PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 27 Juli 2008

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 27 Juli 2008

TAFSIR SURAT AL BAQARAH : 94-96 (Lanjutan)

Mudhorot Cinta Dunia (Lanjutan)

Ustadz : Sambo

clip_image002

Telah kita kaji tentang berbahayanya kecintaan kepada dunia, bahwa cinta dunia itu merupakan sumber segala dosa besar (akbarul kabair), bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan, karena cinta dunia juga bisa menyebabkan takut berjuang, takut menyampaikan kebenaran, termasuk juga takut melakukan kebenaran. Untuk kelompok yang pertama hingga ketiga barang kali kita tidak termasuk di dalamnya (tidak melakukan dosa besar, tidak menghalalkan segala cara); tetapi bisa jadi kita termasuk kelompok orang yang tidak berani menyampaikan kebenaran. Kalau dulu ada istilah “ekstrem”, kemudian istilah itu berganti menjadi “fundamentalis”, dan sekarang berganti lagi menjadi “teroris”. Kita bisa jadi takut disebutkan menjadi kelompok itu, karena berani menyampaikan kebenaran. Pada tahun 80-an hingga 90-an, jarang para ibu yang mengenakan jilbab, tetapi sekarang sudah mulai berani. Pada waktu itu memakai jilbab itu berat resikonya. Bahkan di kantor-kantor tertentu tidak boleh laki-laki memelihara jenggot. Jadi, bisa jadi di antara kita kurang berani mengungkapkan kebenaran.

Kalau ketidakberanian mengungkapkan kebanaran itu karena strategi, maka hal itu masih bisa ditolerir; tetapi yang sering kali bukan karena strategi, tetapi karena memang takut. Bahkan kadang-kadang menyebut “Allah” pun tidak berani, dikatakannya “Tuhan Yang Maha Kuasa”. Mengapa begitu? Kalau menyebut ”Allah”, takut disebut teroris. Demikian pula menyebut ”Assalaamu’alaikum” saja juga takut-takut, masih ditambahi dengan ”Salam sejahtera bagi kita semuanya”; mengapa harus ditambahi seperti itu? Bukankah dengan ucapan salam itu sudah cukup? Sering kali kita lakukan itu karena takut dianggap sebagai kelompok ekstrem. Apa sebenarnya ekstrem itu? Ekstrem itu adalah mengerjakan sesuatu secara berlebih-lebihan, tetapi kalau menyampaikan kebenaran itu bukanlah sesuatu yang ekstrem. Kalau seseorang melakukan shalat malam sampai tidak tidur, maka itu disebut ekstrem. Orang berpuasa sampai tidak berbuka, itu juga ekstrem. Tetapi kalau menyampaikan sesuatu yang wajar, maka itu bukanlah ekstrem. Pada kajian ini akan kita lanjutkan membahas bahayanya cinta dunia.

4. Ibadah menjadi tidak nikmat

Bisa jadi kita tidak termasuk kelompok sebagaimana disebutkan di atas, tetapi cinta dunia bisa menyebabkan beribadah menjadi tidak nikmat, tidak khusyu’. Ketika shalat, misalnya, yang diingatnya adalah dunia saja: semua yang lupa menjadi teringat, semua yang hilang menjadi ketemu. Dalam shalat itu bisa jadi merancang semua kegiatan yang akan dilakukan. Seorang ibu, bisa jadi, dalam shalat itu memikirkan belanjaan: nanti akan belanja ini-itu; begitu salam menoleh ke kanan dan kiri, ”belanjanya” selesai! Dalam shalat yang hanya beberapa menit itu itu ”sangat efektif” merancang semua kegiatan. Itulah dampak dari cinta dunia, ibadah menjadi tidak nikmat. Misalnya lagi, ketika umroh atau berhaji, gara-gara cinta dunia menjadi tidak nikmat: inginnya belanja saja, pekerjaannya kirim sms atau bertelepon ria.

Hati itu sangat mudah atau lebih sering mengingat sesuatu yang lebih ia cintai. Kalau kita sering mengingat sesuatu, berarti kita makin cinta terhadap sesuatu itu. Kalau ketika shalat, yang teringat adalah dunia, bukan ingat Allah, berarti kita lebih cinta dunia. Kalau kita lebih mengingat isteri orang daripada isteri kita, berarti lebih cinta isteri orang. Dengan demikian sebenarnya mudah untuk mengukur kecintaan itu, mana yang lebih mudah diingat atau lebih sering diingat, maka itulah yang lebih dicintainya. Kalau kita shalat yang diingat adalah masalah dunia, berarti kita lebih mencintai dunia. Kalau kita sulit khusyu’, bisa jadi itu karena cinta dunia. Itulah hati! Allah berfirman dalam surat Al Ahzab : 4:

clip_image002 

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

Allah tidak menjadikan hati manusia itu terbagi dua yang sama besar. Tidak ada cinta yang fifty-fifty, pasti ada yang lebih; apalagi cintanya masing-masing 100%: cinta Allah 100% dan cinta dunia juga 100%. Cintanya kepada anak kandung dengan anak angkat pasti berbeda. Cintanya seseorang terhadap isteri dan orang tua, juga pasti berbeda. Secara perlakuan fisik bisa jadi sama, tetapi dalam hati pasti ada perbedaannya. Termasuk juga kecintaan kepada Allah, tidak ada yang cintanya kepada Allah 100% dan cinta juga kepada dunia 100%, pasti ada yang lebih besar. Kalau yang lebih dicintai adalah dunia, maka yang mudah teringat adalah masalah dunia. Inilah barang kali yang sering terjadi pada diri kita, oleh karena itulah mengapa kita sulit shalat khusyu’, sulit menjalankan ibadah. Kita kalau shalat inginnya cepat-cepat. Mengapa? Supaya bisa mengerjakan kesibukan yang lainnya. Bisa jadi kita masih sering beribadah, masih shalat; tetapi pada level tertentu, pada tingkatan kualitas, hal ini adalah tidak baik. Mengapa? Karena orang yang selamat itu bukan hanya sekedar beribadah, tetapi ibadahnya juga harus khusyu’ dan benar, bukan sekedar mengerjakan. Allah berfirman dalam surat Al Ma’uun: 4-5:

 

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

Orang yang selamat itu adalah yang mengerjakan dengan benar dan khusyu’, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Mukminun:

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,

Memang semuanya sama-sama shalat, sama-sama beribadah; tetapi yang satu saahuun (lalai) dan yang satu khusyu’. Yang satu bahagia, sukses, mendapat al falaah dan yang satunya lagi celaka (al wail). Al musholliin itu adalah orang yang rajin shalat (tukang shalat) atau rajin ibadah. Orang yang rajin shalat saja bisa celaka, apalagi orang yang tidak shalat, lebih celaka lagi! Dua ayat tersebut menerangkan orang yang sama-sama rajin ibadah, orang yang sama-sama rajin shalat, yang satu celaka dan satunya lagi mendapat kemenangan. Mengapa bisa begitu? Karena yang satu mengerjakannya dengan khusyu’ (mendapat kemenangan) dan yang satu lagi lalai (celaka). Kecintaan kita terhadap dunia bisa mencelakakan, walaupun kita rajin ibadah, karena cinta dunia itu bisa merusak ibadah, walaupun tidak sampai membatalkannya.

Kecintaan kepada dunia bisa menyebabkan ibadah menjadi tidak nikmat dan merusak ibadah. Ibadah itu adalah hablum minallah. Kecintaan terhadap dunia menjadikan manusia itu terhijab dengan Allah, hubungan hatinya dengan Allah terhalang. Itulah yang
menyebabkan ibadah menjadi tidak nikmat. Begitu ”Allahu akbar”, takbir, nyambungnya bukan kepada Allah, tetapi kepada dunia. Kalau manusia tidak suka mengaji, pasti suka yang lain (dunia); tidak suka membaca Al Qur’an, shalat serba cepat; pasti yang disukai adalah yang lain (dunia). Bisa jadi kita tidak meninggalkan ibadah, tetapi ibadahnya menjadi hambar. Kalau sudah parah, maka selanjutnya akan melalaikan ibadah: shalat yang biasanya tepat waktu menjadi tidak tepat waktu; sebelumnya rajin sedekah, sedekahnya yang receh-receh; tadinya rajin mengaji mulai malas. Kalau ini dibiarkan, maka akan meninggalkan ibadah.

5. Takut mati

Takut mati itu ada beberapa tingkatan. Yang paling parah adalah takut mati gara-gara ketakutan kehilangan atau meninggalkan dunia: kalau mati siapa yang akan mengurus anak, siapa yang akan mengambil hartanya, siapa yang akan mengambil isterinya? Bahkan yang parah adalah sebelum mati sudah membuat perjanjian, misalnya: kalau suaminya mati isterinya tidak boleh kawin lagi atau kalau isterinya mati suaminya tidak boleh kawin lagi. Itu tidak ada! Perjanjian itu batal! Ikatan perkawinan itu hanya pada saat masih hidup. Kalau sudah mati, urusannya selesai! Ada lagi alasannya: kalau isteri menikah lagi, nanti di surga apakah masih bisa bertemu dengan suaminya lagi? Tidak perlu memikirkan seperti itu, yang dipikirkan adalah bagaimana masuk surganya. Yang seperti itu adalah urusan Allah, bukan urusan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: