”, hanya takutlah kepada Allah, kalau benar-benar ia beriman.  Jangan takut setan!  Acara-acara TV itu termasuk kawan setan! 

Jadi, fungsi kitab suci itu adalah sebagai obat (hati), jangan takut setan!  Kalau kita takut, kita jadi kawan setan.

 3.  Petunjuk (Hudan) 

Setelah penyakit hati tersembuhkan, baru muncul hidayah.  Setelah kita mengamalkan, penyakit-penyakit sudah mulai berguguran, baru hidayah itu mulai tertanam.  Kalau Qur’an tidak dipelajari, tidak mampu mengurangi/mereduksi penyakit-penyakit hati, maka petunjuk itu tidak akan datang.  Petunjuk itu hanya datang kepada orang yang hatinya sudah “hidup”.  Kalau masih sakit, tidak akan datang!  Dalam ayat lain disebutkan:

supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) (Yaasin: 70) 

Sesungguhnya Al Qur’an itu memberi peringatan kepada yang hidup.`yaitu orang yang hatinya “hidup”.  Bagi orang yang hatinya “mati”, tidak bisa.  Kalau orang tidak pernah lepas dari kemaksiatan dan kefasikan, sulit untuk mendapat hidayah.  Allah berfirman:  Innallaaha laa yahdi qaumal faasqiin.  Innallaaha laa yahdi qaumadh dhoolimiin.

Artinya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang banyak dosa, yang dholim.  Biar dia muslim, mengaku muslim, tetapi dia dalam keadaan fasik dan dholim, ia tidak dapat petunjuk.  Orang yang ada pada dirinya kedengkian, kesombongan, tamak, kerakusan; itu semua termasuk penyakit hati, harus dikikis.  Kalau sudah dikikis, datanglah petunjuk.

 4.  Rahmat 

Kalau sudah datang petunjuk, kalau hati sudah mulai bersih, baru rahmat turun.  Rahmat itu bahasa kitanya adlah manfaat, manfaatnya terasa betul.  Ayat 53 Surat Al Baqarah ujungnya adalah rahmat, kasih sayang Allah.  Makanya untuk mencari kasih sayang Allah itu tidak “gratis”, tetapi melalui proses.  Rahmat di sini bukan dalam arti rejeki.  Rahmat itu dibagi dua: rahmat umum dan rahmat khusus.  Rahmat umum, semua kita mendapatkannya, seperti sehat, rejeki, hidup, dll.  Rahmat khusus itu seperti: pertolongan, ketenangan, kebahagiaan, kedamaian, dll.  Allah berfirman dalam surat Al A’raaf (7) : 156:

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”.

Rahmat itu tidaka datang dengan sendirinya.  Ia mesti dicari, ia mesti diundang.  Cara mengundang rahmat melalui Al qur’an, yaitu mengamalkannya.

Petunjuk diberikan kepada orang yang mengamalkan kitab suci.  Ini yang tidak dimiliki Bani Israil, akhirnya mereka bukannya mendapat petunjuk, tetapi malah disalahgunakan.  Bagaimana cerita Bani Israil selanjutnya?  Insya Allah kita lanjutkan minggu depan.  Amin.

   

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: